Bagaimana Mendeteksi Anak Alergi Susu Sapi dan Cara Mengatasinya?

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Keluhan seperti ruam pada kulit, gangguan pencernaan, atau batuk yang berulang, sering kali membuat orang tua bertanya-tanya apakah anak mengalami alergi susu sapi. Namun, menegakkan diagnosis alergi protein susu sapi tidak bisa dilakukan hanya dari satu kali pemeriksaan atau berdasarkan gejala yang muncul sesaat.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi dan Imunologi, dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A(K), menjelaskan bahwa diagnosis alergi protein susu sapi membutuhkan proses yang bertahap dan menyeluruh untuk memastikan penyebab keluhan yang dialami anak.

Diagnosis Tidak Bisa Dilakukan dalam Satu Kali Kunjungan

Menurut dr. Molly, saat konsultasi dokter akan terlebih dahulu menggali riwayat kesehatan anak secara detail. Orang tua akan ditanya mengenai perjalanan penyakit, gejala yang muncul, kapan gejala mulai terjadi, hingga pola makan dan asupan nutrisi anak sehari-hari.

Selain wawancara medis, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik secara langsung untuk melihat kondisi anak secara keseluruhan. Informasi tersebut menjadi dasar penting untuk menentukan apakah keluhan yang dialami mengarah pada alergi protein susu sapi atau kondisi lainnya.

“Untuk menegakkan dia alergi susu sapi itu butuh proses, tidak hanya sekali datang, kita mulai, kita periksa karena di saat kita konsultasi, pastinya akan ditanya lebih lanjut,” tutur dr. Molly dalam acara Talkshow Jelang World Allergy Week 2026, bersama Sarihusada di Jakarta Selatan, Kamis (11/6).

Tahapan Eliminasi dan Provokasi

Apabila dokter mencurigai adanya alergi protein susu sapi, langkah pertama yang biasanya dilakukan adalah eliminasi.

1. Tahap Eliminasi

Pada tahap ini, anak tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan maupun minuman yang mengandung protein susu sapi.

Masa eliminasi dapat berlangsung selama 1–2 minggu atau bahkan 2–4 minggu, tergantung pada jenis dan tingkat keparahan gejala yang dialami anak.

“Selama proses eliminasi, kita lakukan observasi atau pemantauan Membaik atau memburuk atau sama saja,” imbuhnya.

2. Tahap Provokasi

Jika gejala menunjukkan perbaikan setelah eliminasi, langkah berikutnya adalah provokasi, yaitu mengenalkan kembali protein susu sapi ke dalam pola makan anak secara terkontrol dan sesuai anjuran dokter.

“Kalau ternyata pada saat proses eliminasi, gejalanya membaik, maka kita lakukan kembali provokasi, kita mengenalkan kembali,” katanya.

Bila setelah proses provokasi gejala kembali muncul, hal tersebut menjadi petunjuk kuat bahwa anak memang mengalami alergi protein susu sapi. Karena itu, orang tua disarankan untuk tidak melakukan diagnosis sendiri dan selalu berkonsultasi dengan tenaga medis agar penanganan yang diberikan sesuai dengan kondisi anak.

Dengan diagnosis yang tepat, anak dapat memperoleh pengelolaan nutrisi yang sesuai sekaligus tetap mendapatkan kebutuhan gizi yang optimal untuk mendukung tumbuh kembangnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kunjungi Banyuwangi, Raline Shah Puji Panorama Sunrise di Kawah Ijen
• 23 jam laludetik.com
thumb
Tentara Zionis Israel Hujani Warga Tepi Barat Gas Air Mata saat Salat Jumat
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga Tiket Selangit, Penonton Piala Dunia 2026 Dicurigai Cuma Hasil Rekayasa FIFA
• 15 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Hukum sepekan, RUU Polri hingga tersangka baru kasus MBG
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
NTT Menerima 3.000 Dosis Semen Beku Sapi untuk Perkuat Populasi dan Mutu Genetik Ternak
• 23 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.