JAKARTA, KOMPAS.com - Langkah Adi (74) tampak pelan saat menyusuri kawasan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, sambil mendorong karung besar berisi botol plastik dan barang bekas.
Punggungnya sedikit membungkuk, tangannya menggenggam erat karung yang menjadi teman kerjanya selama 15 tahun terakhir.
Terik matahari siang tak membuatnya berhenti. Di usia yang oleh banyak orang disebut masa menikmati hari tua, Adi masih harus bekerja di jalanan.
“Kalau saya enggak kerja, nanti makan dari mana?” katanya saat ditemui Kompas.com, Kamis (11/6/2026).
Sebelum menjadi pemulung, Adi adalah seorang penjahit. Namun, tubuhnya tak lagi kuat duduk terlalu lama di depan mesin jahit.
Ia lalu beralih profesi. Bukan karena pilihan ideal, melainkan karena pekerjaan ini masih bisa ia lakukan dengan sisa tenaga yang ada.
Baca juga: Dulu Saya Bayangkan Panti Jompo Tempat Menyeramkan, Tempat Lansia Dibuang...
Cerita serupa datang dari Wadio (68), pedagang burung keliling yang ditemui di kawasan yang sama.
Sejak era 1980-an, Wadio berjualan burung puter, tekukur, perkutut, hingga burung dara. Di gerobaknya, sangkar-sangkar kecil menggantung berderet.
Kicauan burung terdengar nyaring, kontras dengan wajah Wadio yang menyimpan kelelahan panjang.
Ia tetap berjualan karena masih mampu berjalan dan karena kebutuhan ekonomi.
“Cari nafkah buat makan. Kalau ada lebihnya ya buat cucu,” kata Wadio.
Setiap ekor burung dijual sekitar Rp 50.000. Namun, pembeli tidak selalu datang setiap hari.
“Hari ini belum ada yang beli, masih kosong,” ujar dia.
Untuk menambah pemasukan, Wadio juga bekerja sampingan sebagai penjaga parkir.
Baginya, pekerjaan tak pernah benar-benar berhenti.
“Pensiunnya kalau burungnya habis, baru pensiun,” katanya sambil tertawa kecil.
Ucapan itu terdengar seperti candaan, tetapi menyimpan kenyataan pahit. Tidak ada dana pensiun. Tidak ada jaminan hari tua.
Tidak ada penghasilan tetap yang bisa menopang hidup ketika tenaga benar-benar habis.bBantuan sosial yang diharapkannya pun tak kunjung datang.
Baca juga: Saya Tinggal di Hunian Lansia Bukan Berarti Anak-anak Tidak Sayang...
Wadio mengaku pernah didata sebagai calon penerima bantuan. Namun, namanya tak pernah masuk daftar final.
“Orang-orang ada yang dapat beras, telur, uang Rp 600.000. Saya enggak dapat,” kata dia.
Kisah lain datang dari Djamil (64), pedagang makanan keliling yang sudah berjualan sejak 2014.
Sebelum itu, ia pernah menjual minyak tanah dan gas. Namun, pekerjaan lama terlalu berat bagi tubuhnya yang menua. Kini ia mengandalkan dagangan makanan untuk bertahan hidup.
“Ya, kebutuhan ekonomi,” kata Djamil ketika ditanya alasan masih bekerja.
Meski anak-anaknya telah beranjak dewasa, Djamil mengaku masih membantu ekonomi keluarga.
Keuntungan jualannya tidak sebesar dulu. Harga bahan baku naik, sementara daya beli masyarakat tidak selalu stabil.
Djamil mengaku belum pernah menerima bantuan sosial maupun BPJS dari pemerintah. Padahal, di usia sekarang, ia berharap setidaknya ada bantuan yang bisa sedikit meringankan.





