Banjarmasin (ANTARA) - Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) mengembangkan budidaya 80 ekor bibit lobster air tawar jenis Red Claw di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) 2 sebagai upaya diversifikasi usaha perikanan guna mendukung program ketahanan pangan.
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin Akhmad Herriansyah di Banjarmasin, Sabtu, mengatakan pengembangan budidaya lobster Red Claw menjadi langkah baru untuk memperluas komoditas perikanan produktif yang selama ini telah dijalankan di lingkungan lapas melalui berbagai jenis ikan air tawar.
“Kami berupaya merambah ke bidang yang baru, yaitu budidaya lobster air tawar. Sebelumnya, kami telah berhasil mengembangkan budidaya ikan lele, nila, patin, gurame, dan papuyu,” ujarnya.
Ia berharap diversifikasi usaha perikanan tersebut dapat berkembang optimal serta mampu meningkatkan produktivitas program pembinaan sekaligus memberikan keterampilan baru kepada warga binaan yang dapat dimanfaatkan sebagai bekal untuk berwirausaha setelah kembali ke masyarakat.
“Komoditas lobster air tawar memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan karena memiliki nilai jual relatif tinggi serta peluang pasar yang terus berkembang, sehingga berpotensi menjadi salah satu unit usaha produktif yang mendukung pembinaan kemandirian warga binaan,” katanya.
Selain menghasilkan produk perikanan, kata dia, program tersebut juga menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan untuk memahami teknik budidaya, pemeliharaan, hingga pengelolaan usaha yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah dan produktivitas.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Banjarmasin Bagus Paras Etika mengatakan budidaya lobster Red Claw merupakan bagian dari pengembangan program pembinaan kemandirian yang terus diperluas sesuai potensi sarana dan sumber daya yang dimiliki lapas.
Ia mengatakan pengembangan budidaya lobster Red Claw melengkapi sejumlah kegiatan perikanan yang telah berjalan di Lapas Banjarmasin dan menjadi bagian dari upaya menghadirkan program pembinaan yang produktif, inovatif, serta berkelanjutan guna mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kapasitas ekonomi warga binaan.
“Budidaya lobster air tawar Red Claw menjadi tantangan sekaligus peluang baru. Dengan pendampingan dan perawatan yang baik, program ini diharapkan dapat berjalan optimal serta menambah ragam keterampilan yang dimiliki warga binaan dalam bidang perikanan,” ujar Bagus.
Baca juga: Lapas Banjarmasin terima dua tersangka korupsi titipan KPK
Baca juga: Lapas Banjarmasin perketat pengamanan saat kunjungan lebaran
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin Akhmad Herriansyah di Banjarmasin, Sabtu, mengatakan pengembangan budidaya lobster Red Claw menjadi langkah baru untuk memperluas komoditas perikanan produktif yang selama ini telah dijalankan di lingkungan lapas melalui berbagai jenis ikan air tawar.
“Kami berupaya merambah ke bidang yang baru, yaitu budidaya lobster air tawar. Sebelumnya, kami telah berhasil mengembangkan budidaya ikan lele, nila, patin, gurame, dan papuyu,” ujarnya.
Ia berharap diversifikasi usaha perikanan tersebut dapat berkembang optimal serta mampu meningkatkan produktivitas program pembinaan sekaligus memberikan keterampilan baru kepada warga binaan yang dapat dimanfaatkan sebagai bekal untuk berwirausaha setelah kembali ke masyarakat.
“Komoditas lobster air tawar memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan karena memiliki nilai jual relatif tinggi serta peluang pasar yang terus berkembang, sehingga berpotensi menjadi salah satu unit usaha produktif yang mendukung pembinaan kemandirian warga binaan,” katanya.
Selain menghasilkan produk perikanan, kata dia, program tersebut juga menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan untuk memahami teknik budidaya, pemeliharaan, hingga pengelolaan usaha yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah dan produktivitas.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Banjarmasin Bagus Paras Etika mengatakan budidaya lobster Red Claw merupakan bagian dari pengembangan program pembinaan kemandirian yang terus diperluas sesuai potensi sarana dan sumber daya yang dimiliki lapas.
Ia mengatakan pengembangan budidaya lobster Red Claw melengkapi sejumlah kegiatan perikanan yang telah berjalan di Lapas Banjarmasin dan menjadi bagian dari upaya menghadirkan program pembinaan yang produktif, inovatif, serta berkelanjutan guna mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kapasitas ekonomi warga binaan.
“Budidaya lobster air tawar Red Claw menjadi tantangan sekaligus peluang baru. Dengan pendampingan dan perawatan yang baik, program ini diharapkan dapat berjalan optimal serta menambah ragam keterampilan yang dimiliki warga binaan dalam bidang perikanan,” ujar Bagus.
Baca juga: Lapas Banjarmasin terima dua tersangka korupsi titipan KPK
Baca juga: Lapas Banjarmasin perketat pengamanan saat kunjungan lebaran





