jpnn.com - Kolumnis kondang Dahlan Iskan menyoroti keberanian Bupati Siak Afni Zulkifli menyurati Presiden Prabowo Subianto, demi menagih utang pemerintah pusat terhadap daerah itu.
Melalui surat yang dikirim kepada Presiden Prabowo, Bupati Afni menagih pembayaran dana bagi hasil (DBH) yang urung diterima penuh oleh Pemkab Siak.
BACA JUGA: Prabowo Baca Surat Siswa SMK Negeri 1 Sorong, Isinya Begini
Bupati Siak Afni Zulkifli dan Wakilnya Syamsurizal Budi. Foto:Source for JPNN.
Dahlan Iskan menyoroti langkah Bupati Siak tersebut dalam tulisannya berjudul Bagi Hasil, Sabtu (13/6/2026).
BACA JUGA: Terungkap Kelakuan Andri Mulyono dalam Pengadaan Motor Listrik BGN, Ada Pertemuan dengan Lodewyk Pusung
Awalnya Dahlan membahas program "Reboan" di Kementerian Dalam Negeri. Tiap hari Rabu, Dirjen Otonomi Daerah menggelar "open house" khusus untuk bupati, wali kota, wakil mereka, dan para gubernur.
"Keluh kesah para kepala daerah memang harus diberi muara. Kepala mereka sudah seperti mau meledak: sejak dana transfer pusat ke daerah disunat hampir sampai ke pangkalnya," tulis Dahlan.
BACA JUGA: Kritik Omongan Purbaya, Ichsanuddin Noorsy: Kenaikan Pertamax Bikin Ekonomi Tersendat, Rakyat Melarat
Dahlan menilai suara protes atas pemotongan transfer pusat ke daerah itu justru datang dari Kabupaten Siak, Provinsi Riau.
"Bupatinya bernama Dr. Afni Z, MSi. Bupati baru. Dia tidak merasa cukup dengan forum 'Reboan'. Afni sampai kirim surat langsung ke presiden," ungkap Dahlan.
Menurut Dahlan, yang ditunggu Pemkab Siak bukan hanya transferan dana bagi hasil tahun ini, DBH tahun sebelumnya juga belum dibayar penuh oleh pemerintah pusat, sehingga totalnya mencapai Rp 1 triliun.
"Total tunggakan itu mencapai hampir Rp 500 miliar. Yang ditunggu tahun ini juga Rp 500 miliar," ucapnya.
Dahlan menjelaskan bahwa Afni menjadi bupati melalui jalan yang panjang. Sampai dua kali proses peradilan di Mahkamah Konstitusi.
"Dia tidak pakai dana serangan fajar atau dana beli perahu untuk pencalonan," kata Dahlan.
Disebutkan bahwa modal Afni hanya nama besarnya sebagai putra daerah yang bergelar doktor dan pernah menjadi pemimpin redaksi sebuah koran di Riau.
"Afni gundah karena ingin segera melaksanakan janji-janji kampanye dulu. Dia minta perhatian pusat. Dia jadi bupati bukan berangkat dari nol tapi dari minus. Dia dapat warisan utang Rp 300 miliar dari bupati pendahulu," tutur Dahlan.
Selain soal tunggakan utang pusat, Dahlan menyebut Afni juga mengingatkan kontribusi historis Kabupaten Siak terhadap Republik Indonesia.
Kabupaten Siak dulunya kerajaan Melayu yang besar: kerajaan Siak Sri Indrapura. Kekuasaannya sampai Temasek, Johor dan Melaka. Belakangan Siak punya Raja ternama; Sultan Syarif Kasim II.
"Raja itu menyerahkan harta dan wilayahnya begitu saja untuk perjuangan berdirinya Republik Indonesia," ujar Dahlan menyitir penjelasan Afni.
Catatan Dahlan tersebut menjadi sorotan karena memperlihatkan secara terbuka kegelisahan pemerintah daerah terhadap keterlambatan penyaluran dana bagi hasil yang menjadi salah satu sumber pendapatan utama daerah penghasil sumber daya alam.(fat/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam




