Media Internasional Soroti Cara Bertahan Warteg dari Naiknya Harga Bahan Baku, Akal-Akalan Main Pengurangan Porsi Lauk

wartaekonomi.co.id
13 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Media internasional asal Jepang, Nikkei menangkap fenomena shrinkflation atau pengurangan ukuran porsi hidangan/lauk tanpa mengubah harga.

Dalam laporan "Indonesia's shrinkflation belies government's 'strong' fundamentals claim", Nikkei menyebut fenomena ini semakin nyata terjadi di tengah masyarakat Indonesia.

Langkah shrinkflation ini terpaksa diambil para pemilik warung tegal (warteg) demi menyiasati lonjakan biaya bahan baku akibat melemahnya nilai tukar rupiah, sekaligus menjaga daya beli konsumen yang kian merosot.

Ketua Komunitas Warteg Indonesia, Mukroni, mengungkapkan bahwa para pengusaha warteg kini berada di posisi dilematis. Menaikkan harga makanan berisiko membuat mereka kehilangan pelanggan yang saat ini tengah mengalami tekanan ekonomi.

Demi menyiasati kenaikan harga bahan baku, pemilik warteg memilih mengurangi porsi lauk alih-alih menaikkan harga. Langkah ini diambil untuk menjaga pelanggan yang daya belinya sedang merosot.

"Harga bahan makanan naik. Pemilik warteg harus bertahan. Awalnya kami memilih menyerap kenaikan biaya dengan mengorbankan margin. Namun, karena margin terus menyusut, kami harus menyesuaikan ukuran porsi meskipun hal itu mengecewakan pelanggan," kata Mukroni kepada Nikkei.

Tekanan di sektor riil ini sejalan dengan kondisi makroekonomi Indonesia yang sedang bergejolak. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menembus level psikologis baru di angka Rp18.000 per dolar AS pada pekan lalu.

Catatan ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang tahun ini.

Laporan itu juga menyebut kondisi di lapangan dinilai kontras dengan retorika optimistis para pejabat di Jakarta yang menyatakan fundamental ekonomi Indonesia tetap "kuat".

Pemerintah kerap merujuk pada pertumbuhan ekonomi kuartal I sebesar 5,61% (yoy) dan angka inflasi Mei yang diklaim terkendali di posisi 3,08%.

"Jangan khawatir. Fondasi ekonomi kuat, dan kebijakan sudah ditempatkan dengan mantap. Konsumsi rumah tangga tetap sehat dan aktivitas ekonomi terus berkembang," ujar Menteri Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. Pemerintah juga menyoroti kenaikan penjualan mobil ritel sebesar 8,8% pada lima bulan pertama tahun 2026 yang didorong insentif kendaraan listrik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KSP Kawal Pelaksanaan Program Sekolah Rakyat di Malang
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus di UMM, Beroperasi 2027
• 20 jam lalurepublika.co.id
thumb
IDAI dukung tindak lanjut program skrining hepatitis
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Valuasi Murah dan Risiko Berkurang, IHSG Diproyeksi Masuk Tren Pemulihan
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Kecelakaan Maut di Sidoarjo, Pemotor Tewas Terlindas Truk Tangki usai Gagal Menyalip
• 3 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.