Edward AS
Kecamatan Pattallassang
Pagi masih muda ketika aktivitas mulai bergerak di deretan kolam budidaya milik BUMDes Bumi Paccelekang Sejahtera di Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa. Gemericik air terdengar bersahutan, sementara beberapa warga memeriksa saluran air dan memberi pakan pada lobster-lobster air tawar yang bersembunyi di balik susunan paralon.
Pemandangan itu kini menjadi rutinitas. Namun beberapa tahun lalu, tidak ada yang menyangka kolam-kolam sederhana tersebut akan menjadi sumber harapan baru bagi masyarakat desa.
Di tempat itulah sebuah cerita perubahan dimulai. Pada akhir 2021, BUMDes Bumi Paccelekang Sejahtera mencoba mengembangkan budidaya lobster air tawar dengan modal sekitar 150 ekor indukan. Jumlahnya tidak banyak.
Pengalaman pun masih terbatas. Bahkan tak sedikit warga yang meragukan apakah usaha tersebut bisa bertahan. Namun keraguan itu justru menjadi pemantik semangat.
Direktur BUMDes Bumi Paccelekang Sejahtera, Sawaluddin, mengatakan budidaya lobster awalnya hanya sebuah langkah kecil untuk mencari sumber ekonomi baru yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Awalnya kami hanya mencoba melihat potensi yang bisa dikembangkan desa. Alhamdulillah, dari jumlah indukan yang terbatas itu kini kami sudah menghasilkan ribuan indukan dan memasarkannya ke berbagai daerah,” ujarnya.
Perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika pengelola harus belajar dari kegagalan. Ada saat-saat ketika hasil panen tidak sesuai harapan. Bahkan ada pula warga yang sempat ragu untuk ikut terlibat karena usaha ini dianggap terlalu berisiko.
Namun waktu membuktikan hal berbeda. Produksi lobster terus meningkat. Permintaan datang dari berbagai daerah. Perlahan, budidaya lobster air tawar mulai dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan Desa Paccelekang.
Kesuksesan itu kemudian mendorong BUMDes membangun pola kemitraan dengan masyarakat. Warga yang tertarik dibina dan didampingi untuk mengembangkan budidaya lobster secara mandiri.
Saat ini sedikitnya 35 kelompok masyarakat telah terlibat dalam usaha budidaya lobster air tawar. Bagi sebagian warga, usaha tersebut menjadi tambahan penghasilan. Bagi yang lain, budidaya lobster menjadi sumber ekonomi baru yang membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
“Yang paling membahagiakan bukan hanya keuntungan usaha. Kami melihat masyarakat mulai percaya bahwa mereka juga bisa berkembang bersama,” kata Kepala Unit Budidaya Lobster Air Tawar, Alauddin.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi pengelola BUMDes, membangun keyakinan masyarakat sering kali lebih sulit dibanding membesarkan lobster itu sendiri. Perubahan pola pikir masyarakat menjadi fondasi penting bagi keberhasilan usaha tersebut.
Momentum pengembangan usaha semakin kuat ketika Desa Paccelekang mengikuti Program Desa BRILiaN yang diinisiasi BRI. Melalui program tersebut, pemerintah desa dan pengelola BUMDes memperoleh pelatihan, pendampingan, serta penguatan kapasitas dalam mengelola potensi desa secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Bagi Alauddin, manfaat yang dirasakan tidak hanya sebatas pelatihan. Program tersebut membuka wawasan baru tentang bagaimana membangun usaha desa yang profesional, memperluas jejaring pemasaran, sekaligus menciptakan inovasi yang memberikan dampak bagi masyarakat.
“Program Desa BRILiaN memberikan banyak manfaat. Kami mendapatkan pendampingan usaha, penguatan kelembagaan, hingga peluang memperluas jaringan karena relasi yang dimiliki BRI sangat luas,” ujarnya.
Selain budidaya lobster, BUMDes juga mengelola layanan AgenBRILink yang menjadi salah satu pusat aktivitas keuangan masyarakat desa. Setiap hari warga datang untuk melakukan transfer uang, tarik tunai, pembayaran tagihan, hingga berbagai transaksi perbankan lainnya tanpa harus pergi jauh ke kota.
Kehadiran AgenBRILink membuat layanan keuangan menjadi lebih dekat dan mudah dijangkau masyarakat. Pendampingan dari Mantri BRI juga membantu masyarakat memperoleh akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha pertanian, perikanan, hingga usaha mikro lainnya.
Perlahan, ekosistem ekonomi desa mulai terbentuk. Budidaya lobster berkembang. Aktivitas usaha masyarakat meningkat. Akses keuangan semakin terbuka. Dan yang terpenting, tumbuh keyakinan bahwa potensi desa mampu menjadi sumber kesejahteraan bagi warganya sendiri.
