Oleh: Andi Januar Jaury Dharwis
Ekonomi kreatif dan UMKM hampir selalu menjadi bagian dari agenda pembangunan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Setiap tahun, berbagai program digelar dengan dukungan anggaran yang tidak sedikit; mulai dari pelatihan, pendampingan, pameran, hingga promosi usaha.
Namun di tengah banyaknya program tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan bersama: bagaimana sebenarnya mengukur keberhasilan kebijakan ekonomi kreatif?
Apakah dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan? Ataukah dari lahirnya usaha yang benar-benar tumbuh, membuka lapangan kerja, dan mampu bersaing di pasar nasional?
Pertanyaan ini menjadi relevan ketika melihat perjalanan sejumlah brand lokal asal Makassar yang berkembang melalui kekuatan pasar, inovasi, dan konsistensi.
Dari subsektor kuliner, Yappay berhasil mencatatkan prestasi nasional melalui Grab Bintang 5 Awards di Jakarta. Brand ini mewakili Kawasan Timur Indonesia, Sulawesi Selatan, dan Kota Makassar setelah mampu bersaing dalam performa pasar digital dengan berbagai merek besar dari Jakarta dan kota-kota lainnya, termasuk produk yang dimiliki figur publik nasional.
Sementara dari subsektor fashion olahraga, Easy Sunday menunjukkan pertumbuhan yang tidak kalah membanggakan. Brand lokal ini dipercaya sebagai mitra resmi merchandise pada berbagai event lari bergengsi seperti Makassar Half Marathon, BTN Jakarta International Marathon, Jakarta Running Festival, dan Mandiri Jogja Marathon. Dalam beberapa rekomendasi outfit lari yang dipublikasikan akun nasional, Easy Sunday bahkan mulai disejajarkan dengan sejumlah merek olahraga yang lebih dahulu dikenal secara luas.
Kedua brand tersebut memiliki kesamaan yang menarik. Mereka tumbuh melalui proses panjang, inovasi, pemahaman terhadap pasar, dan keberanian membangun identitas merek. Keduanya juga telah melindungi produknya melalui Hak Kekayaan Intelektual sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
Ketika masyarakat di luar Sulawesi Selatan mengenal Yappay maupun Easy Sunday, publik secara otomatis menghubungkan keberhasilan tersebut dengan Makassar dan Sulawesi Selatan. Secara tidak langsung, keduanya ikut membangun citra daerah sebagai wilayah yang memiliki ekosistem ekonomi kreatif yang berkembang.
Di sinilah refleksi kebijakan menjadi penting.
Jika pemerintah daerah setiap tahun mengalokasikan APBD untuk pengembangan ekonomi kreatif dan UMKM, maka ukuran keberhasilannya semestinya tidak berhenti pada jumlah kegiatan yang terlaksana. Publik berhak mengetahui outcome yang dihasilkan. Berapa banyak usaha yang benar-benar naik kelas? Berapa banyak produk lokal yang mampu menembus pasar nasional? Dan berapa banyak merek yang berhasil menjadi identitas baru daerah?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menafikan peran pemerintah, melainkan mendorong agar orientasi kebijakan semakin bergeser dari output menuju outcome yang terukur.
Pada titik yang sama, organisasi pengusaha juga perlu mengambil peran yang lebih strategis. Organisasi tidak cukup hanya menjadi ruang berkumpul atau penyelenggara kegiatan kewirausahaan. Lebih dari itu, organisasi harus hadir sebagai pengawal kebijakan, memperjuangkan akses usaha yang lebih adil, mengusulkan perbaikan regulasi, serta memastikan program pemberdayaan benar-benar menghasilkan pelaku usaha yang naik kelas.
Jika pemerintah diukur dari outcome kebijakannya, maka organisasi pengusaha juga layak diukur dari outcome advokasinya.
Karena pada akhirnya, pelaku usaha tidak hidup dari seminar. Pelaku usaha tumbuh karena pasar mempercayai produknya. Mereka bertahan bukan karena seremonial, melainkan karena mampu menjawab kebutuhan konsumen.
Kisah Yappay dan Easy Sunday menunjukkan bahwa peluang selalu tersedia bagi mereka yang mampu menemukan karakter produknya, menjaga kualitas, memanfaatkan teknologi digital, dan berinovasi secara konsisten. Modal penting dalam ekonomi kreatif hari ini bukan hanya akses program, tetapi kemampuan membaca pasar yang terus berubah.
Karena itu, pesan bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif sangat sederhana. Jangan terlalu bergantung pada program yang sifatnya mengikuti siklus anggaran tahunan. Program dapat menjadi pendukung, tetapi fondasi utama tetap berada pada kemandirian usaha, kualitas produk, dan keberanian mengambil peluang.
Ketika sebuah produk mampu menjawab kebutuhan pasar, teknologi digital akan membantu memperluas jangkauannya. Ketika kualitas terjaga, konsumen akan menjadi media promosi yang paling efektif.
Keberhasilan Yappay dan Easy Sunday membuktikan bahwa produk lokal dari Makassar mampu berbicara di tingkat nasional. Mereka bukan hanya membangun usaha, tetapi juga membawa nama daerah ke ruang yang lebih luas.
Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan turut memberikan apresiasi terhadap capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan brand-brand lokal yang mampu menembus pasar nasional merupakan bukti bahwa pelaku ekonomi kreatif Sulawesi Selatan memiliki daya saing yang tinggi.
“Pencapaian Yappay dan Easy Sunday menunjukkan bahwa pelaku ekonomi kreatif Sulawesi Selatan mampu bersaing secara nasional. Ini patut diapresiasi karena bukan hanya mengembangkan usaha, tetapi juga membawa nama baik Sulawesi Selatan ke tingkat yang lebih luas. Ke depan, kebijakan publik harus semakin berorientasi pada outcome, yakni lahirnya lebih banyak usaha yang mampu tumbuh, mandiri, dan berkelanjutan.”
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi kreatif bukanlah banyaknya kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun. Ukurannya adalah berapa banyak usaha yang tumbuh, berapa banyak lapangan kerja yang tercipta, dan berapa banyak produk lokal yang berhasil membawa identitas daerahnya dikenal lebih luas.
Di situlah sesungguhnya makna pembangunan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. (*)




