Teknologi digital singkap dunia tersembunyi di pagoda kayu Yingxian

antaranews.com
8 jam lalu
Cover Berita
Taiyuan (ANTARA) - Baru-baru ini, ruang pengalaman imersif digital yang baru dibuka di objek wisata Pagoda Kayu Yingxian di Provinsi Shanxi, China utara, dan menyuguhkan kepada pengunjung perjalanan virtual menelusuri bangunan ikonik tersebut.

Suguhan itu memungkinkan pengunjung menjelajahi area-area yang ditutup untuk umum selama lebih dari satu dekade.

Terletak di sudut tenggara objek wisata tersebut, ruang pengalaman ini tidak memerlukan headset atau perangkat wearable. Begitu masuk, pengunjung akan dibawa ke versi virtual pagoda itu dan dipandu lantai demi lantai melalui presentasi audiovisual yang imersif.

"Cahaya matahari" tampak menyinari koridor interior, sementara patung, plakat, dan tangga terlihat sangat realistis, menciptakan sensasi seperti benar-benar berdiri di dalam bangunan kuno tersebut.

"Itu sungguh menakjubkan dan dapat menebus kekecewaan karena tidak bisa menaiki pagoda," tulis seorang pengunjung di media sosial.

"Fantastis. Akhirnya saya bisa melihat harta karun yang tersembunyi di dalam menara," bunyi komentar lainnya. Guna meningkatkan pengalaman visual, proyek ini menerapkan teknologi pencitraan tiga dimensi (3D) tanpa kacamata. Sebagai contoh, saat penyampaian introduksi tentang tiga jenis "dougong", sistem sambungan kayu saling mengunci tradisional yang menjadi ciri khas arsitektur China, struktur tersebut akan disorot dengan lampu, diperbesar, dan seolah-olah dihadirkan langsung di depan mata penonton.

Pagoda Kayu Yingxian memiliki sembilan lantai, termasuk lima lantai yang terlihat dan empat yang tersembunyi. Pagoda ini diakui sebagai pagoda kayu bertingkat tertua dan tertinggi di dunia yang masih berdiri dan pada dasarnya masih dapat diakses.

Namun, karena kerusakan akibat peperangan dan perubahan struktural historis, pagoda tersebut lambat laun mengalami kemiringan yang tampak jelas. Demi memastikan pelestariannya, otoritas warisan budaya menutup akses pengunjung ke tingkat atas sejak lebih dari 10 tahun yang lalu.

Untuk menyeimbangkan kebutuhan konservasi dengan permintaan publik akan akses, Pagoda Kayu Yingxian bermitra dengan berbagai institusi untuk mengembangkan "Pengalaman Imersif Multimodal AI Plus di Pagoda Kayu Yingxian".

"Keunggulan utama proyek ini adalah penggunaan sistem CAVE lima layar yang menciptakan pengalaman melayang yang sepenuhnya imersif," kata Yang Yinkai, yang perusahaannya bertanggung jawab untuk presentasi digital proyek tersebut.

Sepanjang perjalanan naik secara virtual ini, pengunjung dipandu oleh kombinasi narasi antropomorfik, tampilan grafis melayang, dan animasi adegan penuh, yang menyajikan introduksi komprehensif tentang sejarah, arsitektur, dan signifikansi budaya dari pagoda tersebut.

"Banyak plakat yang tergantung tinggi di atas kepala pengunjung, serta prasasti restorasi yang tersembunyi di sudut-sudut, sulit dilihat dengan jelas bahkan saat kunjungan langsung," tutur Yang.

"Namun, di ruang imersif ini setiap detail dapat dilihat dari dekat."







Guna meningkatkan pengalaman visual, proyek ini menerapkan teknologi pencitraan tiga dimensi (3D) tanpa kacamata. Sebagai contoh, saat penyampaian introduksi tentang tiga jenis "dougong", sistem sambungan kayu saling mengunci tradisional yang menjadi ciri khas arsitektur China, struktur tersebut akan disorot dengan lampu, diperbesar, dan seolah-olah dihadirkan langsung di depan mata penonton


"Setelah mengunjungi pameran tersebut, saya mendapatkan pemahaman yang jauh lebih dalam tentang pagoda itu dan merasakan tanggung jawab yang lebih besar untuk membantu melindunginya," kata Zhang Yuhao, seorang mahasiswa yang mengunjungi situs tersebut.

Transformasi digital Pagoda Kayu Yingxian mencerminkan tren yang lebih luas di sektor warisan budaya China, dengan teknologi canggih yang semakin banyak digunakan untuk melestarikan dan menampilkan berbagai harta karun bersejarah.

Saat ini, pengunjung secara virtual dapat memasuki makam Xu Xianxiu, seorang bangsawan Dinasti Qi Utara (550-577) di Taiyuan, dan menikmati mural-mural yang menggambarkan gaya hidup mewah para bangsawan pada masa tersebut. Mereka juga dapat "melayang" di dalam Kuil Xiaoxitian di wilayah Xixian untuk mengamati dari dekat patung-patung gantungnya yang terkenal.

Di tempat lain, film animasi pendek membantu penonton menjelajahi berbagai adegan kehidupan perkotaan di Bianjing, ibu kota Dinasti Song Utara (960-1127), seperti yang digambarkan dalam mural-mural Kuil Yanshan di wilayah Fanshi.

Pelestarian digital, revitalisasi warisan budaya, restorasi berbantuan AI, dan visualisasi imersif menjadi sarana yang semakin penting dalam upaya China untuk melindungi warisan budayanya.

Dengan menembus batasan ruang dan waktu, teknologi digital membuka dimensi baru untuk pelestarian budaya dan interaksi publik, memastikan harta karun kuno dapat terus menginspirasi generasi yang akan datang. Selesai






Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cerita Pejuang IVF yang Memilih Bangkit Lagi Setelah Programnya Belum Berhasil
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
DPC PPP Jakarta Selatan Laporkan Dugaan Pemalsuan Dokumen dan KTA ke Polda Metro Jaya.
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Rajiv Ajak Kader NasDem Bandung Barat Fokus Kerja Politik untuk Masyarakat
• 4 jam laludetik.com
thumb
Umrah Gagal, Uang Raib: Menagih Kehadiran Negara di Balik Kasus Hanania Travel
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Video: Perluas Pasar di Indonesia, Motor Premium Incar Pembeli Royal
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.