Mobil Toyota HiAce putih membawa rombongan wisatawan domestik, mayoritas lansia perempuan, tiba di Oemah Batik Lasem atau yang juga dikenal dengan Rumah Merah Heritage Lasem di kawasan pecinan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Kamis (4/6/2026). Setelah mobil berhenti, mereka bergegas turun.
Karyawan yang mengenakan seragam batik segera menyambut dengan memainkan tambur yang berpadu dengan iringan musik Tionghoa. Selanjutnya pengunjung dipersilahkan melihat proses pembuatan batik, berfoto-foto berlatar bangunan tua hingga melihat-lihat koleksi batik yang dijual.
Selain melihat proses pembuatan batik, berfoto-foto, maupun berbelanja, sejumlah wisatawan juga menyempatkan diri berbincang dengan para perajin. Mereka menanyakan seputar proses pembuatan batik. Salah satu perajin tersebut Narti.
Narti bersama tiga perempuan lansia lainnya terlihat sedang merampungkan pembuatan taplak meja batik halus. Narti melapisi lilin mengikuti motif sisik ikan.
“Satu perajin butuh waktu seminggu untuk melapisi lilin yang berguna menahan warna. Proses selanjutnya pencelupan, pewarnaan, hingga pelunturan lilin dikerjakan orang lain. Satu bulan semuanya baru selesai”, jelas Narti menjawab pertanyaan para tamu.
Narti, Perajin Batik di Lasem. Kompas/Agus Susanto
Pantulan Kaca, Perajin Batik. Kompas/Agus Susanto
Perempuan Pembatik. Kompas/Agus Susanto
Mewarnai Batik. Kompas/Agus Susanto
Karyawan yang bejaga dengan telaten memandu wisatawan yang berkunjung. Mereka membantu memberikan penjelasan tentang apasaja yang ingin diketahui pengunjung. Mulai dari sejarah batik di Lasem hingga macam-macam motif batik.
Selain karyawan yang melayani pengunjung, terlihat karyawan lain sibuk dengan telepon genggamnya. Mereka memotret dan memasukkan foto-foto tersebut ke etalase penjualan daring. Di sudut yang lain, seorang karyawan sibuk membentangkan dan membalik-balik kain batik berjualan via siaran langsung Shopee dan Tokopedia.
Lasem sendiri merupakan kawasan permukiman lama di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Wilayah di pesisir pantai utara Jawa ini dikenal memiliki tradisi batik yang unik karena pengaruh budaya Jawa dan Tionghoa yang sudah berlangsung berabad-abad.
Kawasan pecinan Lasem juga dikenal sebagai "Tiongkok Kecil". Kawasan ini dibangun sekitar abad ke-18. Wilayahnya berada di Soditan, Sumberwirang, Karangturi, Babagan, dan Gedongmulyo.
Tembok Tua Lasem
Selain melihat aktivitas pembatik dan mengangumi arsitektur bangunan tuanya, tidak lengkap ke Lasem jika tidak berkunjung ke Pasar Lasem. Selain melihat aktivitas keseharian warganya, pengunjung juga bisa berbelanja aneka makanan khas Lasem.
Pasar Lasem sendiri berada di Jalan Raya Pos yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.
Salah satu hal yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Pasar Lasem adalah menikmati kopi lelet. Warung kopi ini berada di depan Pasar Lasem. Tukang parkir mengarahkan kami menuju Kedai Gudang Kopi yang berada di depan Pasar Lasem.
Sebuah poster “Ngopi Dulu Baru Pulang” seakan menambah keyakinan kami ini tempat yang pas untuk ngopi sebelum melanjutkan perjalanan. Satu gelas kopi lelet dihargai Rp 4.000. Kopi lelet muncul pertama kali sekitar tahun 1930-an di Desa Gedongmulyo, bermula dari pekerja galangan kapal yang berkumpul di warung kopi.
Lasem dengan segala kekayaan budaya dan keunikannya terus memancarkan pesonanya. Pesona yang selalu menghipnotis pengunjungnya dan mengundang orang untuk kembali berkunjung.





