IHSG Rebound, Mirae Asset Sekuritas Soroti Stabilisasi Rupiah dan Yield SBN

idxchannel.com
2 jam lalu
Cover Berita

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan pemulihan setelah mengalami koreksi tajam.

IHSG Rebound, Mirae Asset Sekuritas Soroti Stabilisasi Rupiah dan Yield SBN. (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan pemulihan setelah mengalami koreksi tajam dalam beberapa waktu terakhir. Penguatan tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai apakah rebound yang terjadi saat ini merupakan awal dari perbaikan sentimen atau sekadar technical rebound setelah penurunan yang cukup dalam.

Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi oleh faktor technical rebound. Namun demikian, menurutnya pergerakan tersebut bukan tanpa dukungan perkembangan fundamental yang lebih baik dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Baca Juga:
IHSG Betah di Zona Hijau, Sesi II Berakhir Naik 4,12 Persen ke 6.254

"Penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi oleh technical rebound. Namun, rebound tersebut bukan tanpa dasar karena mulai terlihat tanda-tanda bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia yang lebih tegas serta de-eskalasi ketegangan geopolitik turut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan yield obligasi. Meski demikian, arus modal asing masih cenderung selektif," ujar Rully dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).

Sebelumnya, pasar keuangan domestik menghadapi tekanan akibat pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi tersebut mendorong kenaikan risk premium Indonesia yang pada akhirnya membebani valuasi pasar saham.

Baca Juga:
IHSG Mulai Pulih, Deretan Saham Ini Jadi Unggulan Analis

Menurut Rully, keberlanjutan penguatan IHSG akan sangat bergantung pada perkembangan sejumlah indikator makro yang menjadi perhatian investor, terutama pergerakan nilai tukar rupiah dan yield obligasi pemerintah.

"Jika rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya di atas 7,3 persen menuju kisaran yang lebih rendah, premi risiko Indonesia akan menurun. Kondisi tersebut akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham," jelasnya.

Ke depan, pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan sentimen global, arah kebijakan moneter, serta stabilitas pasar keuangan domestik. Meskipun tanda-tanda perbaikan mulai terlihat, investor masih menunggu konfirmasi yang lebih kuat bahwa penurunan risk premium dan stabilisasi rupiah dapat berlanjut secara berkelanjutan sebelum optimisme terhadap pasar kembali menguat.

(Shifa Nurhaliza Putri)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BPS Resmi Mulai Sensus Ekonomi 2026, Pendataan Usaha Nasional Dimulai 15 Juni
• 10 jam laluidxchannel.com
thumb
Rekomendasi Mobil Keluarga di Kategori Mobil Bekas Rp40 Jutaan, Masih Layak Dibeli
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Kendaraan Taktis Polisi Disiagakan di Bundaran HI Jelang Demo Mahasiswa
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Dokter Ungkap Penyebab Kulit Cepat Menua di Indonesia
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Ungkapan Mengejutkan Ancelotti soal Penyebab Brasil Gagal Menang Vs Maroko di Piala Dunia 2026
• 21 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.