Suasana tenang menyelimuti ruang pamer Museum Macan di Jakarta Barat, Sabtu (13/6/2026). Cahaya lampu jatuh lembut di sudut-sudut galeri menciptakan warna kekuningan pada dinding putih. Sejumlah pengunjung berjalan pelan dari satu galeri ke galeri lain kemudian berhenti sejenak di depan instalasi, lukisan, layar monitor, hingga hamparan tekstil berukuran besar.
Di balik beragam karya yang dipamerkan, pengunjung diajak melihat kembali hubungan antara sejarah, alam, teknologi, dan kehidupan manusia. Melalui sejumlah ekshibisi, karya-karya seniman dari Indonesia dan Asia Tenggara terangkum dalam musim pameran terbaru bertajuk ”Where Are We in Time: A Season Across Shifting Landscapes”.
Pengunjung menikmati karya seni rupa dalam pameran Where Are We in Time: A Season Across Shifting Landscapes. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Seorang anak berdiri di samping lukisan berjudul "Dewi Sri" karya Soedibio. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Beragam karya karya seni rupa ditampilkan dalam pameran Where Are We in Time: A Season Across Shifting Landscapes. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Memasuki area pameran, pengunjung akan langsung menemukan karya-karya tekstil berukuran besar milik Marcos Kueh, seniman asal Malaysia. Pameran bertajuk ”Kenyalang Circus” itu menampilkan tapestri yang terinspirasi dari budaya dan kosmologi masyarakat Borneo. Kain-kain besar dengan warna mencolok itu menggantung di ruang terbuka.
Melalui karya-karyanya, Marcos Kueh mengajak pengunjung memikirkan bagaimana identitas budaya dipertontonkan, diperdagangkan, dan dikonsumsi di era modern. Salah satu karya utamanya, ”Kenyalang Circus: Nenek Moyang”, terinspirasi dari kepercayaan adat yang memandang air terjun sebagai penghubung antara dunia manusia dan dunia leluhur.
Pengunjung menikmati karya ”Kenyalan Circus” oleh Marcos Kueh. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Karya Marcos Kueh berupa tapestri yang terinspirasi dari budaya masyarakat Borneo. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Displai karya Marcos Kueh yang dibuat menggantung menjadi keunikan tersendiri. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Setelah menikmati warna-warni tekstil, pengunjung akan dibawa masuk ke lorong gelap yang mengingatkan pada ruang publik pada masa lalu. Cahaya dari layar video memantul di dinding, sementara suara-suara dari karya audio visual memenuhi ruangan. Di tengah ruangan, berdiri karya ”Bioskop Asymptotic (2026)”, instalasi yang menghadirkan kembali lobi bioskop Indonesia pada era 1990-an.
Karya itu milik Riar Rizaldi, seorang perupa dan pembuat film kelahiran Bandung, Jawa Barat. Period Piece menjadi pameran museum pertama Rizaldi di Indonesia setelah karyanya dipamerkan di berbagai institusi dan festival seni, seperti MoMA di New York, Amerika Serikat; Centre Pompidou di Paris, Perancis; dan Venice Architecture Biennale di Italia.
Bagi sebagian pengunjung, karya-karya Rizaldi mampu membangkitkan kenangan masa kecil ketika bioskop masih menjadi tempat berkumpul dan menikmati film bersama. Namun, seniman kelahiran 1990 itu tidak hanya berbicara soal nostalgia. Ia juga mengajak publik melihat bagaimana gagasan tentang kemajuan di Indonesia berkaitan dengan sejarah kolonial, perkembangan teknologi, dan pemanfaatan sumber daya alam.
Pengunjung menonton film dalam pameran Period Piece. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Instalasi karya Riar Rizaldi yang menghadirkan suasana bioskop tahun 1990-an. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Ekspresi pengunjung saat menonton film dalam pameran Period Piece. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Dari ruang Period Piece, perjalanan berlanjut ke pameran kelompok bertajuk ”Menelan Cakrawala”. Dalam empat bagian ruangan, pengunjung akan menemukan karya-karya dari sejumlah seniman modern dan kontemporer, mulai dari Raden Saleh, S Sudjojono, Wakidi, hingga seniman internasional, seperti Anselm Kiefer dan Robert Rauschenberg.
Berangkat dari gagasan sederhana tentang cakrawala, sebagian besar karya memperlihatkan bagaimana gambar-gambar alam pada masa kolonial digunakan untuk membangun citra Hindia Belanda yang damai dan subur. Namun, di balik keindahan itu terdapat kenyataan tentang perkebunan, eksploitasi sumber daya alam, dan kerja paksa yang jarang terlihat dalam lukisan-lukisan tersebut.
Pengunjung mengamati deretan lukisan pemandangan alam. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Patung karya Nurdian Ichsan dalam pameran Menelan Cakrawala. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Pengunjung menikmati karya fotografi Akiq AW. (KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Di sudut lain Museum Macan, suara anak-anak terdengar bersahutan. Mereka menggambar bersama pada dinding putih yang luas. Suasana itu menghadirkan energi berbeda dari ruangan lainnya yang cenderung tenang dan kontemplatif. Kali ini, Children’s Art Space menghadirkan karya seniman asal Jakarta, Ruth Marbun, bertajuk ”Beradu Padu”.
Melalui proyek interaktif itu, Ruth Marbun mengajak anak-anak dan keluarga tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut menciptakan karya seni bersama. Dalam kehidupan modern yang dipenuhi informasi dan teknologi, Ruth melihat bahwa manusia justru sering kesulitan membangun hubungan yang dekat dengan orang lain. Oleh karena itu, ia menciptakan ruang yang mendorong pengunjung untuk kembali menikmati proses membuat sesuatu bersama.
Di dalam ruang pamer, tersedia gambar-gambar cetak hitam putih yang dapat dihias menggunakan selotip berwarna, potongan benda sehari-hari, dan berbagai material sederhana lainnya. Tidak ada aturan baku tentang bentuk yang harus dibuat. Setiap orang bebas berimajinasi dan menyusun cerita mereka sendiri melalui karya yang diciptakan.
Sementara itu, tepat di balik Children’s Art Space, karya bertajuk ”Atlantis II” oleh seniman asal Singapura, Dawn Ng, terpajang pada dinding besar. Karya itu menampilkan lembaran-lembaran kertas besar yang dipenuhi aliran warna menyerupai peta, awan, atau gugusan pulau.
Dalam proses pembuatannya, Dawn Ng menggunakan balok-balok es berwarna yang digantung di atas tumpukan kertas. Saat es mencair, pigmen warna perlahan meresap ke dalam setiap lapisan kertas dan meninggalkan pola unik yang tidak bisa diulang. Dari dekat, warna-warna itu tampak seperti jejak waktu yang terekam di atas permukaan kertas.
Secara keseluruhan, musim pameran Where Are We in Time: A Season Across Shifting Landscapes menawarkan pengalaman menikmati seni yang beragam. Sebagian karya mengajak pengunjung mengingat masa lalu, sementara karya lainnya berbicara tentang alam dan lingkungan serta perubahan sosial dan budaya.
Ketua Yayasan Museum Macan Fenessa Adikoesoemo mengungkapkan, musim pameran kali ini mencerminkan fondasi Museum Macan. ”Karya-karya yang kami hadirkan musim ini, mulai dari lukisan, film, tekstil, es, hingga pembuatan karya secara kolektif, berbicara tentang pertanyaan-pertanyaan yang sangat Indonesia sekaligus sangat universal,” ujarnya.





