JAKARTA, KOMPAS.com - Pagi baru saja dimulai di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan. Namun, bagi sebagian warga lanjut usia (lansia), hari sudah berjalan dengan ritme kerja yang berat.
Ada yang sejak subuh menarik ojek online, ada yang mengangkat semen di proyek renovasi rumah, dan ada pula yang berdiri seharian mengatur parkir di tepi pertokoan.
Di usia ketika banyak orang membayangkan masa pensiun yang tenang, mereka justru masih bergulat dengan kerasnya mencari nafkah.
“Ya namanya juga orang susah, kita miskin, mau enggak mau ya harus kerja selagi bisa, apa pun itu,” kata Suparman (65), pengemudi ojek online di sekitar Ragunan saat ditemui Kompas.com, Rabu (10/6/2026).
Kalimat sederhana itu menggambarkan realitas pahit yang dihadapi banyak lansia di perkotaan, masa tua belum tentu identik dengan istirahat.
Bagi kelompok ekonomi bawah, hari tua justru sering kali menjadi fase paling rapuh secara finansial.
Baca juga: Kerja Sampai Tua, Kala Pensiun Hanya Mimpi bagi Sebagian Lansia
Suparman sudah hampir sembilan tahun menjadi pengemudi ojek online.
Sebelum itu, ia bekerja serabutan, mulai dari penjaga gudang hingga pekerjaan informal lain. Memasuki usia lanjut, peluang kerja formal baginya praktis tertutup.
“Kalau dibilang kuat ya enggak sekuat dulu. Pinggang sering sakit, lutut ngilu. Kalau hujan, sendi kerasa semua,” ujar dia.
Meski tubuh kerap memberi sinyal kelelahan, Suparman tak punya banyak pilihan.
Setiap hari, ia berangkat sekitar pukul 06.00 WIB dan baru pulang menjelang malam. Dalam sehari, ia bisa berada di jalan selama 10 hingga 12 jam.
Penghasilannya pun tak menentu. Kadang ia membawa pulang Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per hari, tetapi nominal itu belum dipotong bensin, makan, dan biaya perawatan motor.
“Buat hidup pas-pasan. Bukan cukup,” katanya.
Suparman masih membantu kebutuhan anak dan cucunya. Tagihan listrik, biaya sekolah cucu, hingga kebutuhan rumah tangga membuatnya tak berani berhenti.
“Pensiun? Saya enggak kenal pensiun. Pensiun itu buat orang kantoran,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Nasib serupa dialami Maman (67), buruh bangunan harian di kawasan Ragunan.
Sejak muda, hidupnya dihabiskan di proyek-proyek konstruksi. Hingga kini, ia masih mengaduk semen dan mengangkat bata.
“Berat banget. Dulu angkat semen 50 kilo santai. Sekarang 25 kilo saja napas ngos-ngosan,” kata Maman.
Setiap hari Maman bekerja dari pukul 08.00 hingga 17.00. Jika proyek dikejar tenggat, jam kerja bisa molor sampai magrib.
Di usia senja, tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Tangan kerap gemetar, pinggang nyeri, dan stamina terus menurun. Namun, berhenti bekerja bukan pilihan.
Baca juga: Lansia Masih Bekerja, Kalau Saya Sudah Enggak Ada, Cucu Saya Siapa yang Kasih Makan?
“Kalau enggak kerja, mau makan apa?” ucap Maman.
Ia tinggal bersama istrinya yang berjualan kecil-kecilan. Meski memiliki tiga anak, Maman tak ingin membebani mereka.
“Anak juga ekonominya biasa saja. Ada yang masih ngontrak. Saya enggak mau nyusahin,” tutur Maman.
Sepanjang hidupnya, Maman tak pernah punya tabungan hari tua. Yang paling ia takutkan bukan kematian, melainkan sakit berkepanjangan.
“Saya takut sakit dan enggak bisa kerja. Kalau mati mungkin selesai. Tapi kalau sakit lama, enggak kerja, enggak ada uang, itu yang bikin takut,” ucap dia.
Sementara itu, Firmansah (63), tukang parkir di area pertokoan dekat Ragunan, menghadapi pergulatan yang tak kalah berat.
Setiap hari ia berdiri dari pukul 07.00 WIB hingga sekitar pukul 20.00 WIB.
“Kelihatannya cuma parkir ya, tapi capek juga,” ujar Firman saat ditemui.
Aktivitasnya terus bergerak, mengatur kendaraan, membantu parkir, hingga mondar-mandir menjaga area. Dampaknya terasa jelas pada fisiknya.
“Lutut sakit, betis pegal, punggung kaku. Kalau malam pulang, kaki rasanya bukan kaki saya lagi,” katanya sambil tertawa.
Pendapatan Firman berkisar Rp 80.000 sampai Rp 150.000 per hari, tergantung ramai atau tidaknya pelanggan.
Namun, ketidakpastian pemasukan menjadi sumber kecemasan tersendiri.
Ia masih membantu anak bungsu yang belum mapan serta sesekali menanggung kebutuhan cucu.
“Namanya orangtua ya, walaupun anak sudah gede, kalau mereka kesusahan pasti kepikiran,” kata dia.
Baca juga: Banyak Lansia Rentan Belum Tersentuh Bantuan, Apa Persoalannya?
Peneliti ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menilai fenomena lansia yang tetap bekerja setelah memasuki usia pensiun tidak bisa dilihat semata sebagai pilihan personal.





