Proyeksi Harga Bitcoin 2026-2027 dan Rekomendasi Strategi Investasi

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Harga Bitcoin (BTC) saat ini diperdagangkan di level kisaran US$63.692 atau telah terpangkas lebih dari 50% dari harga tertingginya yang dicapai pada Oktober 2025. Saat ini, pergerakan BTC belum menunjukkan tren bullish yang kuat. Namun, dalam jangka panjang peluang rebound dinilai masih terbuka lebar. 

Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menjelaskan bahwa proyeksi pergerakan harga Bitcoin pada 2026–2027 masih sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor makroekonomi, teknikal, arus dana institusional, dan siklus halving. 

"Secara teknikal, area US$60.000 menjadi support penting, sementara resistance utama berada di kisaran US$72.000 hingga US$75.000. Jika BTC mampu bertahan di atas support tersebut, peluang rebound tetap terbuka. Namun, jika turun konsisten di bawah US$60.000, tekanan jual bisa berlanjut ke area yang lebih rendah," kata Fyqieh kepada Bisnis, dikutip Minggu (14/6/2026).

Menilik kombinasi sentimen yang menyertai BTC, Fyqieh menjelaskan bahwa dari sisi makro kondisi 2026 ini belum sepenuhnya mendukung aset berisiko seperti Bitcoin. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan sejumlah lembaga dunia hingga eskalasi geopolitik menurutnya bisa membuat investor cenderung lebih berhati-hati, terutama jika inflasi kembali naik dan bank sentral menahan suku bunga lebih lama.

Menurutnya, kebijakan The Fed menjadi faktor penting karena Bitcoin sangat sensitif terhadap suku bunga dan likuiditas global. Proyeksi The Fed menunjukkan federal funds rate berpotensi turun bertahap hingga 2027, sementara inflasi PCE juga diproyeksikan melandai. Jika skenario ini terjadi, menurutnya, 2027 bisa menjadi fase yang lebih positif bagi aset berisiko karena likuiditas mulai longgar dan risk appetite investor kembali meningkat.

"Namun, dalam jangka pendek, tekanan masih datang dari arus keluar ETF Bitcoin spot. Pada awal Juni 2026, CoinShares mencatat produk investasi aset digital mengalami outflow sekitar US$1,67 miliar dalam 1 minggu, sementara ETF Bitcoin spot AS juga mencatat outflow sekitar US$4,4 miliar dalam 13 sesi perdagangan," kata dia.

Baca Juga

  • Siklus Rebound Bitcoin Diramal pada 2027, Sinyal Kuat Akumulasi?
  • Emas, Dolar, atau Bitcoin? Ini Aset Terbaik Saat Geopolitik Memanas
  • Wow! Aset Ini Diprediksi Akan Meroket Kalahkan Emas dan Bitcoin

Fyqieh melihat 2026 sebagai fase konsolidasi Bitcoin dan tekanan dalam jangka pendek tidak berarti akan terus terjadi dalam rentang yang lama mengingat Bitcoin sempat rebound ke atas US$63.000 setelah muncul indikasi inflow ETF kembali dan aktivitas investor besar meningkat.

Proyeksinya, tahun ini akan terjadi fase konsolidasi dan pencarian level bottom, disusul tren akumulasi, sampai akhirnya peluang rebound terjadi pada 2027, walau sifatnya masih bersyarat.

Menurutnya, faktor yang perlu diperhatikan adalah kemampuan BTC bertahan di atas US$60.000, perubahan ETF outflow menjadi inflow berkelanjutan, penurunan suku bunga The Fed, membaiknya likuiditas global, dan meningkatnya minat institusional. 

"Jika faktor-faktor ini terpenuhi, BTC berpeluang kembali menuju area US$80.000 sampai US$120.000. Namun, jika tekanan makro tetap kuat dan arus dana institusi masih keluar, rebound 2027 bisa tertunda atau berjalan lebih lemah," tegasnya.

Strategi Investasi

Fyqieh menyarankan agar strategi investasi Bitcoin pada 2026–2027 sebaiknya dilakukan secara bertahap dan berbasis manajemen risiko, bukan dengan pendekatan agresif dalam satu waktu. 

Menurutnya, koreksi tajam yang terjadi tahun ini memang bisa menjadi peluang akumulasi, tetapi belum otomatis menjadi sinyal bahwa tren bullish sudah kembali. Bagi investor jangka panjang, dia menyarankan pendekatan dengan melakukan akumulasi bertahap atau dollar cost averaging, terutama ketika harga mendekati area support kuat dan sentimen pasar sedang lemah. 

Pendekatan tersebut dapat membantu mengurangi risiko salah timing karena Bitcoin masih sangat dipengaruhi oleh arah suku bunga The Fed, inflasi, arus ETF, dan kondisi likuiditas global. Dia menegaskan, akumulasi juga sebaiknya tetap selektif. 

"Jika BTC mampu bertahan di atas US$60.000, ETF outflow mulai berubah menjadi inflow, dan The Fed mulai lebih dovish, maka koreksi tahun ini bisa dilihat sebagai fase bottoming atau akumulasi sebelum potensi rebound pada 2027. Sebaliknya, jika BTC turun konsisten di bawah US$60.000, arus dana institusional masih keluar, dan kondisi makro tetap ketat, maka risiko penurunan lanjutan masih terbuka," ujarnya.

Saran dia adalah dengan melakukan pendekatan yang lebih sehat, yaitu dengan membagi modal ke beberapa tahap, menjaga porsi investasi sesuai profil risiko, dan menunggu konfirmasi dari teknikal maupun makro.

"Untuk investor konservatif, akumulasi bisa dilakukan setelah BTC menunjukkan pemulihan di atas resistance utama. Untuk investor agresif, area koreksi dapat dimanfaatkan secara bertahap, selama tetap disiplin pada batas risiko," pungkasnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual aset investasi Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Politisi PDIP Ingatkan Menkop Ferry: Jangan Sampai Koperasi Merah Putih Bernasib Seperti BGN
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Amerika Serikat Merilis Gelombang Ketiga Dokumen UFO, Termasuk Video dan Laporan Baru
• 4 jam laluerabaru.net
thumb
Ikhtiar Lahir Batin, Pedagang Amalkan Doa Penglaris Dagangan Seperti Anjuran Nabi Sulaiman AS
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Wanita Jadi Korban Pencurian Modus Diajak Bertemu di Hotel Jakarta Barat, Keberadaan Pelaku Diketahui Karena Sering ke Tempat Laundry
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Andi Iwan Darmawan Aras Kembali Pimpin Kadin Sulsel, Dorong Kemajuan Dunia Usaha dan Perekonomian Daerah
• 16 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.