TABLOIDBINTANG.COM - Keputusan Ruben Onsu menjadi mualaf kembali menjadi perbincangan publik. Kali ini, sorotan muncul setelah putra angkatnya, Betrand Putra Onsu, menyampaikan curahan hati mengenai kondisi keluarganya yang disebut mengalami perubahan setelah sang ayah berpindah keyakinan.
Melalui unggahan di Instagram Story, penyanyi berusia 21 tahun yang akrab disapa Onyo itu mengungkap adanya pandangan tertentu yang ia dan kedua adiknya terima setelah Ruben memeluk Islam. Menurutnya, anak-anak seharusnya dibekali pemahaman mengenai toleransi antarumat beragama, bukan diarahkan untuk memandang keputusan ayah mereka secara negatif.
“Meminta kami untuk (terlihat) stres mendengar ayah pindah keyakinan. Seharusnya kami diajarin tentang toleransi, terutama adik-adik,” ujar Betrand Peto dalam unggahannya, Minggu (13/6).
Onyo kemudian mengaku sempat menerima pemahaman yang menggambarkan keyakinan baru sang ayah dalam sudut pandang yang buruk. Namun, pengalaman yang ia rasakan saat tinggal bersama Ruben justru membuatnya memiliki pandangan berbeda.
Ia mengatakan bahwa informasi yang selama ini diterimanya tidak sesuai dengan kenyataan yang ditemuinya secara langsung. Karena itu, ia merasa perlu menyampaikan hal tersebut kepada publik.
“(Doktrin) yang kami terima, keyakinan ayah yang baru tidak baik pengertiannya. Tapi setelah aku tinggal sama ayah, semua berbanding terbalik dengan apa yang dia ucapkan di telinga kami," jelasnya.
Tidak hanya dirinya, Onyo menyebut kedua adiknya, Thalia dan Thania, juga menerima berbagai informasi yang menurutnya membentuk penilaian negatif terhadap Ruben. Kondisi tersebut disebut berdampak pada hubungan keluarga yang semakin merenggang.
“Kasihan adik-adik mereka sudah banyak terprovokasi tentang ayah yang tidak baik, terutama Cici!! Dan kalian berhasil membuat Cici membenci ayah dan saya,” tulisnya.
Pernyataan tersebut menambah panjang polemik yang belakangan berkembang di ruang publik terkait hubungan Ruben dengan keluarganya. Di tengah situasi tersebut, Onyo berharap tidak ada lagi pihak yang memperkeruh keadaan dengan pernyataan-pernyataan yang dapat memicu konflik baru.




