Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak sawit mentah (CPO) kembali terkoreksi pada akhir pekan. Berdasarkan data Refinitiv, kontrak CPO acuan ditutup di 4.475 ringgit Malaysia per ton pada perdagangan Kamis (12/6/2026), turun 1,67% dibandingkan hari sebelumnya.
Secara mingguan, harga CPO melemah 2,7% dari posisi 4.601 ringgit Malaysia per ton pada 4 Juni. Koreksi tersebut terjadi setelah pasar menghadapi tekanan dari pelemahan harga minyak mentah dunia dan minyak nabati pesaing di pasar global.
Harga minyak Brent pada pekan ini turun ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan. Kondisi tersebut mengurangi daya tarik minyak nabati sebagai bahan baku biodiesel. Di saat yang sama, harga minyak kedelai di Bursa Chicago dan minyak sawit di Dalian juga bergerak melemah sehingga membatasi ruang kenaikan CPO.
Dari sisi permintaan, data pengiriman ekspor Malaysia sebenarnya masih cukup baik. Survei kargo memperkirakan ekspor minyak sawit Malaysia selama 1-10 Juni naik sekitar 3,5%-4,9% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Namun pasar lebih banyak memperhatikan perkembangan pasokan ke depan.
Perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada risiko cuaca di Asia Tenggara. Pemerintah Malaysia memperingatkan fenomena El Nino yang mulai berkembang bulan ini berpotensi memangkas hasil panen komoditas pertanian antara 8%-10% pada tahun ini. Curah hujan di sejumlah wilayah bahkan diperkirakan turun hingga 40%-60%.
Peringatan tersebut mendapat perhatian besar karena Malaysia merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia. Pengalaman El Nino 2015-2016 masih menjadi acuan pasar. Saat itu suhu udara sempat melampaui 37 derajat Celsius dan produksi minyak sawit Malaysia turun hingga 18%.
Pemerintah Malaysia telah menyiapkan langkah mitigasi melalui pemantauan cuaca sepanjang waktu dan operasi hujan buatan. Meski demikian, pasar komoditas umumnya merespons lebih cepat dibandingkan realisasi produksi di lapangan. Risiko penurunan hasil panen mulai diperhitungkan sejak sekarang karena dampak cuaca kering biasanya baru terlihat beberapa bulan setelah fenomena El Nino berlangsung.
Di sisi lain, data industri memperlihatkan stok minyak sawit Malaysia naik untuk bulan kedua berturut-turut pada Mei. Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa harga belum merespons ancaman El Nino secara agresif. Pasokan saat ini masih relatif memadai sehingga pasar belum menghadapi kekhawatiran kekurangan barang dalam jangka pendek.
Untuk sementara, harga CPO bergerak di antara dua kekuatan. Pelemahan harga energi dan minyak nabati pesaing memberi tekanan dari sisi permintaan, sementara ancaman El Nino membuka risiko penurunan produksi di salah satu negara pemasok terbesar dunia. Perkembangan cuaca dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi faktor yang paling banyak diperhatikan pelaku pasar.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb) Add as a preferredsource on Google




