Anak Terlalu Dimanja, Akhirnya Tidak Tau Sopan Santun

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Sering kita lihat di sekitar: anak kecil yang berteriak seenaknya, memotong pembicaraan orang tua, atau meminta sesuatu dengan nada memerintah. Ketika ditegur, orang tuanya malah membela dengan alasan "masih kecil, nanti juga mengerti". Lama-kelamaan kebiasaan ini terbawa hingga mereka tumbuh besar. Bukan karena mereka tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk, tapi karena sejak kecil tidak pernah diajarkan batasan—malah selalu dimanja dan dituruti segala keinginannya.

Memanjakan anak memang bentuk kasih sayang, tapi seringkali berubah menjadi kerusakan jika tidak dibarengi dengan aturan. Banyak orang tua berpikir bahwa memberikan semua yang diminta dan tidak pernah menegur adalah cara membuat anak bahagia. Padahal justru sebaliknya. Ketika setiap keinginan selalu dikabulkan tanpa perlu berusaha atau menghargai orang lain, anak tumbuh dengan keyakinan bahwa dunia harus selalu berputar mengikuti keinginannya. Sopan santun dianggap sebagai hal yang tidak penting, bahkan sebagai beban.

Kondisi ini makin terlihat jelas saat mereka berinteraksi dengan orang di luar lingkungan keluarga. Ada yang berbicara kasar kepada orang yang lebih tua, tidak mau mengucapkan terima kasih atau permisi, bahkan merasa berhak didahulukan dalam segala hal. Ketika dikoreksi, mereka justru merasa tersinggung atau marah karena selama ini tidak pernah diperlakukan demikian. Sikap ini bukan muncul tiba-tiba, melainkan hasil dari kebiasaan yang dibiasakan sejak kecil: apa yang saya mau harus saya dapatkan, tidak peduli bagaimana perasaan orang lain.

Sopan santun sebenarnya bukan soal formalitas semata, melainkan cara kita menghargai sesama. Anak yang terlalu dimanja jarang memahami hal ini. Mereka tidak diajarkan bahwa setiap orang memiliki harga diri dan perasaan yang harus dijaga. Misalnya, ketika meminta tolong, mereka tidak tahu harus berkata apa; ketika diberi bantuan, mereka merasa itu adalah haknya. Tanpa disadari, sikap seperti ini membuat mereka sulit bergaul dan sering menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang-orang di sekitarnya.

Bukan berarti kita tidak boleh menyayangi anak. Kasih sayang itu penting, tapi harus disertai dengan bimbingan. Menegur ketika mereka salah, mengajarkan cara berbicara yang baik, dan membiasakan mereka menghormati orang lain bukan berarti menyakiti hati mereka. Justru itu bekal yang paling berharga agar kelak mereka bisa diterima di mana pun berada. Anak yang diajarkan batasan sejak kecil justru akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan tahu cara berinteraksi dengan baik.

Pada akhirnya, memanjakan secara berlebihan justru menjadi bentuk ketidaksiapan orang tua menghadapi masa depan anak. Sopan santun adalah bekal hidup yang tidak bisa dibeli dengan uang. Jika sejak kecil tidak dibiasakan, mereka akan sulit diubah ketika sudah dewasa. Lebih baik sedikit tegas dan mengajarkan aturan sejak dini, daripada membiarkan mereka tumbuh menjadi orang yang tidak tahu cara menghargai orang lain hanya karena kebiasaan dimanja yang tidak pernah dibenahi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketika Prabowo Gembira Baca Surat Terima Kasih dari Siswa SMKN 1 Sorong
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Polisi Tangkap Pembunuh Dua Perempuan yang Tewas di Banyumas
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Kondisi Terkini, Massa di Kawasan Sudirman Mulai Membubarkan Diri | BERITA UTAMA
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Dulu Tempuh 6 Jam untuk Berobat, Kini Warga Pesisir Barat Punya RSUD Sendiri
• 23 jam lalukompas.id
thumb
Pilah Sampah dari Rumah Dinilai Jadi Kunci Keberhasilan RDF
• 19 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.