Seoul (ANTARA) - Angkatan Udara Republik Korea Selatan (ROKAF), Jumat, menggelar latihan terbesar secara tahunan bertajuk "Soaring Eagle" guna meningkatkan kesiapan tempur dan melatih respons terhadap ancaman potensial, demikian dilaporkan Kantor Berita Yonhap.
Latihan yang berlangsung selama sepekan hingga Jumat (19/6) itu melibatkan berbagai jenis pesawat, termasuk pesawat tempur siluman F-35A, pesawat peringatan dini dan komando udara E-737, serta pesawat pengisi bahan bakar KC-330, ungkap Yonhap mengutip pejabat militer setempat.
Soaring Eagle adalah latihan mandiri terbesar yang diselenggarakan ROKAF. Pada tahun ini, latihan tersebut diikuti lebih dari 210 personel dari Pangkalan Udara Cheongju.
Soaring Eagle diselenggarakan untuk pertama kalinya sejak November 2024. Sejak diluncurkan pada 2008, latihan tersebut biasanya diselenggarakan dua kali dalam setahun, tetapi sempat terhenti setelah adanya serangkaian insiden.
Pada Maret 2025, dua jet tempur Korea Selatan secara tidak sengaja mengebom sebuah kawasan permukiman di Pocheon, Korsel.
"Kami akan meningkatkan latihan penerbangan untuk operasi damai dan memperkuat latihan udara gabungan dengan Amerika Serikat, seperti yang dilakukan saat latihan Freedom Flag dan Ulchi Freedom Shield," kata seorang pejabat ROKAF seperti dikutip Yonhap.
Berbagai latihan itu berfokus pada peningkatan kemampuan untuk merespons ancaman udara dan darat, serta memperkuat koordinasi antara berbagai jenis pesawat dalam satu operasi.
Pasukan ROKAF akan berlatih kemampuan pendeteksian dan pencegatan sasaran jarak jauh, menyerang sumber serangan musuh, serta menetralisir tindakan ofensif secara preventif sebelum dimulai.
Sepuluh personel militer dari Arab Saudi, Polandia, Turki, Inggris, dan beberapa negara lain juga ikut diundang untuk menyaksikan latihan Soaring Eagle.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Kesalahan pilot jadi sebab jet tempur Korsel salah jatuhkan bom
Baca juga: Angkatan udara AS dan Korsel gelar latihan terbesar
Latihan yang berlangsung selama sepekan hingga Jumat (19/6) itu melibatkan berbagai jenis pesawat, termasuk pesawat tempur siluman F-35A, pesawat peringatan dini dan komando udara E-737, serta pesawat pengisi bahan bakar KC-330, ungkap Yonhap mengutip pejabat militer setempat.
Soaring Eagle adalah latihan mandiri terbesar yang diselenggarakan ROKAF. Pada tahun ini, latihan tersebut diikuti lebih dari 210 personel dari Pangkalan Udara Cheongju.
Soaring Eagle diselenggarakan untuk pertama kalinya sejak November 2024. Sejak diluncurkan pada 2008, latihan tersebut biasanya diselenggarakan dua kali dalam setahun, tetapi sempat terhenti setelah adanya serangkaian insiden.
Pada Maret 2025, dua jet tempur Korea Selatan secara tidak sengaja mengebom sebuah kawasan permukiman di Pocheon, Korsel.
"Kami akan meningkatkan latihan penerbangan untuk operasi damai dan memperkuat latihan udara gabungan dengan Amerika Serikat, seperti yang dilakukan saat latihan Freedom Flag dan Ulchi Freedom Shield," kata seorang pejabat ROKAF seperti dikutip Yonhap.
Berbagai latihan itu berfokus pada peningkatan kemampuan untuk merespons ancaman udara dan darat, serta memperkuat koordinasi antara berbagai jenis pesawat dalam satu operasi.
Pasukan ROKAF akan berlatih kemampuan pendeteksian dan pencegatan sasaran jarak jauh, menyerang sumber serangan musuh, serta menetralisir tindakan ofensif secara preventif sebelum dimulai.
Sepuluh personel militer dari Arab Saudi, Polandia, Turki, Inggris, dan beberapa negara lain juga ikut diundang untuk menyaksikan latihan Soaring Eagle.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Kesalahan pilot jadi sebab jet tempur Korsel salah jatuhkan bom
Baca juga: Angkatan udara AS dan Korsel gelar latihan terbesar





