Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendukung rencana pelaksanaan skrining hepatitis melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), namun mengingatkan agar deteksi dini tersebut diikuti dengan penanganan yang jelas bagi pasien yang terdiagnosis.
Ketua Umum PP IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) mengatakan skrining merupakan langkah penting untuk menemukan kasus hepatitis sejak dini, tetapi manfaatnya akan berkurang apabila tidak disertai tindak lanjut pengobatan dan pemantauan pasien.
"Skrining itu bagus, tapi harus ada follow-up-nya. Jangan sampai hanya jadi gimik. Begitu ditemukan anak yang positif, tindak lanjutnya harus jelas," kata Piprim saat kegiatan puncak HUT ke-72 IDAI di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Minggu.
Ia mengatakan IDAI siap bekerja sama dalam mendukung pelaksanaan dan tindak lanjut hasil skrining hepatitis pada anak.
Baca juga: Menkes: Lewat CKG, RI kejar target skrining hepatitis B-C 90 persen
"IDAI siap bekerja sama untuk menindaklanjuti hasil skrining tersebut," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah tengah menggalakkan program Cek Kesehatan Gratis guna meningkatkan cakupan skrining hepatitis B dan C sesuai target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Menurut Budi, pemerintah menargetkan program CKG dapat menjangkau 136 juta orang pada 2026, meningkat dari target 70 juta orang pada 2025. Upaya tersebut dilakukan untuk mempercepat deteksi berbagai penyakit, termasuk gangguan hati yang disebabkan hepatitis B dan C.
Selain mendukung skrining, Piprim menekankan pentingnya upaya pencegahan hepatitis sejak dini melalui imunisasi.
Ia menjelaskan hepatitis B dan hepatitis A merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi sehingga cakupan imunisasi perlu terus ditingkatkan.
Menurut dia, pemberian vaksin hepatitis B segera setelah bayi lahir menjadi langkah penting untuk mencegah infeksi yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada masa mendatang.
"Sangat penting memberikan vaksin Hepatitis B segera setelah anak lahir untuk mencegah masalah kesehatan saat dia dewasa nanti," katanya.
IDAI menilai upaya pencegahan melalui imunisasi dan deteksi dini melalui skrining perlu berjalan beriringan guna menekan beban penyakit hepatitis pada anak di Indonesia.
Baca juga: Tes tusuk jari akan perluas akses diagnosis hepatitis B
Baca juga: Kolaborasi lintas sektor dorong pencegahan hepatitis di Indonesia
Baca juga: Deteksi dini dan vaksinasi efektif cegah Hepatitis B sebesar 95 persen
Ketua Umum PP IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) mengatakan skrining merupakan langkah penting untuk menemukan kasus hepatitis sejak dini, tetapi manfaatnya akan berkurang apabila tidak disertai tindak lanjut pengobatan dan pemantauan pasien.
"Skrining itu bagus, tapi harus ada follow-up-nya. Jangan sampai hanya jadi gimik. Begitu ditemukan anak yang positif, tindak lanjutnya harus jelas," kata Piprim saat kegiatan puncak HUT ke-72 IDAI di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Minggu.
Ia mengatakan IDAI siap bekerja sama dalam mendukung pelaksanaan dan tindak lanjut hasil skrining hepatitis pada anak.
Baca juga: Menkes: Lewat CKG, RI kejar target skrining hepatitis B-C 90 persen
"IDAI siap bekerja sama untuk menindaklanjuti hasil skrining tersebut," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah tengah menggalakkan program Cek Kesehatan Gratis guna meningkatkan cakupan skrining hepatitis B dan C sesuai target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Menurut Budi, pemerintah menargetkan program CKG dapat menjangkau 136 juta orang pada 2026, meningkat dari target 70 juta orang pada 2025. Upaya tersebut dilakukan untuk mempercepat deteksi berbagai penyakit, termasuk gangguan hati yang disebabkan hepatitis B dan C.
Selain mendukung skrining, Piprim menekankan pentingnya upaya pencegahan hepatitis sejak dini melalui imunisasi.
Ia menjelaskan hepatitis B dan hepatitis A merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi sehingga cakupan imunisasi perlu terus ditingkatkan.
Menurut dia, pemberian vaksin hepatitis B segera setelah bayi lahir menjadi langkah penting untuk mencegah infeksi yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada masa mendatang.
"Sangat penting memberikan vaksin Hepatitis B segera setelah anak lahir untuk mencegah masalah kesehatan saat dia dewasa nanti," katanya.
IDAI menilai upaya pencegahan melalui imunisasi dan deteksi dini melalui skrining perlu berjalan beriringan guna menekan beban penyakit hepatitis pada anak di Indonesia.
Baca juga: Tes tusuk jari akan perluas akses diagnosis hepatitis B
Baca juga: Kolaborasi lintas sektor dorong pencegahan hepatitis di Indonesia
Baca juga: Deteksi dini dan vaksinasi efektif cegah Hepatitis B sebesar 95 persen





