Temanggung: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengimbau para pendaki Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prahu tidak membuat api unggun di kawasan puncak maupun jalur pendakian. Imbauan ini disampaikan agar tidak menimbulkan kerawanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Temanggung Totok Nursetyanto mengatakan saat ini sedang musim kemarau sehingga kondisi di bagian atas gunung-gunung tersebut kering dan cenderung dingin.
"Kami sudah menyampaikan kepada teman-teman basecamp untuk mengingatkan para pendaki agar tidak membuat api unggun di atas. Selain itu, pendaki juga diimbau membawa perlengkapan yang cukup karena udara di gunung pada musim kemarau cukup dingin," katanya, dilansir dari Antara, Jumat 13 Juni 2026.
Baca Juga :
Oleh karena itu, para pendaki diminta mempersiapkan perlengkapan secara matang dan memperhatikan daftar perlengkapan yang telah direkomendasikan oleh masing-masing basecamp. Imbauan tersebut juga telah disampaikan kepada seluruh pengelola basecamp agar diteruskan kepada para pendaki sebelum memulai perjalanan.
Seandainya terpaksa membuat api unggun, kata dia, setelah selesai mereka harus mematikan api atau tidak meninggalkan bara api. "Jangan meninggalkan bara api sedikit pun, karena hal itu dapat memicu timbulnya kebakaran," ungkapnya.
Selain upaya pencegahan melalui edukasi kepada pendaki, kesiapsiagaan penanganan kebakaran di kawasan pegunungan juga terus diperkuat.
Gunung Sumbing. (Dokumentasi/ Metro TV)
Pada 2024, pengelola kawasan gunung mendapatkan bantuan peralatan pemadaman dari BPBD berupa lima alkon (alat penyedot air) berukuran besar, 10 alkon kecil, serta selang pemadam dengan panjang total sekitar 90 meter yang terdiri atas tiga gulungan, masing-masing sepanjang 30 meter.
Ia menjelaskan, peralatan tersebut telah didistribusikan ke tiga kawasan gunung, yakni Sumbing, Sindoro, dan Prahu. Pengelola destinasi maupun basecamp menerima peralatan itu dengan status pinjam pakai untuk mendukung penanganan darurat di lapangan.
"Jadi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, peralatan sudah tersedia di lokasi dan tinggal menyesuaikan kebutuhan dukungan dari bawah," ucapnya.




