Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperkenalkan metode 4P sebagai panduan praktis bagi masyarakat untuk memberikan pertolongan pertama pada anak yang mengalami kondisi kegawatdaruratan sebelum mendapatkan penanganan medis.
Metode tersebut terdiri atas empat langkah sederhana, yakni Periksa, Panggil, Pijat, dan Pasang. IDAI berharap panduan ini dapat membantu masyarakat memberikan respons cepat saat menghadapi kondisi darurat yang mengancam nyawa anak.
Menurut dr. Yogi Prawira, Sp.A., Subsp.ETIA(K) Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak (ETIA) IDAI, keterampilan Bantuan Hidup Dasar (BHD) perlu diketahui masyarakat karena orang pertama yang berada di lokasi kejadian umumnya bukan tenaga kesehatan.
“Mungkin teman-teman sering mendengar berita ada anak tenggelam, tersedak, atau kesetrum. Saat terjadi kegawatdaruratan, seringkali yang ada di sekitar anak itu bukan tenaga medis, melainkan orang tua, guru, atau bahkan orang yang cuma lewat,” kata Yogi dilansir dari Antara, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, IDAI menyederhanakan algoritma Bantuan Hidup Dasar yang selama ini banyak menggunakan istilah medis dan berbahasa Inggris agar lebih mudah dipahami masyarakat umum.
“Karena algoritma BHD itu banyak dan mayoritas bahasa Inggris, kami dari IDAI menyusun satu algoritma yang cepat dan mudah direspons. Prinsipnya simpel, yaitu 4P: Periksa, Panggil, Pijat, Pasang,” ujarnya.
Yogi menjelaskan, langkah pertama adalah Periksa. Pada tahap ini masyarakat diminta memastikan apakah anak masih sadar dan bernapas dengan memanggil namanya, menepuk bahu secara perlahan, serta mengamati gerakan pernapasan.
Jika anak tidak memberikan respons, langkah berikutnya adalah Panggil, yakni segera menghubungi layanan darurat melalui nomor 112 atau 119 serta meminta bantuan medis secepat mungkin.
Setelah itu, masyarakat dapat melakukan tahap Pijat atau resusitasi jantung paru (RJP) sesuai usia anak. Untuk bayi berusia di bawah satu tahun, pijatan dilakukan menggunakan dua ibu jari pada bagian tengah dada. Sementara pada anak yang lebih besar, pijatan dapat dilakukan menggunakan satu atau dua tangan.
Tahap terakhir adalah Pasang, yaitu menggunakan Automated External Defibrillator (AED) apabila alat tersebut tersedia di lokasi kejadian.
Menurut Yogi, AED dirancang agar dapat digunakan oleh masyarakat awam karena dilengkapi instruksi suara yang memandu setiap langkah pertolongan secara otomatis.
Ia menegaskan bahwa metode 4P dapat diterapkan pada berbagai kondisi kegawatdaruratan yang menyebabkan anak tidak sadar, tidak bernapas, dan tidak memberikan respons, baik akibat tenggelam, tersedak, tersengat listrik, maupun penyebab lainnya.
“Prinsipnya, Bantuan Hidup Dasar ini dikerjakan saat anak tidak sadar, tidak bernapas, dan tidak merespons, apapun penyebabnya,” katanya.
Melalui edukasi metode 4P, IDAI berharap semakin banyak masyarakat memiliki keterampilan dasar menyelamatkan nyawa anak pada masa-masa kritis sebelum bantuan medis profesional tiba di lokasi kejadian. (ant/saf/ham)




