Gadis 18 Tahun di Chongqing, Tiongkok Dikirim ke Kamp Pendidikan, Pacarnya Temukan Rekaman Dugaan Kekerasan oleh Instruktur

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com  Baru-baru ini, sebuah kasus dugaan kekerasan di Pangkalan Pendidikan Karakter Yincheng (Chongqing Yincheng Quality Education Base) di Chongqing menjadi sorotan publik setelah seorang pria yang mencari pacarnya yang hilang tanpa sengaja merekam seorang instruktur sedang memukuli seorang peserta didik.

Pacar Kehilangan Kontak dengan Kekasihnya

Menurut laporan media Tiongkok pada 12 Juni, seorang gadis berusia 18 tahun yang disamarkan dengan nama Xiaoman masih berlibur dan berkomunikasi secara normal dengan pacarnya, Deng Feng, hingga sebelum 21 April. Namun, pada sore hari tanggal tersebut, Xiaoman tiba-tiba tidak dapat dihubungi. Teleponnya tidak diangkat dan semua pesan di media sosial tidak mendapat balasan.

Setelah berbagai upaya menghubungi gagal, Deng Feng memanfaatkan akun navigasi yang mereka gunakan bersama. Melalui sistem navigasi kendaraan, ia menemukan lokasi pacarnya berada sekitar 70 kilometer dari pusat kota, di sebuah daerah pegunungan terpencil yang teridentifikasi sebagai “Chongqing Yincheng Quality Education Base”.

Belakangan, Deng mengetahui bahwa hasil ujian masuk perguruan tinggi (gaokao) Xiaoman tidak memenuhi harapan keluarganya. Ibunya kemudian diduga mengirimnya secara paksa ke pusat pendidikan tersebut untuk mengikuti program “pendidikan karakter” selama satu tahun dengan tujuan memperbaiki mental dan sikapnya.

Tak lama setelah memasuki fasilitas itu, telepon genggam dan seluruh sarana komunikasi Xiaoman disita sehingga ia tidak dapat berhubungan dengan dunia luar.

Mencari Pacarnya ke Daerah Pegunungan

Untuk memastikan kondisi pacarnya, pada 2 Mei Deng Feng mengemudi sendiri menuju lokasi fasilitas tersebut yang berada di kawasan pegunungan.

Sesampainya di sana, ia menemukan bahwa tempat itu berada di lokasi yang sangat terpencil, dikelilingi pegunungan dan jauh dari permukiman. Keamanan dijaga ketat, tembok tinggi mengelilingi kompleks, dan seluruh jendela bangunan dipasangi kawat besi sehingga orang luar sulit masuk.

Deng kemudian menghubungi beberapa mantan peserta yang pernah menjalani pelatihan di sana. Mereka mengaku bahwa peserta diwajibkan menjalani latihan fisik dengan intensitas tinggi, termasuk berlari puluhan putaran setiap hari, dan bahwa hukuman fisik berupa pemukulan disebut-sebut sering terjadi. Menurut mereka, peserta bisa dihukum karena masalah kedisiplinan maupun hanya karena dianggap tidak menyenangkan oleh instruktur.

Rekaman Dugaan Penganiayaan

Pada 10 Mei, dari sebuah bukit di dekat kompleks tersebut, Deng menggunakan kamera ponsel dengan lensa telefoto dan merekam sebuah kejadian yang mengejutkan.

Dalam video itu, seorang pria berbaju biru yang diduga instruktur terlihat menindih seorang peserta berpakaian loreng di tanah sambil melayangkan pukulan bertubi-tubi. Peserta tersebut menutupi kepalanya dengan kedua tangan untuk melindungi diri.

Instruktur itu juga tampak menunjuk-nunjuk peserta sambil memarahinya, kemudian kembali memukul bagian kepala dan menendang punggungnya dengan keras. Setelah instruktur pergi, peserta yang dipukul terlihat masih berjongkok sambil memeluk lututnya dan diduga menangis karena mengalami tekanan emosional.

Deng menunjukkan rekaman tersebut kepada beberapa mantan peserta, yang mengidentifikasi pria berbaju biru itu sebagai salah satu instruktur di fasilitas tersebut.

Polisi Melakukan Penyelidikan

Setelah memperoleh rekaman tersebut, Deng segera melapor kepada polisi. Kepolisian Distrik Nanchuan membuka penyelidikan pada 2 Juni. Kantor Polisi Nancheng kemudian menyatakan bahwa memang ditemukan adanya praktik hukuman fisik di fasilitas tersebut.

Seiring berkembangnya kasus ini, kepolisian, otoritas pengawas pasar, dinas pendidikan, dan sejumlah instansi terkait lainnya ikut melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap Yincheng Quality Education Base dan menjatuhkan sanksi kepada lembaga yang bersangkutan.

Tentang Pusat Pendidikan Tersebut

Berdasarkan informasi publik, Yincheng mempromosikan diri sebagai pusat yang menyediakan layanan seperti:

dengan sistem tertutup yang ditujukan untuk “membina” remaja yang dianggap memberontak, kecanduan internet, atau putus sekolah.

Biaya yang dipublikasikan mencapai 8.800 yuan per bulan, dan sebagian besar peserta mengikuti program selama minimal enam bulan. Mayoritas peserta adalah anak di bawah umur, sedangkan peserta yang telah dewasa diwajibkan menandatangani persetujuan sendiri.

Kontroversi Serupa Pernah Terjadi

Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa berbagai pusat “pendidikan karakter” dan “rehabilitasi kecanduan internet” di Tiongkok beberapa kali menjadi sorotan karena dugaan praktik kekerasan, hukuman fisik, hingga penahanan ilegal.

Sebagai contoh, pada tahun 2022 sebuah lembaga di Provinsi Jiangsu dilaporkan melakukan hukuman fisik terhadap peserta, termasuk mengunci mereka di ruang isolasi dan memaksa mereka berpuasa. Kasus tersebut memicu kecaman publik dan berujung pada perintah penghentian operasional lembaga tersebut.

Dilaporkan oleh Li Yun/Disunting oleh Xia He


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polres Tangerang kejar pemasok ribuan obat keras ke wilayah Tangerang
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Pesepeda Iran Arezoo Bawa Pesan Perdamaian: Jalani Setiap Momen dengan Bahagia
• 13 jam lalukompas.com
thumb
KAI Operasikan KA Pandalungan 2 Rute Gambir-Jember Mulai 18 Juni, Diskon 30%
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Pulau Buru, surga minyak kayu putih (bagian 2)
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Bamsoet Puji Touring Perdana PERIKHSA Riders, Ajak Jaga Persatuan
• 9 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.