Dari Kepala Udang hingga Mangrove, Inovasi Hijau Perempuan Berau

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Melihat banyak limbah kepala udang bintik terbuang begitu saja, 10 perempuan di pesisir Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, mencoba memanfaatkannya. Kepala udang mereka kumpulkan, cuci, bersihkan dari berbagai kotoran, dan racik menjadi camilan renyah yang gurih.

Mereka menamainya Uludang Crispy. Nama itu diambil dari frasa ulu udang yang berarti kepala udang. Sejak 2021, mereka membentuk Kelompok Kerja Sama Jaya sebagai wadah usaha di tempat tinggalnya, Kampung Pegat Batumbuk, Kecamatan Pulau Derawan.

Ibu-ibu tersebut kemudian melakukan uji coba, riset kecil-kecilan, dan melengkapi berbagai dokumen yang diperlukan untuk pemasaran produk.

”Kami sudah dapat sertifikat PIRT (pangan industri rumah tangga) dan sertifikat halal akhir 2021,” ujar Riska Febriani (32), Ketua Kelompok Kerja Sama Jaya, ditemui di Kampung Pegat Batumbuk, Selasa (2/6/2026).

Kampung ini merupakan permukiman nelayan dan pembudidaya tambak. Hunian warga berupa rumah panggung yang dihubungkan jembatan kayu ulin di atas rawa.

Hutan mangrove mengelilingi kampung yang tak terhubung jalan raya ini. Untuk mencapai Tanjung Redeb, pusat Kabupaten Berau, warga mesti naik perahu cepat selama satu jam.

Dengan karakteristik wilayah demikian, mayoritas warga berprofesi sebagai nelayan dan petambak. Udang menjadi salah satu komoditas unggulan di sini. Dalam 1 hektar tambak udang, setidaknya warga memanen 100 kilogram udang bintik.

Sebelumnya, warga hanya menjual tubuh udang dan membuang kepalanya. Kepala udang itulah yang dimanfaatkan Riska dan teman-teman. Gratis.

Kini, produk olahan mereka dijual di salah satu pusat oleh-oleh di Tanjung Redeb. Mereka mengolah produk setelah ada pesanan dari mitra, kenalan, atau saat ada undangan pameran.

Baca JugaPerempuan Raja Ampat Pegang Kemudi Keberlanjutan Sasi

Dengan sistem pembagian hasil berbasis kinerja, seorang anggota bisa mendapat Rp 1,5 juta untuk sekali produksi dari usaha kolektif ini.

”Selain Uludang Crispy, kami juga produksi abon bandeng, kerupuk udang, dan petis udang,” ujar Suryanti (32), anggota kelompok tersebut.

Limbah rumah tangga

Masih di Pegat Batumbuk, ada kelompok perempuan lain yang berjasa mendukung tambak ramah lingkungan. Namanya Kelompok Posmol Mandiri beranggotakan 12 orang, 10 di antaranya perempuan.

Mereka membuat kompos dari limbah rumah tangga dan rumput liar. Selain itu, kelompok ini juga memproduksi mikroorganisme lokal atau mol dari sisa air beras, daun mangrove, dan sisa buah-buahan di sekitar kampung.

Produk tersebut mereka gunakan sebagai pengganti pupuk kimia yang biasa digunakan untuk mengelola tambak udang dan bandeng. Kompos sebagai pengganti urea atau pupuk kimia. Mol untuk probiotik alami guna menjaga kesehatan tambak.

Baca JugaDulu Diburu, Kini Dirindu: Penyu dan Jalan Baru Warga Pesisir Berau

Selain digunakan oleh anggota kelompok, produk organik tersebut dibeli petambak sekitar kampung. Dalam sekali produksi, mereka bisa menghasilkan 2 ton kompos dan puluhan liter mol cair. Mereka menjualnya Rp 30.000 per kemasan 5 kilogram kompos dan Rp 30.000 per liter mol cair.

”Sekali produksi, saya bisa dapat minimal Rp 200.000. Kalau pesanan banyak, bisa lebih,” kata Ramlah (53), anggota Kelompok Posmol Mandiri, yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat kue.

Upaya warga mengelola limbah ini didampingi pemerintah setempat dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Perempuan di pesisir difasilitasi untuk memperkuat kapasitas usaha, pengelolaan organisasi, dan inovasi berbasis sumber daya lokal berkelanjutan.

Pendampingan ini masuk dalam bagian program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (Somacore) oleh YKAN. Pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil di Berau adalah bagian dari segitiga terumbu karang dunia. Kawasan konservasi di sana punya tutupan hutan mangrove 17.704 hektar.

Dengan memanfaatkan limbah daun mangrove, masyarakat bisa turut menjaga tegakan pohon di pesisir tanpa harus menebangnya. ”Inovasi tersebut juga sejalan dengan pendekatan ekonomi biru yang dikembangkan YKAN melalui konsep Shrimp Carbon Aquaculture (Secure),” kata Manajer Senior Ekonomi Biru YKAN Kiki Anggraini.

Digunakan petambak

Secure adalah pendekatan yang mengintegrasikan budidaya udang berkelanjutan dengan perlindungan dan pemulihan ekosistem mangrove di kawasan pesisir. Rata-rata petambak yang Kompas temui di Kampung Pegat Batumbuk punya 10 hektar tambak per keluarga.

