Beijing (ANTARA) - Dua lembaga kepakaran Indonesia dan China membahas potensi kerja sama di bidang ekonomi digital dan kecerdasan buatan (AI) antara kedua negara dalam acara "China-Indonesia Digital Economy Forum: From Vision to Action".
Acara yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (11/6) itu diselenggarakan oleh Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial, dan Budaya Indonesia-China (Association of Indonesia-China Economic, Social and Cultural Cooperation atau AICCC) asal Indonesia dan China Development Institute (CDI) dari Provinsi Guangdong, China.
"Hari ini adalah merupakan implementasi dari aspek ekonomi dan people to people contact. Tentu adalah ke fokus ekonomi di masa depan yaitu ekonomi digital, tapi bukan hanya soal teknologi, melainkan bagaimana memberdayakan masyarakat, menciptakan peluang, dan membentuk masa depan yang inklusif serta berkelanjutan," kata Ketua AICCC Sudrajat dalam keterangan yang diterima ANTARA, Jumat.
Acara itu dihadiri oleh sekitar 40 orang dari Indonesia maupun China yang berasal dari lembaga pakar, pelaku industri, maupun asosiasi terkait.
"Pengguna ekonomi digital di Indonesia sangat besar, ini jadi salah satu peluang tapi bukan hanya jadi pasar, melainkan bagaimana menjadikannya untuk kesejahteraan rakyat," ucap Sudrajat yang juga merupakan Duta Besar RI untuk China pada 2005-2009.
Baca juga: Mahasiswa Indonesia di China soroti prospek kerja sama Indonesia-China
Sedangkan Wakil Presiden CDI Guo Wanda mengatakan jumlah penduduk muda Indonesia yang besar didukung dengan tingkat penetrasi internet yang terus meningkat menjadikan kebutuhan transformasi digital di berbagai sektor menyediakan peluang luas bagi sinergi digital antara China-Indonesia.
"Kecerdasan buatan adalah salah satu prioritas strategis China dalam lima tahun ke depan. AI akan diterapkan secara luas dan memberdayakan berbagai sektor di China, termasuk lembaga think tank seperti kami, sehingga hal ini menjadi peluang bagi China maupun Indonesia," ungkap Sudrajat.
Sementara Direktur Komunikasi Strategis Tencent, raksasa tekonologi China, Fanny Liao, dalam acara itu mengatakan pihaknya memandang penyebaran teknologi sebagai salah satu tujuan terpenting dari kecerdasan buatan.
Menurut Fanny, ketika model bahasa besar (large language model LLM) yaitu program AI dalam teks dengan kuantitas sangat besar yang berkualitas tinggi menjadi terjangkau dan praktis, maka para pengembang serta pelaku usaha secara alami akan menggunakannya.
Sedangkan Dosen ITB sekaligus Ketua Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) - konsorsium dari 21 universitas di Indonesia dan enam industri strategis - Trio Adiono mengatakan semikonduktor dan AI juga sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Indonesia periode 2025–2029.
Baca juga: Indonesia-China jajaki masa depan kesehatan digital dan AI medis
"Industri yang ingin kami fokuskan adalah semikonduktor fabless, yaitu desain cip. Pasar industri ini sangat besar dibandingkan sektor semikonduktor lainnya. Kami ingin memperluas kerja sama dengan pihak lain, termasuk China, dan membangun jaringan dengan industri, pemerintah, akademisi, dan komunitas, baik di dalam negeri maupun internasional," ucap Trio.
Peluang pertama kerja sama Indonesia-China, menurutnya, di bidang kontrol baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi. Sedangkan peluang kedua adalah layanan kesehatan karena masalah kesehatan di Indonesia sangat khas lokal dan masih membutuhkan banyak perbaikan dengan melibatkan AI.
Peluang ketiga adalah pertanian cerdas mengingat ketahanan pangan masih menjadi persoalan sehingga efisiensi dapat ditingkatkan melalui penerapan teknologi pertanian berbasis AI.
"China dapat berkontribusi melalui algoritma AI untuk analisis serta perangkat keras IoT dan sensor berbasis semikonduktor sementara Indonesia dapat menyediakan data tropis dalam jumlah besar dan tenaga kerja untuk implementasi," kata Trio.
