Bisnis.com, JAKARTA — Ambisi pemerintah meningkatkan porsi ekspor manufaktur menjadi 30% diminta jangan sampai mengurangi kemampuan sektor industri baja dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik yang masih menjadi prioritas utama.
Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, pasar dalam negeri tetap menjadi fondasi utama bagi industri baja nasional. Karena itu, peningkatan ekspor harus dilakukan secara terukur agar tidak mengganggu pasokan untuk kebutuhan pembangunan dan industri di dalam negeri.
Menurut Harry, target pemerintah untuk meningkatkan komposisi penjualan produk manufaktur dari 20% ekspor dan 80% domestik menjadi 30% ekspor dan 70% domestik dapat dicapai tanpa mengorbankan pasar dalam negeri.
"Pasar domestik tetap menjadi fondasi utama industri baja nasional. Oleh karena itu, peningkatan ekspor tidak boleh mengurangi kemampuan industri dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (12/6/2026).
Dia menjelaskan, industri baja nasional masih memiliki kapasitas produksi yang dapat dioptimalkan untuk mendukung peningkatan ekspor. Pemanfaatan kapasitas yang belum terpakai dinilai menjadi kunci agar ekspansi ke pasar global dapat berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan domestik.
Harry menuturkan, peningkatan ekspor juga berpotensi membantu memperbaiki tingkat utilisasi industri baja nasional yang saat ini masih memiliki ruang untuk ditingkatkan.
Baca Juga
- RI Barter Dagang Tekstil dan Baja dengan Filipina Senilai Rp6,36 Triliun
- Tantangan Industri Baja Indonesia: Produksi Lemah, Banjir Impor
- Industri Baja Jalan di Tempat
Strategi yang perlu dilakukan agar target ekspor manufaktur 30% tercapai, lanjutnya, adalah meningkatkan utilisasi kapasitas produksi yang tersedia, memperluas diversifikasi produk bernilai tambah tinggi, serta mendorong efisiensi produksi. Dengan langkah tersebut, industri baja dapat melayani kebutuhan pasar dalam negeri sekaligus memperbesar volume ekspor.
Kendati demikian, Harry mengingatkan industri baja masih menghadapi berbagai tantangan untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional. Dari sisi biaya produksi, industri masih dibebani tingginya harga energi, bahan baku tertentu, serta fluktuasi nilai tukar.
Selain itu, biaya logistik nasional yang relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara pesaing di kawasan Asia juga memengaruhi daya saing harga produk baja Indonesia di pasar ekspor.
Di sisi eksternal, produk baja juga menghadapi berbagai hambatan perdagangan seperti antidumping, safeguard, countervailing duties, hingga tariff rate quota yang diterapkan negara tujuan ekspor.
Tidak hanya itu, tren penerapan persyaratan non-tarif seperti standar lingkungan, ketentuan jejak karbon, dan mekanisme Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) menjadi tantangan baru yang harus diantisipasi pelaku industri. “Ketidakpastian kebijakan perdagangan global dan meningkatnya tren proteksionisme di berbagai negara juga menjadi tantangan bagi ekspor baja Indonesia,” tambah Harry.
Untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar domestik dan ekspansi ekspor, IISIA juga mendorong penguatan pengawasan terhadap impor baja. Menurut Harry, langkah tersebut penting agar pasar dalam negeri tidak semakin tertekan oleh masuknya produk impor berharga rendah maupun praktik perdagangan yang tidak adil.
"Dengan demikian, industri dapat melayani pasar domestik sekaligus memperbesar volume ekspor," katanya.
IISIA menilai dukungan pemerintah melalui penguatan instrumen perlindungan perdagangan, peningkatan efisiensi logistik, transformasi industri hijau, serta perluasan akses pasar ekspor akan menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan domestik dan target ekspor manufaktur nasional.
Harry menegaskan, dengan dukungan kebijakan yang tepat, industri baja nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pembangunan dalam negeri. “Tetapi juga dapat menjadi salah satu kontributor utama dalam pencapaian target peningkatan ekspor manufaktur Indonesia ke depan,” pungkasnya.





