Bisnis.com,BANDUNG — Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat melepas ekspor kopi asal Jawa Barat ke Mesir dengan nilai mencapai Rp4,6 miliar atau sekitar 172.200 USD.
Pelepasan ekspor tersebut dilakukan dalam rangkaian West Java International Industry and Trade Expo (WIITEX) bertema The Golden Bean of Java: Coffee, Tea and Cacao for the Future di Summarecon Mall Bandung.
Kepala Disperindag Jawa Barat, Nining Yuliastiani, mengatakan ekspor tersebut merupakan hasil dari program pendampingan dan fasilitasi pemerintah daerah kepada pelaku usaha guna memperluas akses pasar internasional.
Ekspor ke Mesir dilakukan oleh PT Zenit Indo Trade yang sebelumnya mengikuti kegiatan pitching dan business matching dengan sejumlah pembeli dari berbagai negara yang difasilitasi Disperindag Jabar.
"Nilai ekspor yang dilepas hari ini mencapai Rp4,6 miliar atau hampir 172.200 dolar AS. Ekspor ini dilakukan oleh PT Zenit Indo Trade yang sebelumnya kami dampingi melalui kegiatan pitching dan business matching dengan buyer dari berbagai negara," kata Nining, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, realisasi transaksi tersebut menunjukkan bahwa pendampingan terhadap pelaku usaha mampu membuka peluang pasar baru sekaligus mendorong peningkatan ekspor produk unggulan Jawa Barat.
Baca Juga
- Mendag Lepas Ekspor Buah Pinang Senilai Rp2,2 Miliar ke Bangladesh dan Maladewa
- Danantara Sebut PT DSI Fokus Cegah Transfer Pricing, Bukan Ambil Alih Ekspor
- Dolar Melonjak, Industri Rotan Cirebon Kehilangan Separuh Pasar Ekspor
Nining optimistis WIITEX 2026 akan menghasilkan transaksi ekspor tambahan. Sebanyak 72 pelaku usaha kopi, teh, dan kakao yang mengikuti kegiatan tersebut telah memperoleh kesempatan bertemu langsung dengan pembeli mancanegara setelah menjalani sesi business matching.
Ia mengungkapkan, empat pelaku usaha juga dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman dan kontrak dagang pada 14 Juni 2026 untuk komoditas kopi, teh, dan kakao.
Tema The Golden Bean of Java dipilih karena kopi, teh, dan kakao merupakan komoditas perkebunan unggulan Jawa Barat yang memiliki sejarah panjang serta daya saing tinggi di pasar global.
Nining menjelaskan sekitar 70 persen luas perkebunan teh nasional berada di Jawa Barat, dengan kontribusi sekitar 80 persen terhadap total produksi teh Indonesia.
Di sisi lain, permintaan global terhadap kopi, teh, dan kakao terus menunjukkan tren peningkatan seiring berkembangnya gaya hidup dan konsumsi minuman berbasis komoditas tersebut.
Ia menambahkan, nilai ekspor kopi dan kakao terus mengalami kenaikan. Sementara untuk teh, pemerintah daerah terus mendorong hilirisasi agar produk tidak hanya dipasarkan dalam bentuk curah, tetapi juga sebagai produk bernilai tambah seperti specialty tea, specialty cacao, dan wellness tea yang semakin diminati pasar internasional.
Menurut Nining, kondisi geopolitik global serta pelemahan nilai tukar rupiah justru dapat memberikan keuntungan bagi pelaku usaha yang mengandalkan sumber daya lokal.
Pasalnya, bahan baku, tenaga kerja, dan proses produksi menggunakan rupiah, sedangkan hasil ekspor memperoleh nilai tambah dari penguatan dolar AS.
Dalam kesempatan yang sama, Disperindag Jabar juga meluncurkan penguatan Sistem Resi Gudang (SRG) untuk mendukung petani kopi, teh, dan kakao.
Melalui skema tersebut, petani dapat menyimpan hasil panen di gudang terakreditasi tanpa harus menjualnya saat harga rendah. Resi penyimpanan yang diterbitkan juga dapat dimanfaatkan sebagai agunan untuk memperoleh pembiayaan perbankan.
"Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat rantai pasok karena komoditas dapat terkumpul dalam jumlah besar dengan kualitas yang lebih terjaga," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Tirta Karma Senjaya, menilai WIITEX menjadi momentum penting untuk memperkuat kinerja ekspor Jawa Barat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menurutnya, Jawa Barat memberikan kontribusi signifikan terhadap ekspor nasional yang hingga kini masih mencatat surplus perdagangan selama 68 bulan berturut-turut.
Ia menambahkan, selain Mesir, pasar potensial bagi produk unggulan Jawa Barat juga mencakup Pakistan, India, China, serta sejumlah negara di kawasan Afrika yang terus dibidik pemerintah.
Karena itu, peningkatan kualitas produk, penguatan sumber daya manusia di bidang ekspor, serta perluasan program business matching dinilai perlu terus dilakukan agar semakin banyak pelaku usaha daerah mampu menembus pasar internasional.





