JAKARTA, DISWAY.ID -- Kebijakan pemerintah dan PT Pertamina (Persero) yang menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter terus menuai perdebatan di tengah masyarakat.
Kenaikan sebesar 32,1 persen dari harga sebelumnya Rp12.300 per liter dinilai tidak hanya berdampak pada pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi fiskal dan inflasi nasional.
Menurut sejumlah pengamat, kenaikan BBM nonsubsidi ini hanya menjadi tekanan terbatas bagi pengguna kendaraan pribadi, atau justru menjalar menjadi inflasi laten yang terasa di dapur, konsumsi harian, dan beban fiskal negara.
BACA JUGA:Ditjen Bina Adwil Perkuat Kerja Sama Sosial Ekonomi Perbatasan Indonesia-Malaysia
Hal serupa juga turut diungkapkan oleh Ekonom sekaligus Dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat.
Dalam penuturannya, dirinya menjelaskan bahwa selisih harga Pertamax dan Pertalite yang melebar tajam dari Rp 2.300 menjadi Rp 6.250 per liter inilah yang menjadi sumber masalah kebijakan.
"Dampak inflasi langsungnya memang tidak sebesar kenaikan BBM subsidi, tetapi sifatnya laten. Ia tampak terbatas dalam tabel makro, tetapi terasa di dompet, dapur, dan perut kelas menengah," jelas Achmad ketika dihubungi oleh Disway, pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Melanjutkan, Achmad juga menjelaskan bahwa ketika selisih harga keduanya mencapai Rp 6.250 per liter, migrasi menjadi perilaku rasional.
Dalam hal ini, konsumen akan bertanya, mengapa harus membayar Rp 16.250 jika masih ada pilihan Rp 10.000.
BACA JUGA:Ekonomi Sedang Pulih, Aktivis Muda Imbau Masyarakat Tetap Hindari Provokasi
"Bila dilakukan jutaan pengguna kendaraan, dampaknya menjadi fiskal. Oleh karena itu, kenaikan Pertamax tidak bisa dibaca hanya sebagai penyesuaian harga BBM nonsubsidi," pungkas Achmad.
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menjelaskan bahwa Pertamina perlu melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi berdasarkan dinamika geopolitik global dan harga minyak di pasar internasional, sembari tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat.
Kendati begitu, dirinya juga menegaskan bahwa harga Pertalite dan Biosolar tidak mengalami penyesuaian.
"Penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini, selain dilakukan di titik-titik SPBU Pertamina, juga dilakukan oleh SPBU badan usaha swasta lainnya," jelasnya dalam keterangan video.
BACA JUGA:Keren! 75 Persen Lulusan Sekolah Cendekia BAZNAS 2026 Lolos PTN Unggulan, Ini Kuncinya
- 1
- 2
- »