Keberhasilan budidaya lobster Paccelekang juga mendapat respons positif dari para pelanggan yang selama ini menjadi mitra usaha BUMDes. Fadli, pemilik rumah makan seafood di Makassar, mengaku rutin memesan lobster dari Paccelekang karena kualitasnya yang konsisten.
“Yang saya suka karena ukuran lobsternya cukup seragam dan kondisinya selalu segar saat diterima. Pelanggan kami juga menyukai rasanya sehingga permintaan terus ada,” ujarnya.
Sementara itu, Rahmat, seorang pembudidaya lobster asal Maros, mengaku mengenal Paccelekang sebagai salah satu pemasok bibit yang cukup terpercaya di Sulsel. Berawal dari pembelian beberapa indukan, kini ia telah mengembangkan kolam budidayanya sendiri.
“Saya membeli bibit dari Paccelekang karena kualitasnya bagus. Selain itu, pengelolanya juga terbuka berbagi pengalaman dan memberi masukan soal budidaya. Itu sangat membantu bagi pembudidaya pemula seperti saya,” katanya.
Bagi pengelola BUMDes, kepercayaan pelanggan menjadi bukti bahwa produk yang lahir dari desa mampu bersaing dan diterima pasar yang lebih luas.
Di balik setiap lobster yang dikirim ke berbagai daerah, ada kerja keras masyarakat yang terus menjaga kualitas. Ada harapan para petani dan pembudidaya yang ingin melihat usahanya berkembang. Dan ada keyakinan bahwa masa depan desa tidak harus dicari jauh-jauh ke kota.
Paccelekang mungkin hanya satu titik kecil di peta Kabupaten Gowa. Namun dari kolam-kolam sederhana yang dipenuhi gemericik air itu, lahir sebuah pelajaran penting: perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil yang dilakukan dengan keberanian, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar.
Dari 150 indukan lobster yang ditebar pada akhir 2021, kini tumbuh optimisme yang jauh lebih besar. Optimisme bahwa desa mampu berdiri di atas potensinya sendiri. Bahwa masyarakat dapat berkembang bersama. Dan bahwa masa depan yang lebih baik bisa dibangun dari kolam-kolam sederhana yang selama ini mungkin luput dari perhatian banyak orang.
Regional Chief Executive Office (RCEO) BRI Region 15 Makassar, D Argo Prabowo, mengungkapkan hingga Maret 2026 terdapat 528 Desa BRILian yang menjadi binaan BRI di berbagai wilayah. Menurutnya, Desa BRILian merupakan desa yang telah memiliki kesiapan dalam memanfaatkan teknologi digital, didukung keberadaan Agen BRILink serta aktif mengembangkan potensi ekonomi masyarakat.
“Desa BRILian merupakan desa yang sudah melek digital, memiliki Agen BRILink dan aktif dalam pengembangan ekonomi masyarakat,” kata Argo.
Ia menilai desa yang terus berinovasi dan mampu membangun usaha produktif akan memberikan dampak yang lebih luas bagi kesejahteraan warga.
“Desa yang aktif, desa inovatif, punya usaha sehingga masyarakatnya bisa terbantu dengan hadirnya usaha tersebut,” ujarnya.
Argo menjelaskan, BRI tidak hanya memberikan akses layanan keuangan, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat melalui berbagai program literasi. Mulai dari literasi dasar, literasi bisnis, hingga literasi digital diberikan agar pelaku usaha di desa mampu meningkatkan kemampuan usaha dan memperluas pasar.
“Harapannya, pelaku usaha desa bisa berkembang dan naik kelas,” tambahnya.
Di Desa Paccelekang, semangat tersebut terlihat dalam berbagai aktivitas ekonomi yang mulai tumbuh seiring meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap teknologi dan pengelolaan usaha. Program Desa BRILian menjadi ruang belajar bagi warga untuk mengembangkan potensi lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Keberadaan Agen BRILink dan pemanfaatan layanan digital perbankan turut memudahkan masyarakat mengakses transaksi keuangan tanpa harus bepergian jauh ke pusat kota. Kemudahan itu secara perlahan mendorong aktivitas ekonomi menjadi lebih efisien dan produktif.
Bagi warga Paccelekang, Desa BRILian bukan lagi sekadar nama program pemberdayaan. Program tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan desa dalam membangun kemandirian ekonomi, memperkuat kapasitas masyarakat, dan membuka jalan menuju pertumbuhan yang lebih inklusif.
Dengan dukungan literasi yang berkelanjutan dan semangat inovasi masyarakat, Paccelekang menjadi salah satu contoh bagaimana desa mampu bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dari tingkat akar rumput. (*)





