Ini Faktor-faktor yang Bikin Rupiah Terus Menguat

metrotvnews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai penguatan rupiah didorong kombinasi sentimen domestik yang membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal nasional.

"Faktor domestik yang membantu rupiah adalah koordinasi BI dan pemerintah yang lebih kuat, kenaikan suku bunga acuan, daya tarik imbal hasil aset rupiah, serta data APBN Mei yang relatif lebih baik. Defisit APBN masih terkendali, keseimbangan primer surplus, dan pendapatan negara tumbuh cukup kuat," jelas Josua seperti dikutip dari Antara, Minggu, 14 Juni 2026.

Diketahui, nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Jumat sore, 12 Juni 2026. Angka ini naik sebanyak 129 poin atau 0,71 persen ke level Rp17.860 per dolar Amerika Serikat (AS), dari posisi sebelumnya Rp17.989 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat, 12 Juni 2026, juga menguat ke level Rp17.921 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.981 per dolar AS.

Lebih lanjut Josua menjelaskan, langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan memberikan bantalan tambahan bagi stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal.

Selain itu, meningkatnya daya tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) turut menarik kembali sebagian aliran dana asing, terutama ke instrumen SRBI serta SBN tenor pendek dan menengah.

"Namun, pasar masih menunggu bukti disiplin fiskal itu dapat dipertahankan hingga akhir tahun, terutama karena belanja pemerintah biasanya meningkat pada semester kedua dan risiko subsidi energi masih cukup besar," ungkap Josua.
  Baca juga: Rupiah Menguat ke Rp17.860/USD, Ditopang Kenaikan Suku Bunga BI

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
  Rupiah masih dibayangi faktor eksternal
Di sisi lain, penguatan rupiah masih dibayangi sejumlah faktor eksternal, seperti penguatan dolar AS, sikap hati-hati pelaku pasar menjelang akhir pekan, serta tingginya ketidakpastian global.

Menurut Josua, meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali mendorong dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

"Berita dari Timur Tengah membuat dolar AS kembali diminati sebagai aset yang dianggap lebih aman. Pada saat yang sama, pelaku pasar masih mencermati arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi AS," papar dia.

"Selama dolar AS masih kuat dan harga minyak masih mudah bergejolak, rupiah tetap rentan meskipun BI sudah menaikkan suku bunga," kata Josua menambahkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ada Penutupan Jalan di Jakarta, KAI Minta Penumpang Gambir Naik dari Jatinegara
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Urus Pernikahan di Pacitan, WN Malaysia Berakhir Dideportasi Imigrasi Ponorogo.
• 3 jam laluberitajatim.com
thumb
Bitmine Immersion Technologies Umumkan Pembagian Dividen Perdana dan Pencatatan Saham Preferen Seri A di NYSE
• 47 menit laluantaranews.com
thumb
Stok Beras RI Membeludak, Mentan Amran: Jangan Ada yang Mainkan Harga!
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Cerita Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina Tak Bisa Masuk AS-Kanada
• 19 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.