Cegah Mafia BBM, Rampeani Rachman Desak Pengawasan Ketat di SPBU Mimika

rctiplus.com
2 jam lalu
Cover Berita
Cegah Mafia BBM, Rampeani Rachman Desak Pengawasan Ketat di SPBU MimikaNasional | inews | Jum'at, 12 Juni 2026 - 13:27Dengarkan Berita

MIMIKA, iNews.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax memunculkan kekhawatiran terhadap potensi penimbunan dan penyalahgunaan BBM subsidi di Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Kondisi tersebut dinilai berpotensi terjadi seiring kemungkinan meningkatnya konsumsi Pertalite akibat selisih harga yang semakin lebar.

Anggota DPRK Mimika dari Partai Perindo, Rampeani Rachman meminta Pertamina serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Mimika memperketat pengawasan di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah praktik mafia BBM yang dapat merugikan masyarakat.

"Untuk mencegah mafia BBM, Pertamina dan Disperindag harus memperketat pengawasan di setiap SPBU. Jika data kendaraan tidak sesuai atau tidak memiliki barcode, maka pengisian BBM subsidi tidak boleh dilayani," kata Rampeani Rachman, Jumat (12/6/2026).

Baca Juga:Atap Kelas MTs Muhammadiyah di Sragen Ambrol, Belasan Siswa dan Guru Terluka

Menurut Rampeani, penerapan sistem digitalisasi dan barcode dalam program Subsidi Tepat perlu dioptimalkan agar penyaluran BBM subsidi benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak. Selain itu, pengawasan terhadap batas maksimal pengisian harian berdasarkan jenis kendaraan juga harus diperkuat guna mencegah pembelian berulang yang berpotensi berujung pada penimbunan.

Sebagai anggota Komisi III DPRK Mimika, ia menilai kenaikan harga Pertamax dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter dapat mendorong sebagian masyarakat beralih menggunakan Pertalite. Situasi tersebut dikhawatirkan dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menimbun BBM subsidi dan mengambil keuntungan dari perbedaan harga.

"Jangan sampai ada penimbunan oleh oknum-oknum yang dapat merugikan masyarakat banyak. Kalau perlu, Disperindag turun langsung setiap hari ke SPBU untuk memastikan distribusi berjalan normal dan stok tetap tersedia," ucapnya.

Menurutnya, Pertamina memiliki peran strategis dalam mendeteksi indikasi penyimpangan karena seluruh aktivitas distribusi dan pengisian BBM terekam dalam sistem. Pengisian berulang yang melebihi kuota, menurutnya, harus segera ditindak agar tidak berkembang menjadi praktik penimbunan.

Baca Juga:Mayoritas Jemaah Haji di Embarkasi Surabaya Masuk Kategori Risiko Tinggi

Dia juga menyoroti Pertalite yang dinilai menjadi sasaran utama para penimbun karena harganya lebih murah dibandingkan BBM non-subsidi. Kondisi ini berpotensi merugikan masyarakat berpenghasilan rendah yang bergantung pada BBM subsidi untuk kebutuhan sehari-hari.

Dia meminta Pertamina, Disperindag, serta aparat TNI dan Polri melakukan pengawasan dan operasi gabungan secara berkala. Selain menjaga ketersediaan stok dan kuota, langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan penyaluran BBM subsidi tepat sasaran.

“Pertamina harus bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengawal bersama agar BBM subsidi benar-benar dinikmati oleh yang berhak. Kerja sama dengan TNI-Polri juga sangat penting, karena mereka bisa membantu pemerintah daerah mengawasi distribusi BBM ini," ucapnya.

#papua

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terjawab, Ini Penyebab Antrean Truk Mengular di Sejumlah SPBU Sulsel
• 18 jam lalubisnis.com
thumb
Video: Bahlil Rapat Dengan Presiden Kemarin Malam, Ini Isi Bahasannya!
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Inovasi Pengolahan Sampah Berbasis Magot PT Vale Dihadirkan Dalam Pameran Lingkungan Internasional KemenLHK
• 19 jam laluterkini.id
thumb
Marketeers Tech for Business 2026 Bahas Strategi Digital Marketing di Era AI
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Diperiksa Soal Hanania Group, Begini Cerita Praz Teguh
• 17 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.