Elon Musk Jadi Triliuner Pertama Dunia usai IPO SpaceX Melejit

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Elon Musk resmi menjadi triliuner pertama di dunia setelah saham perusahaan roket miliknya, SpaceX, melonjak tajam dalam IPO terbesar sepanjang sejarah pada Jumat (12/6/2026).

Pendiri Tesla dan SpaceX tersebut semakin mengukuhkan posisinya sebagai orang terkaya di dunia, dengan total kekayaan mencapai US$1,1 triliun atau sekitar Rp19,8 kuadriliun berdasarkan Forbes Real Time Billionaire.

Pencapaian itu terjadi setelah perusahaan yang bergerak di bidang roket, telekomunikasi, dan kecerdasan buatan (AI) tersebut resmi melantai di bursa Nasdaq dengan valuasi mencapai US$2,2 triliun.

Melansir BBC, SpaceX menawarkan saham perdana di harga US$135 per lembar. Namun, saham langsung dibuka di level US$150 dan sempat menyentuh US$176,50 di tengah tingginya antusiasme investor terhadap potensi bisnis antariksa dan perusahaan yang terkait dengan Musk.

Saham SpaceX akhirnya ditutup menguat 19% ke level US$161 per saham pada perdagangan Jumat (12/6).

IPO SpaceX berhasil menghimpun dana US$75 miliar dari investor dan penjamin emisi sebelum sahamnya mulai diperdagangkan di pasar terbuka.

Baca Juga

  • IPO SpaceX hingga OpenAI Berisiko Sedot Likuiditas Pasar Kripto
  • Daftar 10 IPO Terbesar Dunia, SpaceX Berpotensi Salip Saudi Aramco
  • IPO SpaceX dan Efek Domino Terhadap Aliran Modal Asing di Pasar Saham Indonesia

Musk diketahui menguasai 42% saham SpaceX, yang memberinya kendali hampir penuh terhadap seluruh aktivitas perusahaan. Dengan posisi tersebut, dia memiliki keleluasaan besar dalam menentukan penggunaan dana hasil investasi.

Nlai kepemilikan saham Musk di SpaceX mencapai US$767,1 miliar pada penutupan perdagangan. Dia juga memiliki opsi saham SpaceX senilai US$53,8 miliar. Selain itu, Musk masih mengantongi saham Tesla senilai US$168 miliar dan opsi saham Tesla sebesar US$116,4 miliar.

Lonjakan kekayaan Musk langsung memicu kembali perdebatan mengenai ketimpangan kekayaan global. Nilai kekayaannya kini setara dengan total PDB Polandia atau Swiss.

Namun demikian, status triliuner Musk sebagian besar masih bersifat “di atas kertas” karena hampir seluruh kekayaannya terkait nilai kepemilikan saham Tesla dan SpaceX. Dia juga tidak dapat menjual saham SpaceX miliknya setidaknya selama satu tahun.

Pencatatan saham SpaceX di bursa turut diperkirakan melahirkan lebih dari 4.400 jutawan baru dari kalangan karyawan aktif maupun mantan pegawai perusahaan yang menerima saham sebagai bagian dari kompensasi kerja.

Meski valuasi SpaceX sangat besar, penilaian perusahaan tersebut masih lebih banyak ditopang optimisme terhadap potensi pertumbuhan di masa depan dibandingkan kinerja keuangan aktual.

Hingga saat ini, SpaceX masih membukukan kerugian operasional, artinya perusahaan mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan pendapatan yang dihasilkan.

Berdasarkan dokumen keuangan perusahaan, SpaceX mencatat kerugian lebih dari US$9 miliar sepanjang 2025 hingga 2026 akibat besarnya belanja untuk AI dan investasi infrastruktur lainnya.

Bisnis utama SpaceX saat ini berfokus pada produksi dan peluncuran roket dengan komponen yang dapat digunakan kembali.

Selain itu, perusahaan juga memproduksi dan meluncurkan satelit internet Starlink. Melalui akuisisi xAI tahun ini, perusahaan AI lain milik Musk, SpaceX turut memperluas bisnis ke sektor kecerdasan buatan.

SpaceX menyatakan dana hasil IPO akan digunakan untuk “mendorong strategi pertumbuhan” perusahaan di bidang roket, satelit Starlink, dan AI, termasuk rencana spekulatif membangun pusat data di orbit luar angkasa.

Chief Investment Strategist Wealth Club Susannah Streeter menilai lonjakan harga saham SpaceX mencerminkan tingginya minat investor terhadap visi besar Elon Musk.

“Dia sudah lama menggapai bintang melalui ambisi luar angkasanya, dan tampaknya banyak investor yang memiliki antusiasme serupa terhadap masa depan,” ujarnya seperti dikutip BBC, Sabtu (13/6/2026).

Namun, Streeter mengingatkan reli saham SpaceX saat ini “lebih banyak didorong oleh hype dan kelangkaan saham dibanding fundamental perusahaan.”

Di sisi lain, Nancy Tengler, pimpinan Laffer Tengler Investments yang ikut membeli saham SpaceX, menyebut bisnis AI perusahaan sebagai “mesin pembakar uang tunai” meskipun Musk memiliki ambisi besar terhadap sektor tersebut.

“Penting untuk menyikapi sebagian proyeksi itu dengan hati-hati,” kata Tengler.

Meski demikian, dia tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang SpaceX.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Foto: Mengunjungi Pameran Furnitur dan Seni Ukir Unggulan di Semarang
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Sebut Inflasi Masih Aman, Mendagri: Justru Petani dan Nelayan Bisa Diuntungkan
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
3 Pelaku Curanmor Tertangkap Patroli Polisi di Jaksel, Ternyata Bawa Narkoba
• 1 jam laludetik.com
thumb
Hasil Piala Dunia 2026 Amerika Serikat vs Paraguay: AS Hancurkan La Albirroja di Laga Pembuka
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Kecelakaan Maut Sedan vs Truk di Tol Jombang, 1 Tewas 1 Luka-Luka
• 19 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.