Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mulai memetakan sejumlah daerah yang memiliki produk unggulan autentik untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata belanja.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam meningkatkan daya tarik pariwisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui produk lokal dan ekonomi kreatif.
Ni Made Ayu Marthini Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata mengatakan bahwa wisata belanja memiliki potensi besar untuk menarik kunjungan wisatawan, sebagaimana yang telah diterapkan di berbagai negara.
“Di banyak negara, wisata belanja bahkan menjadi pemicu utama kunjungan wisatawan,” kata Made dilansir dari Antara, Sabtu (13/6/2026).
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang yang sama karena setiap daerah menawarkan produk khas yang berbeda dan memiliki nilai keunikan tersendiri.
“Indonesia juga memiliki potensi yang sama, karena setiap daerah memiliki karakter produk unggulan yang berbeda dan autentik,” ujarnya.
Saat ini, Kemenpar tengah menyusun konsep layanan perjalanan wisata belanja yang mengintegrasikan pusat perbelanjaan unggulan, produk khas daerah, serta pengalaman kuliner dan budaya lokal dalam satu paket perjalanan.
Pada tahap awal, program tersebut akan difokuskan pada sejumlah kota yang selama ini dikenal sebagai tujuan belanja favorit wisatawan, yakni Jakarta, Bandung, Batam, Bali, Medan, dan Surabaya.
Made menjelaskan, masing-masing daerah memiliki keunggulan yang dapat menjadi daya tarik wisata belanja. Jakarta menawarkan pengalaman berbelanja modern dan gaya hidup perkotaan, sementara Bandung dikenal sebagai pusat fesyen dan produk kreatif.
Di sisi lain, Batam memiliki posisi strategis karena berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, sehingga berpotensi menarik wisatawan lintas negara untuk berburu produk unggulan. Medan juga dinilai memiliki kekuatan besar melalui ragam kuliner khas yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Sementara itu, Surabaya diproyeksikan berkembang sebagai pusat wisata belanja yang terintegrasi dengan wisata kuliner, sedangkan Bali tetap menjadi destinasi unggulan berkat produk kerajinan, layanan kebugaran, serta berbagai produk gaya hidup yang telah dikenal wisatawan domestik maupun mancanegara.
Meski tahap awal difokuskan pada kota-kota besar, Kemenpar menegaskan pengembangan wisata belanja ke depan akan diperluas ke berbagai daerah berbasis potensi lokal. Program tersebut mencakup sentra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), desa wisata, hingga kawasan ekonomi kreatif yang memiliki produk khas dan bernilai jual tinggi.
“Namun ke depan, pendekatan ini juga akan diperluas ke daerah-daerah lain berbasis kekuatan lokal, termasuk sentra UMKM, desa wisata, dan pusat ekonomi kreatif,” kata Made.
Kementerian Pariwisata menilai wisata belanja bukan sekadar aktivitas membeli produk, melainkan bagian dari pengalaman perjalanan yang dapat memperkuat daya saing sebuah destinasi.
“Kementerian Pariwisata melihat wisata belanja sebagai salah satu atraksi yang mampu memperkuat ekosistem pariwisata daerah,” ujarnya.
Menurut Made, produk lokal, fesyen, kriya, oleh-oleh khas hingga pengalaman gaya hidup dapat menjadi faktor tambahan yang mendorong wisatawan memilih suatu destinasi.
Selain meningkatkan jumlah kunjungan, wisata belanja juga diyakini mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan dan meningkatkan pengeluaran selama berwisata.
Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor perdagangan, tetapi juga menggerakkan sektor pendukung lainnya seperti kuliner, transportasi, akomodasi, hingga industri ekonomi kreatif di daerah. (ant/saf/faz)



