Lansia Pilih Obati Diri Sendiri daripada ke Faskes: Tersiksa Antre Panjang dan Rujukan Berbelit

kompas.com
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap harinya kursi-kursi di ruang tunggu rumah sakit rujukan Jakarta sering penuh, bahkan sebelum matahari terbit.

Mereka merupakan pasien BPJS kesehatan yang sengaja datang sebelum subuh demi mendapat antrean awal untuk melakukan kontrol rutin dengan dokter spesialis.

Meski pendaftaran dilakukan pagi-pagi buta, tak jarang jadwal praktik dokter spesialis tersebut baru di siang hari.

Imbasnya, para pasien BPJS yang rumahnya jauh, memilih untuk menunggu di rumah sampai jadwal praktik itu berlangsung.

Tak jarang pula ketika dokter mulai praktik, para pasien tetap harus menunggu berjam-jam, karena antrean yang panjang.

Di antara kerumunan pasien, lansia sering kali menjadi kelompok yang paling rentan kelelahan ketika menunggu seharian untuk berkonsultasi.

Tak sedikit yang akhirnya memilih jalan pintas membeli obat sendiri dan merawat penyakitnya di rumah tanpa arahan dari dokter.

Baca juga: Kisah Lansia yang Tak Bisa Pensiun, Tetap Kerja meski Pinggang Sakit dan Tangan Gemetar

Dua tahun tak lagi ke faskes

Hal itu lah yang dialami lansia pengidap saraf terjepit, Cucum (63) yang sudah dua tahun tak lagi kontrol rutin ke rumah sakit.

Ada beberapa faktor yang membuat dirinya tak lagi datang ke fasilitas kesehatan secara rutin, mulai dari tak ada yang mengantar karena semua anaknya sibuk bekerja, hingga durasi mengantre yang lama.

Durasi mengantre yang memakan waktu seharian ini lah yang membuat anak-anak Cucum sulit untuk izin bekerja.

Sebab anak-anaknya tak diberikan izin oleh perusahaan untuk mengambil cuti setiap bulannya.

Di sisi lain, ketika ke rumah sakit Cucum harus menggunakan kursi roda, sehingga tak bisa pergi sendiri.

Selain tak ada yang mengantar, alasan Cucum enggan kontrol ke rumah sakit karena tak sanggup menunggu lama.

"Sangat menyiksa. Orang yang menderita saraf terjepit itu duduk sakit, berdiri sakit, bahkan jalan pun sakit. Sementara itu, kami harus menunggu sangat lama. Terkadang ada tindakan juga, pasiennya banyak, tapi dokternya datang lama," ketika Cucum ketika diwawancarai Kompas.com di kawawan Jakarta Selatan, Kamis (11/6/2026).

Tak jarang ketika menunggu dipanggil dokter, Cucum memanfaatkan kursi rumah sakit yang keras untuk sekedar berbaring agar rasa sakit akibat saraf terjepit di tulang ekornya bisa sedikit mereda.

Baca juga: Lansia Masih Bekerja, Kalau Saya Sudah Enggak Ada, Cucu Saya Siapa yang Kasih Makan?

Obat yang tak lengkap

Faktor lain yang membuat dirinya belum lagi datang ke rumah sakit untuk kontrol rutin karena seringkali mendapatkan obat tak lengkap.

Sebab tidak semua obat saraf terjepit dapat dicover oleh BPJS, sehingga tetap saja ia harus menebus mandiri di apotek.

"Karena tidak diberikan obat juga. Obatnya harus beli sendiri dan harganya mahal. Obat untuk saraf terjepit tidak diberikan oleh pemerintah. Jadi, rasanya percuma kontrol kalau obatnya tetap harus beli sendiri," sambung dia.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Obat yang diberikan dari rumah sakit seringkali hanya pereda nyeri sendi yang sering dibeli oleh Cucum dengan harga Rp 15.000 di apotek dan obat lambung.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Melonjak 7,38% dalam Sepekan, Kembali ke Level 6.000
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Dapur MBG Tak Merata, Distribusi Mengacu DTSEN Bisa Picu Kecemburuan
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Beda Sikap FIFA ke Indonesia dan Amerika Jadi Tuan Rumah Piala Dunia
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Donald Trump Telepon Timnas AS Jelang Laga Perdana Piala Dunia 2026
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Polisi Buka Suara Soal Asap Tebal di Tengah Demonstran Salemba
• 8 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.