Pekerjaan Bergaji Tinggi Sekarang Jadi Ladang Pengangguran

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita
Foto: Infografis/ Sebaran Pengangguran di Indonesia/ Edward Ricardo
Daftar Isi
  • Badai di Sektor Teknologi dan Finansial
  • Ancaman Nyata AI
  • Dampak Psikologis dan Finansial 'Gaya Hidup'

Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan besar tengah melanda pasar tenaga kerja global. Sejumlah profesi yang selama ini identik dengan pendapatan tinggi, jenjang karier menjanjikan, dan prestise sosial, kini justru menghadapi risiko kehilangan pekerjaan yang makin besar.

Fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor yang sebelumnya dianggap paling aman. Langkah efisiensi yang awalnya diperkirakan hanya bersifat sementara kini berkembang menjadi restrukturisasi jangka panjang di banyak perusahaan besar.


Industri teknologi, jasa keuangan, hingga konsultan bisnis menjadi contoh sektor yang mengalami tekanan paling nyata. Posisi-posisi yang dahulu menjadi incaran para pencari kerja kini justru masuk dalam daftar pekerjaan yang rentan dipangkas seiring upaya perusahaan menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi.

Data firma konsultan Janco Associates yang mengacu pada Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menunjukkan tingkat pengangguran di sektor teknologi informasi mencapai 3,8% pada April 2026, naik dibandingkan Maret 2026 sebesar 3,6%.

Sejumlah bisnis, khususnya di sektor teknologi mengatakan AI jadi salah satu alasan pengurangan pegawai terjadi. AI jadi alasan Meta mengurangi sekitar 8.000 pegawai atau 10%. Perusahaan menjelaskan tengah berupaya merampingkan operasional dan membiayai investasi di bidang AI.

Nike juga mengurangi 2% atau 1.400 orang karyawan. Sebagian besar berasal dari departemen teknologi dengan alasan menyederhanakan operasional global. Snap akan memecat 16% jumlah karyawan atau 1.000 peranan, alasannya untuk meningkatkan efisiensi.

Bidang teknologi lainnya, seperti telekomunikasi dan pengolahan data mengalami pengurangan 11% atau 342 ribu pekerjaan. Puncak kondisi ini terjadi pada November 2022 lalu.

Badai di Sektor Teknologi dan Finansial
Pilihan Redaksi
  • Peta Kekuatan Ekonomi 3 Tuan Rumah Piala Dunia: Kuasai 30% PDB Global
  • Miris! Bank Dunia Soroti Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI Turun Tajam

Selama masa keemasan tech-boom, para insinyur perangkat lunak (software engineers), analis data (data scientists), hingga manajer produk (product managers) menjadi komoditas paling mahal di pasar tenaga kerja. Perusahaan saling bakar uang demi merekrut talenta digital terbaik dengan tawaran gaji dua digit hingga fasilitas opsi saham.

Namun, era easy money telah berakhir. Pengetatan kebijakan moneter global dan tingginya suku bunga membuat aliran modal ventura (venture capital) mengering. Akibatnya, perusahaan teknologi mulai dari skala startup hingga raksasa Big Tech terpaksa melakukan rasionalisasi biaya secara agresif.

Ironisnya, para pekerja dengan gaji tertinggilah yang paling awal terkena dampak efisiensi ini demi menyelamatkan neraca keuangan perusahaan.

Kondisi serupa terjadi di sektor perbankan investasi (investment banking) dan konsultan manajemen papan atas. Penurunan aktivitas aksi korporasi seperti merger dan akuisisi (M&A) serta penawaran umum perdana (IPO) secara global membuat posisi-posisi analis berpendapatan tinggi kehilangan urgensinya.

Ancaman Nyata AI

Selain faktor makroekonomi, akselerasi adopsi Kecerdasan Buatan (AI) generatif menjadi katalis utama yang mengubah lanskap ini. AI tidak lagi sekadar menggantikan pekerjaan kasar atau repetitif, melainkan sudah mulai mengikis pekerjaan para pekerja kerah putih (white-collar workers) berketerampilan tinggi.

Profesi seperti analis hukum, pembuat kode pemrograman tingkat dasar hingga menengah (mid-level coders), analis riset pasar, hingga spesialis keuangan kini bisa direplikasi oleh sistem AI dengan biaya yang jauh lebih murah dan waktu yang lebih efisien.

Banyak perusahaan menyadari bahwa dengan mengintegrasikan AI, mereka dapat memangkas jumlah tim hingga separuhnya tanpa menurunkan produktivitas. Hal ini menciptakan surplus tenaga kerja ahli di pasar, di mana jumlah pelamar kerja berkualifikasi tinggi jauh melampaui lowongan yang tersedia.

Kepala Eksekutif Janco, Victor Janulaitis menjelaskan alasan perusahaan menunda atau mengurangi perekrutan tenaga IT karena dunia tengah menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

"Mengapa mereka harus merekrut spesialis AI untuk sesuatu yang mungkin tidak menghasilkan?" ucap Janulaitis, dikutip dari Wall Street Journal.

Dampak Psikologis dan Finansial 'Gaya Hidup'

Fenomena menganggurnya para pekerja bergaji tinggi ini membawa dampak turunan yang signifikan. Berbeda dengan pekerja sektor informal, kelompok profesional ini umumnya memiliki beban finansial yang disesuaikan dengan pendapatan tinggi mereka sebelumnya seperti cicilan hunian premium, kendaraan mewah, hingga biaya pendidikan anak di sekolah internasional.

Ketika kehilangan pekerjaan, kelompok ini sering kali mengalami lifestyle inflation shock. Mereka kesulitan menurunkan standar hidup dengan cepat, sementara tabungan yang ada terus tergerus untuk menutup biaya operasional yang tinggi.

Di sisi lain, proses pencarian kerja baru bagi para eksekutif dan profesional senior ini memakan waktu yang jauh lebih lama. Perusahaan yang tengah melakukan efisiensi cenderung enggan merekrut kandidat yang dianggap overqualified karena kekhawatiran akan ekspektasi gaji yang terlalu tinggi.

Para pengamat ketenagakerjaan menilai, kondisi ini memaksa para profesional untuk melakukan reskilling atau bahkan menurunkan ekspektasi kompensasi (salary downgrade) demi bisa kembali terserap ke dalam pasar kerja yang kini jauh lebih kompetitif dan pragmatis.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Teknologi Bantu Bisnis Konstruksi Makin Produktif, RI Siap?

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kejagung Sita 9 Bidang Tanah Milik Bos Smelter Terpidana Korupsi Timah
• 2 jam laluokezone.com
thumb
Bergerak Bersama, Beragam Cerita: Mengantar Kopi dari Lereng Gunung Argopuro Menuju Panggung Dunia
• 18 jam laluberitajatim.com
thumb
Link Live Streaming Timnas U19 Indonesia Vs Kamboja Posisi Ketiga Piala AFF U19 2026, Jam 16.00 WIB
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Erling Haaland Mendadak Tinggalkan Lapangan Hijau demi Arena Seluncur Es
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Susahnya Cari Pertalite di Tangerang Usai Harga Pertamax Melonjak...
• 8 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.