Perajin Keripik Tempe Terimpit Naiknya Harga Bahan Baku

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Bau harum keripik tempe yang sedang digoreng langsung menusuk indra penciuman saat berbelok masuk gang sempit di Jalan H Aom, Kramat Pela, Jakarta, Sabtu (13/6/2026).

Saking sempitnya gang itu, jika ada sepeda motor berpapasan, salah satu di antaranya harus mengalah untuk menepi dan berhenti terlebih dahulu agar motor yang lain bisa lewat.

Di gang sempit yang berada di RT 009 RW 008 itulah terdapat Paguyuban Keripik Tempe Kramat Pela. Ada puluhan UMKM perajin keripik tempe yang menjadi anggotanya.

”Mungkin ada 20-25 perajin keripik tempe di RT 009 ini. Sudah lama daerah sini menjadi sentra keripik tempe. Saat saya memulainya, sudah ada 3-4 warga yang juga melakukan hal yang sama,” ujar Tasmiatun (55) atau lebih akrab disapa Atun, salah satu perajin keripik tempe pemilik merek Startoon.

Pagi itu, Atun bercerita sembari mengawasi pegawainya yang sedang mengolah tempe untuk dijadikan keripik tempe di teras rumahnya. Usaha keripik tempe tepung sagunya dimulai pada medio 2007. Saat ini Atun mempunyai 20 pegawai. Paling banyak pegawainya bertugas untuk menggoreng tempe.

Setidaknya ada 13 penggorengan dengan diameter hampir 1 meter yang terus menyala dari pagi hingga sore. Sedangkan pegawai yang lain bertugas memotong tempe dan mengemas keripik yang sudah digoreng.

Untuk pemasaran, selain diambil oleh pedagang camilan di area Jabodetabek, Atun juga sudah punya channel yang rutin mengambil keripiknya untuk kemudian dieskpor ke luar negeri, seperti Kanada, Jepang, Australia, hingga Amerika Serikat.

”Tapi sekarang sedang sulit. Apa-apa naik. Tepung sagu naik dari dari Rp 230.000 jadi Rp 330.000 per karung untuk ukuran 25 kilogram. Minyak goreng juga naik. Padahal, saya pakai yang premium bukan yang curah. Tempe per kantong dengan berat sekitar 3 kilogram naik Rp 5.000 menjadi Rp 55.000. Saya per hari butuh 30 kantong tempe, bawang putih juga naik. Belum lagi tagihan PLN bulan ini naik lebih dari sejuta dibanding biasanya,” ujar Atun memaparkan harga bahan baku yang rutin ia butuhkan.

Padahal, menurut Atun, menaikkan harga jual keripiknya tidak semudah itu. ”Saya serba salah juga ini, kalau naiknya terlalu tinggi, nanti pelanggan pada lari,” ujarnya beralasan.

Makanya Atun hanya berani menaikkan keripik tempenya sebesar Rp 5.000 menjadi Rp 65.000 per kg sejak Lebaran lalu. ”Untungnya tipis tidak apa-apa, sekarang bertahan dulu saja, jangan sampai mem-PHK pegawai,” katanya.

Atun berharap harga-harga bahan pangan dapat segera turun kembali sehingga roda perekonomian dapat berputar lebih cepat lagi.

Baca JugaKenaikan Harga BBM dan Kebangkitan Solar dari Sampah Plastik
Baca JugaMenyambung Nyawa Bisnis Perak Saat Harga Bahan Baku Melonjak


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhan Jepang Hadiahkan Oleh-Oleh Unik Khas Yokosuka untuk Prabowo
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kronologi Pengejaran Pengemudi Mobil Diduga Terlibat Narkoba di Jakarta Barat, Nekat Tabrak Lari dan Coba Kabur
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Hari Terakhir BTN Jakim, Car Free Day Ditiadakan: Polisi Lakukan Rekayasa Lalu Lintas
• 14 jam laludisway.id
thumb
Cegah Karhutla, Pendaki Gunung di Temanggung Dilarang Bikin Api Unggun
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Australian Open 2026: Alwi Gondol Gelar Juara
• 6 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.