Secara umum, Pemkab Berau mencatat terdapat sedikitnya 10.000 hektar tambak yang sebelumnya merupakan hutan mangrove. Dengan pendekatan Secure, warga di Kampung Pegat Batumbuk menjadikan 60-80 persen tambaknya dijadikan zona penanaman dan pemulihan mangrove.

Hanya 20-40 persen area tambak yang dijadikan zona tambak budidaya. Dalam jangka panjang, program ini memungkinkan hasil panennya sama dengan tambak yang luas. Sebab, mereka dialihkan menggunakan kompos dan nutrisi organik yang diproduksi oleh ibu-ibu di Kampung Pegat Batumbuk.

Baca JugaSaat Mama-mama Raja Ampat Saling Bertukar ”Resep” Menjaga Laut

Mereka juga melakukan penyesuaian suhu beberapa hari di sebuah bak tampungan beroksigen sebelum bibit udang atau ikan disebar ke dalam tambak.

”Sudah tiga tahun coba pendekatan ini. Udang dan ikan sehat, tidak pernah sakit,” ujar Abdul Rahman (45), salah satu petambak di Pegat Batumbuk.

Pada awal Juni 2026, ia memanen 115 kg udang windu dan 1,9 ton bandeng. Itu hasil panen dari 2 hektar tambak. Sisa lahan tambak milik Abdul ditanami pohon mangrove dan dibiarkan meremajakan diri secara alami.

Sebelumnya, saat menggunakan pendekatan lama dan pakai pupuk kimia, hasil panennya mencapai 500 kg udang pada 10 hektar lahan tambak. Namun, hasilnya turun dari tahun ke tahun sampai di bawah 100 kg. Ia curiga kualitas tanahnya menurun karena paparan kimia terlampau banyak.

Secara umum, masalah ini disebabkan kondisi tanah di pesisir Kaltim. ”Sulfat masam sifat tanahnya. Jadi, perlu perlakuan remidiasi, pembalikan tanah,” kata Kepala Bidang Budidaya Perikanan Dinas Perikanan Berau Budiono.

Kondisi itu disebabkan tambak di Kalimantan berusia muda. Secara umum tambak di Borneo dibuka pada akhir tahun 1980-an sampai tahun 1990-an. Pembukaan besar-besaran terjadi saat krisis moneter melanda, 1997-1998.

Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman mengatakan, hal itu menyebabkan tanah tambak di sini sangat masam. Akibatnya, udang hingga ikan di dalam tambak tak tumbuh optimal.

Berbeda situasinya dengan tambak di Jawa. Dari riset yang dilakukan Ilman, tambak tradisional di Jawa bisa menghasilkan 100 kg-200 kg udang dalam 1 hektar lahan. Itu hanya mengandalkan pakan alami.

Baca JugaKasto, Mantri Kampung Segala Urusan Kesehatan

Sebab, tanah tambak di sana sudah diolah sejak era kerajaan Majapahit sehingga tanahnya tidak masam. Program Secure di Berau menguji coba pupuk organik yang juga diproduksi warga agar tanahnya tidak terlalu masam ditambah dengan pengukuran berkala dan menjaga benur tidak stres.

”Meskipun tambaknya diperkecil, petambak tidak berkurang penghasilannya,” ujar Ilman.

Bagi petambak, lahan yang ditanami mangrove pun menguntungkan tambak. Sebab, berbagai kepiting dan udang memanfaatkan mangrove untuk berkembang biak dan mendapat nutrisi.

Sebagai petambak yang mencoba pendekatan ini, Abdul bisa mendapat bonus panen berupa 141 kg udang bintik dan 50 kg kepiting bakau di tambaknya. Satwa itu masuk ke tambak saat proses sirkulasi air.

Secara sederhana, masyarakat di pesisir Berau ini tengah berupaya mengoptimalkan sumber daya lokal sekaligus memulihkan lingkungan. Pupuk dan suplemen organik digunakan untuk tambak warga, hasil tambak ramah lingkungan menghasilkan udang sehat, serta limbah kepala udang diolah sebagai panganan sebagai tambahan penghasilan.

Inisiatif perempuan dan warga di pesisir Berau ini turut memulihkan kawasan mangrove yang berfungsi sebagai penyerap karbon, pelindung alami pantai, sekaligus habitat berbagai biota penting. Di sisi lain, masyarakat dapat manfaat ekonomi dan daya dukung lingkungan.

Baca JugaBerau Memanas, Kematian Meningkat dan Petani Bekerja pada Malam Hari
Baca JugaAtasi Ketergantungan Benih Luar Daerah, Pembenihan Udang Windu Lokal di Berau Direvitalisasi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Babak Baru Korupsi Tunjangan Perumahan DPRD Indramayu, Wabup Diperiksa Kejati Sebagai Tersangka
• 11 jam lalurepublika.co.id
thumb
Terbaru! Demo Mahasiswa Yogyakarta Kritisi Ekonomi RI di Gejayan Diguyur Hujan
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Fulham dikabarkan akan datangkan Alvaro Arbeloa sebagai pelatih baru
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Harga Tiket Selangit, Penonton Piala Dunia 2026 Dicurigai Cuma Hasil Rekayasa FIFA
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Polres Karawang Bongkar Sindikat Sabu Lintas Karawang-Bekasi, 110 Gram Barang Bukti Disita
• 11 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.