Gunung Merapi, Siaga itu Masih Bahaya

metrotvnews.com
14 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Di Merapi, kehidupan dan resiko sudah lama hidup berdampingan. Di tengah kehidupan yang terus berjalan, masyarakat lereng Merapi menumbuhkan local wisdom. Cara membaca alam dan menjaga kewaspadaan. 
Mengenal status Gunung Merapi
BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta juga menggambarkan, di tengah status level 3 atau siaga kehidupan di lereng Merapi tetap berjalan seperti biasa. Tapi satu hal harus jelas, hidup berdampingan dan terbiasa bukan berarti bahayanya hilang.

Status Gunung Merapi saat ini berada pada level 3, dan dampak pembacaannya itu tidak berdiri di ruang kosong, karena di sekelilingnya, di lingkar Merapi, ada kawasan yang padat aktivitas masyarakat. Setidaknya, ada empat kabupaten di lingkar Merapi. Ada Sleman, kemudian juga ada Magelang, kemudian juga ada Boyolali, dan Klaten. 

Artinya, ketika status Merapi siaga yang sedang dibicarakan bukan hanya gunungnya, tetapi juga ruang hidup warga, jalur sungai, kemudian juga pertanian dan kawasan yang setiap hari digunakan untuk beraktivitas. 

Baca Juga :

Merapi Siaga, 21 Guguran Lava Pijar Meluncur hingga 2.000 Meter
Bahaya yang terlalu akrab
Nah, karena Merapi berdampingan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Kita perlu lihat bagaimana realitas sosial di lereng Merapi sebenarnya berjalan hari demi hari. BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta, menggambarkan bahwa di tengah aktivitas gunung Merapi  yang masih berada pada level 3, aktivitas warga berjalan seperti biasa. Kalimat ini sebagai gambaran sosial, tapi tidak boleh salah dibaca sebagai tanda bahwa bahayanya sudah hilang.  Yang tetap berjalan adalah kehidupan warganya, bukan berarti status siaganya menjadi nggak penting.
Sistem pemantauan gunung api Indonesia
Karena Merapi berdampingan langsung dengan kehidupan sehari-hari, kita perlu lihat bagaimana realitas sosial di lereng Merapi sebenarnya berjalan. Kita harus juga melihat bahwa gunung Merapi harus dibaca dalam konteks yang lebih besar. Indonesia memiliki 127 gunung api, dan PVMBG melakukan pemantauan selama 24 jam dalam sistem kewaspadaan nasional. Dan 68 gunung api dipantau terus-menerus melalui 75 pos pengamatan. 

Bahkan, Merapi bukan satu-satunya gunung api dengan kewaspadaan tinggi, karena Semeru juga muncul dalam status siaga. Artinya, status siaga itu bukan kesan sepihak, melainkan bagian dari pembacaan resiko nasional yang terus diperbaharui.

Setelah konteks nasionalnya kebaca, sekarang kita balik lagi ke Merapi. Kalau status siaga, sebenarnya batas bahayanya itu seperti apa? Bahaya bisa terasa makin akrab karena dua hal. Pertama, karena masyarakat sudah terlalu sering hidup berdampingan dengan Merapi. Yang kedua, aktivitas harian masih tetap berjalan. Dari sini muncul resiko normalisasi, yaitu ketika ancaman yang masih nyata pelan-pelan tidak lagi dibaca dengan kewaspadaan yang seharusnya.

Baca Juga :

Merapi dan Semeru Level III Siaga, Waspadai Aktivitas Vulkanik
Merapi memang akrab dengan kehidupan warga, tapi rasa akrab itu tidak pernah sama dengan rasa aman. Kalau begitu, untuk menguji apakah situasinya masih berbahaya, kita tidak cukup memakai rasa atau persepsi. Kita harus lihat apa yang dikatakan oleh otoritas resmi.

Pernyataan resmi dari BPPTKG, yaitu Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanan Geologi, memberi batas yang sangat jelas. Masyarakat diimbau agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya dan tetap mewaspadai lahar serta awan panas guguran. Terutama saat hujan terjadi di sekitar Gunung Merapi.

Ini penting. Karena dari sisi otoritas, pesan yang keluar bukan pesan pelonggaran, melainkan pesan kewaspadaan. Jadi, kalau ada anggapan bahwa status siaga bisa dianggap biasa saja, peringatan ini justru menunjukkan sebaliknya. Dan imbauan itu tidak berdiri tanpa dasar. Karena aktivitas Merapi yang terbaru juga menunjukkan bahwa ancaman itu masih konkret. 
Update Gunung Merapi
Pada kemarin, 12 Juni, pukul 6.16 waktu Indonesia Barat, dengan jarak luncur 2.000 meter ke arah Barat Daya. Yaitu di Kali Putih, dalam periode tengah malam sampai dengan pukul 6 pagi juga tercatat 10 kali guguran lava, dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter ke arah Kali Boyong. Jadi, ini bukan situasi yang hanya terasa beresiko, tapi memang masih menunjukkan aktivitas yang harus dibaca serius.

