JAKARTA, KOMPAS.com - Dari atas, tempat itu tampak seperti gudang ban raksasa. Ribuan ban disusun membentuk lorong, persimpangan, dan bangunan-bangunan semu yang menyerupai kawasan perkotaan padat penduduk.
Namun kesan itu langsung berubah begitu kita berada di dalamnya, lorong-lorong sempit membelah dinding hitam yang menjulang tinggi.
Cahaya matahari hanya masuk dari beberapa celah, sedangkan aroma karet bercampur debu memenuhi udara.
Di depan, para prajurit Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) bergerak dalam formasi tempur, sementara kami para jurnalis berusaha mengikuti langkah mereka tanpa tertinggal.\
Baca juga: Pengertian dan Perbedaan Kopassus, Kopasgat, dan Marinir, Pasukan Elite TNI
Tak lama kemudian, sebuah aba-aba terdengar.
"Merunduk!" kata seorang prajurit Korpasgat.
Dalam hitungan detik, seluruh rombongan menempel ke dinding.
Saat itulah saya mulai memahami mengapa pertempuran kota disebut sebagai salah satu medan tempur paling rumit.
Pada Jumat (12/6/2026), Kompas.com bersama sejumlah jurnalis diajak merasakan langsung simulasi Close Quarter Battle (CQB) atau pertempuran jarak dekat yang menjadi bagian Workshop Liputan di Daerah Konflik dari Dinas Penerangan Angkatan Udara.
Baca juga: Kopasgat Kini Dipimipin Jenderal Bintang 3, Marsda TNI Deny Muis Jabat Pangkorpasgat
Sebelum memasuki arena, kami terlebih dahulu dibekali rompi taktis dan helm pelindung.
Rompi yang saya diberikan berbobot sekitar 3,5 kilogram, sedangkan helm tempurnya memiliki berat 1 kilogram.
Sementara itu, para prajurit yang mendampingi kami membawa beban yang jauh lebih berat.
Di tangan mereka tergenggam senjata laras panjang jenis *CQB Six Hours* buatan Amerika Serikat dengan bobot sekitar 4,2 kilogram.
Senjata itu terus berada dalam posisi siap tembak selama simulasi berlangsung, menambah beban yang harus mereka bawa sambil bergerak cepat dari satu titik ke titik lain.
Awalnya, kami mengira perlengkapan yang dikenakan tidak akan terlalu berpengaruh.
Anggapan itu segera berubah ketika simulasi dimulai.
Baru beberapa langkah berjalan menyusuri lorong-lorong sempit, bahu mulai terasa tertarik ke bawah.
Napas perlahan menjadi lebih pendek.
Saat harus berlari beberapa meter menuju titik perlindungan berikutnya, rompi di dada membuat gerakan terasa lebih berat.
Di depan, para prajurit tetap bergerak lincah.
Mereka menempel di dinding, bergantian menutup sektor pengamatan, lalu bergerak cepat ketika jalur dinyatakan aman.
Tidak ada gerakan yang sia-sia, tidak ada percakapan yang tidak perlu.
Baca juga: Kopassus, Kopasgat, Marinir Disebut Tak Layak Lagi Dipimpin Komandan, Harus Panglima
Berada di garis paling depan, mereka adalah breacher, prajurit pendobrak yang bertugas membuka akses masuk ke bangunan atau ruangan.
Begitu akses terbuka, personel Regu CQB lainnya bergerak masuk untuk menguasai ruangan dan mengamankan setiap sudut yang berpotensi menjadi ancaman.
Gerakan mereka berlangsung nyaris tanpa jeda.
Orang pertama masuk.
Orang kedua bergerak mengamankan sisi berbeda.
Orang ketiga menutup sektor yang masih terbuka.