Baca juga: Indonesia jajaki kerja sama AI pertanian dengan Guangxi, China
Acara yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (11/6) itu diselenggarakan oleh Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial, dan Budaya Indonesia-China (Association of Indonesia-China Economic, Social and Cultural Cooperation atau AICCC) asal Indonesia dan China Development Institute (CDI) dari Provinsi Guangdong, China.
"Hari ini adalah merupakan implementasi dari aspek ekonomi dan people to people contact. Tentu adalah ke fokus ekonomi di masa depan yaitu ekonomi digital, tapi bukan hanya soal teknologi, melainkan bagaimana memberdayakan masyarakat, menciptakan peluang, dan membentuk masa depan yang inklusif serta berkelanjutan," kata Ketua AICCC Sudrajat dalam keterangan yang diterima ANTARA, Jumat.
Acara itu dihadiri oleh sekitar 40 orang dari Indonesia maupun China yang berasal dari lembaga pakar, pelaku industri, maupun asosiasi terkait.
"Pengguna ekonomi digital di Indonesia sangat besar, ini jadi salah satu peluang tapi bukan hanya jadi pasar, melainkan bagaimana menjadikannya untuk kesejahteraan rakyat," ucap Sudrajat yang juga merupakan Duta Besar RI untuk China pada 2005-2009.
Baca juga: Mahasiswa Indonesia di China soroti prospek kerja sama Indonesia-China
Sedangkan Wakil Presiden CDI Guo Wanda mengatakan jumlah penduduk muda Indonesia yang besar didukung dengan tingkat penetrasi internet yang terus meningkat menjadikan kebutuhan transformasi digital di berbagai sektor menyediakan peluang luas bagi sinergi digital antara China-Indonesia.
"Kecerdasan buatan adalah salah satu prioritas strategis China dalam lima tahun ke depan. AI akan diterapkan secara luas dan memberdayakan berbagai sektor di China, termasuk lembaga think tank seperti kami, sehingga hal ini menjadi peluang bagi China maupun Indonesia," ungkap Sudrajat.
Sementara Direktur Komunikasi Strategis Tencent, raksasa tekonologi China, Fanny Liao, dalam acara itu mengatakan pihaknya memandang penyebaran teknologi sebagai salah satu tujuan terpenting dari kecerdasan buatan.
Menurut Fanny, ketika model bahasa besar (large language model LLM) yaitu program AI dalam teks dengan kuantitas sangat besar yang berkualitas tinggi menjadi terjangkau dan praktis, maka para pengembang serta pelaku usaha secara alami akan menggunakannya.
Sedangkan Dosen ITB sekaligus Ketua Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) - konsorsium dari 21 universitas di Indonesia dan enam industri strategis - Trio Adiono mengatakan semikonduktor dan AI juga sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Indonesia periode 2025–2029.
Baca juga: Indonesia-China jajaki masa depan kesehatan digital dan AI medis
"Industri yang ingin kami fokuskan adalah semikonduktor fabless, yaitu desain cip. Pasar industri ini sangat besar dibandingkan sektor semikonduktor lainnya. Kami ingin memperluas kerja sama dengan pihak lain, termasuk China, dan membangun jaringan dengan industri, pemerintah, akademisi, dan komunitas, baik di dalam negeri maupun internasional," ucap Trio.
Peluang pertama kerja sama Indonesia-China, menurutnya, di bidang kontrol baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi. Sedangkan peluang kedua adalah layanan kesehatan karena masalah kesehatan di Indonesia sangat khas lokal dan masih membutuhkan banyak perbaikan dengan melibatkan AI.
Peluang ketiga adalah pertanian cerdas mengingat ketahanan pangan masih menjadi persoalan sehingga efisiensi dapat ditingkatkan melalui penerapan teknologi pertanian berbasis AI.
"China dapat berkontribusi melalui algoritma AI untuk analisis serta perangkat keras IoT dan sensor berbasis semikonduktor sementara Indonesia dapat menyediakan data tropis dalam jumlah besar dan tenaga kerja untuk implementasi," kata Trio.
Baca juga: Indonesia jajaki kerja sama AI pertanian dengan Guangxi, China