Karena itu pertanyaannya, bukan lagi apakah Merapi masih aktif, tapi bagaimana status siaga itu harus dibaca dalam tindakan sehari-hari. Di Merapi, kata siaga, bukan sekedar label administrasi. Ada arti operasional yang sangat konkret. Potensi guguran lava dan awan panas masih dipetakan pada sektor-sektor tertentu, dengan batas yang jelas. 
Membaca arti 'Siaga' di Merapi
Sungai Boyong, di maksimal 5 kilometer. Bedok, Krasar, dan Belbang, di 7 kilometer. Kemudian juga di Sungai Gendol, maksimal 5 kilometer. Dominan sungai-sungai ini melintas di Kabupaten Sleman, di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan lontaran material eksplosif masih dimungkinkan dalam radius 3 kilometer.

Ancaman lahar juga perlu diwaspadai di sungai-sungai yang berhulu di Merapi saat hujan. Jadi, siaga berarti bahaya masih nyata, masih terpetakan, dan masih harus dipatuhi batasnya. Kalau batas bahayanya sejelas itu, wajar kalau sistem mitigasinya juga dibangun dengan serius.
Mitigasi struktural Gunung Merapi
Kita lihat, sistem mitigasi di Merapi, sistem mitigasi struktural di Gunung Merapi, menunjukkan satu hal penting. Resiko ini nggak pernah dianggap setelit. Ada 278 unit sabo dam di lereng Merapi, 36 unit early warning system milik Pemkab Sleman, 7 unit EWS milik BPP TKG.

Kesiapan barak pengungsian di kawasan rawan bencana, dan simulasi kebencanaan yang dilakukan rutin setiap tahun. Jadi, logikanya sederhana. Kalau resikonya boleh diremehkan, sistem sebesar ini nggak perlu dibangun. Justru karena ancamannya nyata, kesiap-siapan warga terus diperkuat. Dan dari seluruh rangkaian ini, kita sampai pada satu kesimpulan yang sangat sederhana. Terbiasa boleh, tapi meremehkan jangan.
Call to action
Dan dari seluruh data tadi, ada beberapa sikap dasar yang nggak bisa ditawar. Pertama, patuh pada status siaga. Kedua, jangan menormalisasi status siaga. Yang ketiga, jangan masuk ke zona potensi bahaya. Dan yang terakhir, melakukan atau menerima informasi dari badan atau instansi resmi. Empat poin ini penting, karena dalam situasi gunung api aktif, masalah terbesar seringkali bukan hanya ancamannya, tapi juga salah baca terhadap ancaman itu sendiri.

Kenapa kepatuhan pada status resmi itu penting? Karena merapih bukan kasus tunggal, melainkan bagian dari sistem kewaspadaan gunung api secara nasional. Merapi bukan hanya tentang ancaman, Merapi juga tentang masyarakat yang sudah lama hidup berdampingan dengannya. Dan disitulah lokal wisdom atau karifan lokal tumbuh, bukan sebagai pengganti mitigasi, tapi sebagai kekuatan non-struktural yang menjaga ingatan, kepekaan, dan solidaritas warga.

Ketika karifan lokal itu bertemu dengan mitigasi struktural yang kuat, dengan peringatan dini, jalur evakuasi, infrastruktur pengendali, dan latihan kesiap siagaan, maka perlindungan bagi warga juga menjadi lebih kuat. Jadi, pesan besarnya bukan memilih salah satu, tapi menjaga agar keduanya saling menguatkan. Lokal wisdomnya hidup, mitigasinya kuat, dan keselamatan warga menjadi prioritas.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Klasemen Piala Dunia 2026: Brasil Kececer di Peringkat 3, Australia Bikin Kejutan Jadi Runner Up
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Pelatih Swiss Tak Bisa Sembunyikan Kekecewaan Usai Gol Bunuh Diri Menit 94 Buyarkan Kemenangan
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Cara Mengenali Orang yang Dapat Dipercaya dari Caranya Bergaul
• 1 jam lalubeautynesia.id
thumb
Data Center Masuk Desa, Warga Menderita-Pengusaha Justru Untung Gede
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
KPK Tak Banding, Terima Vonis 4,5 Tahun Penjara Noel Ebenezer
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.