Pakar soroti peran AI dalam tingkatkan daya tarik peradaban China

antaranews.com
21 jam lalu
Cover Berita
Beijing (ANTARA) - Para pakar menyerukan penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) secara bijak untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan daya tarik peradaban China dalam sebuah forum satu hari yang diadakan di Beijing.

Forum Pertama tentang Kekuatan Komunikasi dan Pengaruh Peradaban China (The First Forum on the Communication Power and Influence of Chinese Civilization) digelar pada Rabu (10/6), bertepatan dengan Hari Internasional untuk Dialog Antarperadaban (International Day for Dialogue among Civilizations).

Diselenggarakan oleh International Institute of Chinese Studies dari Beijing Foreign Studies University (IICS-BFSU), forum perdana ini berfungsi sebagai platform bagi para pakar untuk berbagi pandangan mereka mengenai komunikasi internasional peradaban China dan untuk mengeksplorasi jalur baru dalam mendorong pertukaran budaya.

Kebangkitan AI telah menjadi variabel baru dalam penelitian dan promosi peradaban China serta secara mendalam membentuk kembali lanskap pertukaran antar peradaban dunia, kata Niu Xiping, wakil presiden International Confucian Association (Asosiasi Konfusianisme Internasional), dalam upacara pembukaan forum tersebut.

"AI dapat membantu kita menembus hambatan besar bahasa dan budaya, memungkinkan nilai inti peradaban China dikenal secara global dengan cepat," ujar Niu, yang mendeskripsikannya sebagai "kesempatan yang belum pernah ada sebelumnya" bagi peradaban China.

Penerapan AI dalam upaya promosi budaya di Dunhuang, sebuah pusat penting di Jalur Sutra kuno di Provinsi Gansu, China barat laut, menggambarkan sudut pandang akademisi tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Akademi Dunhuang (Dunhuang Academy) telah berkomitmen untuk mengembangkan "Gua Perpustakaan Digital" (Digital Library Cave), sebuah platform daring bagi publik global untuk menjelajahi secara digital peninggalan budaya Gua Perpustakaan di Gua Mogao, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO di kota bersejarah tersebut.

Didukung oleh perangkat AI canggih, platform ini memungkinkan pengguna untuk menerjemahkan teks klasik ke dalam berbagai bahasa dengan mudah hanya dengan satu klik dan langsung bertanya kepada asisten AI untuk mendapatkan penjelasan, sehingga memudahkan orang dalam memahami budaya Dunhuang.

Berbagai inovasi berbasis AI lainnya sedang dikembangkan untuk menanamkan vitalitas baru ke dalam budaya Dunhuang yang telah bertahan lama, mulai dari menghidupkan mural kuno lewat animasi hingga mengolah kembali partitur musik berusia ratusan tahun menjadi melodi modern, kata Tian Weiwei, seorang ahli dari IICS-BFSU.

Hal yang mendasari praktik budaya berbasis AI tersebut adalah fondasi yang kuat dan kemajuan pesat teknologi AI di negara itu. Data menunjukkan bahwa pada 2025, China memiliki lebih dari 6.000 perusahaan AI, sementara nilai output industri inti AI diperkirakan melampaui 1.2 triliun yuan (1 yuan = Rp2.653) atau sekitar 176 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.981) pada periode yang sama, mencerminkan kenaikan hampir 30 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Berdasarkan pencapaian tersebut, China berkomitmen untuk sepenuhnya melaksanakan inisiatif "AI Plus" dan memanfaatkan AI untuk memberdayakan semua sektor, termasuk budaya, sesuai dengan garis besar Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030).

Namun, tantangan baru juga muncul seiring dengan potensi AI untuk pemberdayaan. "Bias algoritma AI dapat menyebabkan kesalahan penafsiran budaya dan mengikis keaslian budaya kita," kata Xu Chang'an, seorang ahli dari sekolah Partai Komite Liga Hinggan dari Partai Komunis China (Communist Party of China/CPC).

Xu Baofeng, kepala Fakultas Sinologi dan Studi China (College of Sinology and Chinese Studies) di Universitas Bahasa dan Budaya Beijing (Beijing Language and Culture University), menggemakan pendapat tersebut dalam wawancaranya dengan Xinhua. Dia menyatakan bahwa alat AI terkadang gagal memberikan analisis dan penjelasan yang akurat tentang peradaban China karena kurangnya model penyelarasan lintas bahasa.

Sebagai respons terhadap masalah tersebut, Xu Baofeng dan tim penelitinya bekerja sama dengan para sinolog di luar negeri untuk mengembangkan model seperti itu agar dapat menafsirkan dengan lebih baik pengetahuan dan sistem nilai peradaban China dalam berbagai bahasa, serta memperkuat saling pengertian antara China dan seluruh dunia.

"Kita tidak boleh merasa optimistis yang berlebihan terhadap AI, tetapi juga tidak boleh menghindari teknologi tersebut," kata Niu, yang menyampaikan sikap seimbang dalam pidatonya. Menghadapi tren yang tidak dapat diubah, penting untuk melakukan lebih banyak penelitian tentang bagaimana memanfaatkan kekuatan AI untuk mempromosikan peradaban China," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Politikus Gerindra Pastikan Partainya Tak Akan Intervensi Kasus Korupsi MBG
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Dibocorkan Eks Member Cherry Belle Ini, Sarwendah Berat Badannya Kini Sampai Turun Tiga Kilo!
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Tentang Kejujuran dan Harapan Rakyat
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Perkuat Engagement, Bank Jakarta Gandeng Blibli Maksimalkan Inklusivitas Layanan
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Korban Air Keras di Kubu Raya, Kalbar Dilaporkan atas Dugaan Pemerkosaan
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.