Harga Pertamax Lebih Mahal dari Ongkos Bensin Bentor Pulau Tidung, Sopir: Saya Jadi Nombokin

kompas.com
8 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah sopir becak motor (bentor) di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, mengeluhkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax yang menjadi kebutuhan utama profesi mereka.

Pengemudi bentor bernama Sahi  menganggap, kenaikan harga Pertamax kali ini terlalu tinggi karena hampir sama dengan tarif sekali jalan pelanggannya.

"Kalau narik ukuran sejalan Rp 20.000 bensin, sedangkan seliter Rp 21.000, itu malahan kita nombokin. Nombokin Rp 1.000 kalau bensinnya Rp 21.000," ujar dia saat ditemui Kompas.com, Jumat (12/6/2026).

Baca juga: Susahnya Cari Pertalite di Tangerang Usai Harga Pertamax Melonjak...

Mereka tidak dapat beralih ke Pertalite karena jenis bensin itu menghilang di Pulau Tidung dalam beberapa waktu ke belakang.

"Udah, setengah tahun mah lebih lah. Memang udah hilang hitungannya," kata dia.

Dengan kondisi saat ini, ia masih tidak ingin menaikkan harga tarif bentor bagi para wisatawan

Sahib hanya berharap agar harga Pertamax bisa kembali disesuaikan dan jangan naik lagi.

"Kagak bisa mah (menaikan tarif bentor), bensin mah jangan naik kalau bisa mah," tambah dia.

Sopir bentor lainnya, Muhammad Said (63), bisa memahami apabila harga BBM di wilayah pulau lebih mahal dibandibgkan dengan harga di daratan.

"Ya kalau itu kita juga tahu enggak mungkin (harga sama), soalnya juga kan bensin ke sini perlu dua kali transport mereka. Mobil di sana terus juga ferry yang bawa ke sini," kata dia saat ditemui Kompas.com.

Baca juga: Pertamax di Pulau Tidung Tembus Rp 21.000 Per Liter, Sopir Bentor Merugi

Meski demikian, ia berharap kenaikan harga Pertamax tidak terlalu besar sehingga masih sebanding dengan pendapatan yang diperoleh pengemudi bentor.

"Kalau inginnya ya naiknya jangan tinggi gitu sampai enggak nutup tarikan," ujarnya.

Menurut dia, kenaikan harga Pertamax kali ini terasa lebih berat dibanding penyesuaian harga sebelumnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia mengaku terkejut karena selisih kenaikannya dinilai cukup besar.

"Dulu mah kalau naik ya paling cuma Rp500 atau Rp1.000 gitu. Sekarang tiba-tiba tinggi," kata dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sejumlah Mahasiswa di Tosari Membubarkan Diri, Long March Menuju Semanggi
• 14 jam laludetik.com
thumb
Ruang Maya yang Semakin Alergi Kritik Satire Politik
• 2 jam lalukompas.id
thumb
Tembus Semifinal Australian Open 2026, Talenta Indonesia Buktikan Kualitas Pembinaan Nasional
• 17 jam laludisway.id
thumb
Demo Rawamangun Menggugat Kelar, Aliansi UNJ Melawan Bubarkan Diri
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Aksi Bela Palestina Kembali akan Digelar di Depan Kedubes AS, Ini Sembilan Tuntutannya
• 18 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.