Pemerintah Bakal Libatkan Mahasiswa-Perguruan Tinggi Awasi MBG

liputan6.com
7 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman mendengarkan sejumlah kritik dari mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) terkait berbagai program pemerintah, salah satunya Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dudung mengatakan bahwa pemerintah akan melibatkan mahasiswa dan perguruan tinggi secara resmi dalam aspek pengawasan distribusi logistik dan edukasi gizi di lapangan.

Advertisement

BACA JUGA: KSP Dudung: Pemerintah Buka Ruang Masyarakat Sampaikan Kritik

Awalnya, Dudung mendengarkan kritik konstruktif berbasis data lapangan mengenai implementasi Program MBG dari mahasiswa bernama Farhan Fariz Rizqullah. Mahasiswa itu menilai bahwa sasaran penerima MBG belum presisi.

Farhan pun mengusulkan agar pemerintah melibatkan kalangan akademisi perguruan tinggi untuk memberikan pendampingan teknis dan meminta alokasi anggaran difokuskan secara masif pada daerah dengan tingkat kerentanan gizi serta stunting tinggi (balita dan anak SD).

Dudung menyampaikan bahwa pemerintah dalam waktu dekat akan melakukan evaluasi menyeluruh dan penataan ulang terhadap Program MBG. Dudung membenarkan adanya temuan disparitas kualitas implementasi antardaerah di lapangan, termasuk kasus makanan tidak habis dikonsumsi anak-anak.

"Hal-hal seperti ini akan ditata ulang agar program benar-benar mencapai tujuannya, yaitu memastikan penerima manfaat memperoleh makanan yang bergizi, layak, dan benar-benar dikonsumsi," jelas Dudung dikutip dari siaran pers, Minggu (14/6/2026).

Menurut dia, pemerintah menetapkan tiga pilar penataan ulang MBG ke depan. Mulai dari, standardisasi baku mutu gizi menu, kelayakan komoditas bahan pangan, dan ketepatan sasaran makro dengan memprioritaskan wilayah kerentanan gizi tinggi serta wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

Di sisi lain, mahasiswa Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan bernama Naufal Syahfahlevie Samosir menyoroti aspek fundamental yang sering terlupakan, yakni durasi regenerasi manusia. Dia memaparkan bahwa mencetak seorang petani yang mandiri, adaptif, dan tangguh memerlukan investasi waktu yang panjang, berkisar antara 10 hingga 12 tahun.

Dia memandang pembangunan infrastruktur fisik dan teknologi pertanian akan berakhir sia-sia jika pemerintah tidak memiliki strategi makro jangka panjang untuk menarik minat generasi muda dan memotong stigma negatif profesi petani.

Dudung pun meluruskan perbedaan swasembada pangan (kemandirian total ragam pangan nasional agar tidak tergantung impor) dengan swasembada beras (fokus pemenuhan karbohidrat utama melalui intensifikasi benih unggul/mekanisasi dan ekstensifikasi lahan luar Jawa).

Dia menjelaskan besarnya cadangan beras di gudang Bulog bukan indikator tunggal swasembada, melainkan instrumen intervensi darurat negara. Terkait regenerasi, Dudung membenarkan data bahwa mayoritas petani Indonesia berumur di atas 40 tahun dan menegaskan bahwa modernisasi teknologi adalah kunci utama agar sektor agraria kembali memikat di mata generasi muda.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
SDGs, MBG, dan Pemenuhan HAM
• 37 menit lalukompas.tv
thumb
Sukur Priyanto Bantah Tuduhan Ijazah Palsu, Minta Publik Tunggu Pembuktian Hukum
• 17 jam laluberitajatim.com
thumb
PDIP Pertanyakan Dugaan Pengerahan Komcad saat Demo Mahasiswa
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Fuad Bawazier: Isu Ganti Menkeu Purbaya Bagian dari Cipta Kondisi
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Pelita Jaya vs Bogor Hornbills, Duel Penentu Juara Baru di Final IBL GoPay 2026: Simak Jadwal Lengkapnya!
• 5 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.