Qatar vs Swiss: pembuktian Qatar pantas di putaran final

antaranews.com
13 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Sejauh ini hanya Arab Saudi yang menjadi tim Asia yang langsung menggebrak dalam debut Piala Dunia ketika memenangkan dua pertandingan fase grup untuk lolos ke babak 16 Besar Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.

Pencapaian itu berbeda jauh dari Qatar yang, dibandingkan dengan negara-negara Asia lain yang pertama kali lolos ke putaran final Piala Dunia, debutnya dalam Piala Dunia adalah yang paling tidak menarik.

Mereka kalah dalam ketiga pertandingan fase grup Piala Dunia 2022 setelah kebobolan tujuh gol dan hanya membuat satu gol.

Jepang juga kalah dalam tiga laga fase grup setelah kebobolan empat gol dan memasukkan satu gol dalam debutnya pada Piala Dunia 1998.

Namun, setidaknya Jepang tidak mengalami hal itu di kandangnya, yang berbeda dari Qatar yang mengalami ketiga kekalahan itu di rumah sendiri ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Begitu Jepang giliran menjadi tuan rumah pada 2002 bersama Korea Selatan, Samurai Biru membuat lompatan besar dengan memenangkan dua pertandingan fase grup sehingga masuk babak 16 besar.

Bisakah Qatar melakukan hal seperti dilakukan Jepang? Apakah kinerja Si Merah Marun meningkat dalam partisipasi keduanya pada Piala Dunia?

Namun, pertanyaan yang sangat mengganggu Qatar adalah pantaskah mereka berada di putaran final Piala Dunia 2026?

Pertanyaan ini diajukan karena bersama Arab Saudi, Qatar lolos ke Piala Dunia 2026 dalam situasi kompetisi yang tak begitu fair.

Mengapa tak begitu fair? Karena mereka bertanding di negeri sendiri dalam babak tiebreaker kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia yang sepantasnya dilangsungkan di tempat netral atau menggunakan sistem kandang-tandang seperti diatur FIFA.

Untuk itu, pertandingan kedua Grup B di Santa Clara, California, Amerika Serikat bisa dibilang sebagai upaya Qatar menjawab keraguan atas kepantasan mereka lolos ke putaran final.

Upaya menjawab keraguan itu sendiri tampaknya tak akan cepat-cepat terjawab, mengingat Qatar langsung dihadapkan dengan favorit juara Grup B, Swiss.

Baca juga: Profil timnas Qatar, kekuatan baru Asia di Piala Dunia 2026

Swiss bakal dominan

Swiss adalah tim langganan Piala Dunia dan Piala Dunia 2026 adalah putaran final Piala Dunia yang ke-13 untuk The Nati.

Grafik Swiss juga terus meningkat, sampai-sampai pada tiga Piala Dunia terakhir yang mereka ikuti, baru bisa terhenti pada babak 16 besar.

Pencapaian tertinggi Swiss adalah perempat final, yang sudah mereka lakukan tiga kali pada 1934, 1938 dan 1954.

The Nati akan masuk gelanggang dengan kepercayaan tinggi, bukan saja karena mereka juara Grup B Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa tanpa sekalipun kalah, tapi juga menggenggam catatan lebih bagus dalam enam laga terakhir.

Mereka menang besar 4-1 melawan Swedia dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 dan Yordania dalam laga persahabatan dengan skor identik.

Kemudian, seri melawan Kosovo dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 dan Norwegia serta Australia dalam laga persahabatan. Tapi kalah tipis 3-4 dari Jerman pada laga persahabatan.

Sebaliknya, Qatar tak pernah menang dalam enam laga terakhir, baik dalam Piala Arab maupun laga persahabatan, setelah dikalahkan oleh Zimbabwe, Palestina, Tunisia, dan Irlandia dalam enam laga terakhirnya, dan hanya bisa seri melawan Suriah dan El Salvador.

Dari sini Swiss terlihat bakal menjadi pemilik laga kedua Grup B Piala Dunia 2026, apalagi tim asuhan Murat Yakin hanya sekali kalah dalam 14 pertandingan terakhir, yakni melawan Jerman dalam laga persahabatan.

Swiss akan masuk gelanggang dengan keyakinan tinggi bisa menaklukkan tim yang dianggap paling lemah di Grup B.

Tekanan menang semakin tinggi karena Granit Xhaka cs tak ingin mempersulit diri ketika menjalani dua laga berikutnya melawan Bosnia Herzegovina dan Kanada, yang berbagi poin setelah seri 1-1 dalam laga pertama Grup B beberapa saat lalu.

