tvOnenews.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengakui adanya kelemahan dan kesalahan di pihak pemerintah setelah mencuat gelombang protes keras dari kalangan orang tua murid.
Protes tersebut dipicu oleh kekhawatiran bahwa anak-anak mereka terancam tidak kebagian kursi di SMA/SMK negeri dalam proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Pernyataan terbuka itu disampaikan oleh Dedi menyusul viralnya aksi seorang orang tua siswa yang meluapkan kemarahan di kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat lantaran takut anaknya tidak terpetakan masuk ke sekolah negeri.
- YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Menurut figur yang akrab disapa KDM ini, kemarahan yang ditunjukkan oleh warga sama sekali bukan kesalahan mereka, melainkan murni menjadi tanggung jawab kolektif jajaran pemerintah selaku penyelenggara negara.
"Hari ini apabila banyak orang tua marah karena anak-anaknya tidak terpetakan di sekolah negeri, bukan kesalahan orang tua, tetapi kesalahan kami sebagai penyelenggara negara," ujar Dedi Mulyadi, dikutip tvOnenews.com dari Antara Jabar, Jumat (12/6/2026).
Dedi membeberkan bahwa hingga saat ini ekosistem pendidikan bentukan pemerintah memang belum sanggup mengakomodasi seluruh jumlah siswa yang ada secara keseluruhan.
Realita timpang inilah yang dinilai menjadi akar masalah fundamental di balik kepanikan orang tua setiap kali musim penerimaan murid baru tiba.
"Karena kami belum bisa menyiapkan sekolah negeri bagi seluruh rakyat, guru negeri bagi seluruh rakyat. Itu kesalahannya," ucap pria yang lekat dengan iket putih tersebut pasrah.
Lebih lanjut, ia menjabarkan bahwa tensi persaingan dalam sistem SPMB tahun ini kian mengetat akibat membeludaknya pendaftar dari luar wilayah pemetaan yang ikut menyerbu sekolah-sekolah favorit tertentu.
Imbasnya, posisi sejumlah calon peserta didik yang semula masuk kategori aman terpaksa melorot drastis karena kalah bersaing secara peringkat.
"Tanpa pemetaan, anaknya mendapat saingan dari para pendaftar baru dan anak-anak yang tidak masuk ke sekolah tujuan sebelumnya, kemudian mendaftar di sekolah tersebut. Akibatnya anaknya mengalami penurunan peringkat sehingga orang tuanya merasa anaknya berpotensi tidak terpetakan di sekolah negeri," jabar Dedi mendetail.