Meskipun demikian, walau di atas kertas berada satu level di atas Qatar, tak ada alasan bagi Swiss untuk meremehkan tim yang diarsiteki Julen Lopetegui itu.

Murat Yakin jangan melupakan memori 14 November 2018 di Cornaredo di Lugano, Swiss, ketika Qatar secara mengejutkan membungkam mereka 1-0 pada laga persahabatan akibat gol Akram Afif.

Itulah satu-satunya pertemuan kedua tim sebelum bertemu di San Francisco Bay Area Stadium atau Levi's Stadium, Santa Clara, pada Minggu dini hari pukul 02.00 WIB esok.

Baca juga: Profil timnas Swiss, bidik perempat final pertama dalam 72 tahun

Lebih sulit menang

Afif yang kini berusia 29 tahun dan delapan pemain Qatar lain dalam tim yang mengalahkan Swiss pada 14 November 2018, akan turun lagi dalam Piala Dunia 2026.

Lopetegui kemungkinan menurunkan hampir semua dari kesembilan pemain itu sebagai starter melawan Swiss.

Murat Yakin sendiri masih melibatkan tujuh pemain yang dikalahkan Qatar itu, dalam daftar 26 pemain Swiss yang dibawa ke Amerika Utara.

Dua di antara mereka adalah nama yang sangat akrab di telinga publik sepak bola, yakni kapten Granit Xhaka dan gelandang Remo Frueler.

Xhaka dan Frueler akan berusaha membalas kekalahan dari Qatar pada November 2018 itu, terlebih sejak dikalahkan 0-5 oleh Jerman pada Piala Dunia 1966, Swiss tak pernah kalah dalam setiap pertandingan pertamanya pada putaran final Piala Dunia. Ini catatan yang akan dijaga keras oleh Xhaka cs.

Swiss juga memiliki bomber yang bisa merusak mimpi Qatar, pada diri Breel Embolo. Striker Rennes ini adalah top skor Grup B Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa.

Embolo juga salah satu dari lima pemain Eropa yang mencetak lebih dari satu gol dalam Piala Dunia 2022 dan Euro 2024, selain Harry Kane, Kai Havertz, Niclas Fullkrug dan Cody Gakpo.

Embolo yang sudah mencetak 24 gol untuk timnas Swiss dan selalu mencetak gol dalam tiga dari enam laga terakhir Swiss, kemungkinan menjadi starter di sepertiga terakhir The Nati.

Xhaka dan Freuler tetap menjadi simpul ganda permainan Swiss, sedangkan bek Manchester City Manuel Akanji akan memimpin lini belakang dalam formasi kesukaan Murat Yakin, 4-2-3-1.

Sedangkan di ujung lain lapangan, Lopetegui akan mempercayakan Afif guna membentuk trisula serangan bersama Edmilson Junior dan Almoez Ali, dalam formasi favorit Lopetegui, 4-3-3.

Dengan 12 golnya, Ali adalah pencetak gol terbanyak babak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Sedangkan Afif menciptakan 11 assist sehingga menjadi pemain Qatar yang terbanyak memberikan assist dalam 16 laga terakhir.

Namun, walau memiliki lini serang seeksplosif itu, Qatar sepertinya akan menjadi pihak yang lebih kesulitan menciptakan peluang dan menguasai lapangan, ketimbang Swiss yang memiliki kekuatan merata di semua departemen dan lebih akrab dengan atmosfer kompetisi Piala Dunia.

Baca juga: Kanada bermain imbang 1-1 kontra Bosnia-Herzegovina

Baca juga: Piala Dunia: Ketua Asosiasi Sepak Bola Palestina belum dapat visa AS

Baca juga: Hari pertama Piala Dunia 2026: Meksiko, Korea Selatan raih kemenangan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemkab Sampang Mulai Buka Pendaftaran Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026-2027 dengan Kuota 90 Siswa
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Perluas Pemanfaatan PLTS di Kapal Pengangkut Minyak, Pertamina Pangkas Emisi 79 Ton Karbon per Tahun
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Terekam CCTV, Lansia 70 Tahun di PIK Nyaris Diculik Pria Bermobil Fortuner
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Risma Apresiasi Suara Surabaya Media, Sebut Berperan Besar dalam Tata Kota
• 1 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Tak Perlu Panic Buying, Pertamina Jamin Ketersediaan Pertalite Tetap Aman
• 9 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.