Denny JA: Kapitalisme Algoritma Lahirkan Kelas Sosial Baru, ‘Pekerja Digital yang Rentan’

wartaekonomi.co.id
3 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta - Lanskap ketenagakerjaan Indonesia tengah menyaksikan lahirnya cikal bakal kelas sosial baru yang muncul dari revolusi digital. Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA, menyebut kelompok ini sebagai Digitally Vulnerable Class (DVC) atau Pekerja Digital yang Rentan. ​Gagasan tersebut dituangkan Denny JA dalam esai terbarunya yang berjudul "Datangnya Kapitalisme Algoritma dan Cikal Bakal Lahirnya Kelas Baru: Pekerja Digital yang Rentan (DVC)", yang dipublikasikan melalui akun media sosial resminya. ​Menurut Denny, dunia kini telah bergeser dari kapitalisme industri abad ke-19 dan kapitalisme finansial abad ke-20 menuju era baru: kapitalisme algoritma. ​“Jika kapitalisme industri bertumpu pada mesin dan kapitalisme finansial bertumpu pada modal, maka kapitalisme algoritma bertumpu pada data dan algoritma,” ujar Denny JA. ​Dalam sistem baru ini, algoritma memegang kendali penuh. Aturan main yang dibuat oleh platform digital dapat berubah sewaktu-waktu melalui pembaruan sistem, yang secara langsung menentukan akses pekerjaan, penghasilan, reputasi, hingga peluang ekonomi seseorang. Fenomena ini berdampak langsung pada jutaan pengemudi daring (online), kurir digital, pekerja lepas (freelancer), kreator konten, hingga penjual daring. ​Saat ini, estimasi pekerja platform digital di Indonesia telah mencapai sekitar 4 juta orang. Sementara itu, dalam arti yang lebih luas, pekerja ekonomi digital telah berkembang hingga menyentuh angka puluhan juta orang. ​Bukan Proletariat, Bukan Precariat ​Denny JA menjelaskan bahwa DVC memiliki karakteristik yang berbeda dari kelas proletariat yang diperkenalkan oleh Karl Marx, maupun kelas precariat yang digagas oleh Guy Standing. ​Jika proletariat bergantung pada pemilik pabrik dan precariat bergantung pada pasar kerja yang tidak stabil, maka DVC sepenuhnya bergantung pada sistem kecerdasan buatan. ​“Jika pasar menentukan nasib precariat, maka algoritma menentukan nasib DVC. Seorang pengemudi ojek online bisa kehilangan penghasilannya seketika hanya karena satu notifikasi aplikasi. Ia tidak dipecat oleh manusia, melainkan dihentikan oleh algoritma,” tutur Denny. ​Lebih lanjut, Denny mengidentifikasi tiga ciri utama yang melekat pada DVC: ​Kerentanan Algoritmik: Kelangsungan pekerjaan dan pendapatan dapat berubah drastis akibat keputusan sistem digital yang tidak transparan. ​Identitas Kolektif Digital: Meskipun bekerja secara terisolasi di lokasi yang berbeda, para pekerja ini terhubung kuat melalui aplikasi dan komunitas daring yang membentuk solidaritas baru. ​Kerawanan Harapan: Ketergantungan psikologis yang tinggi pada harapan bahwa satu unggahan akan viral atau satu perubahan algoritma akan memperbaiki nasib mereka. ​Desakan Regulasi Setara Uni Eropa ​Meskipun belum menjadi kelas sosial yang sepenuhnya mapan, DVC dinilai sebagai cikal bakal paling kuat yang akan mewarnai struktur sosial abad ke-21. Denny menegaskan, pemerintah dan penyedia platform tidak boleh lagi berlindung di balik tameng inovasi untuk menghindari tanggung jawab. ​Sebagai langkah konkret, Indonesia didesak untuk merancang regulasi perlindungan sosial yang sepadan dengan risiko algoritmik ini, mencontoh langkah Uni Eropa yang telah menetapkan Platform Work Directive demi menjamin hak-hak pekerja digital. ​“Abad ke-19 melahirkan proletariat. Abad ke-20 melahirkan precariat. Abad ke-21 mungkin akan dikenang sebagai abad yang melahirkan manusia yang hidup di bawah bayang-bayang algoritma,” pungkas Denny. Ia memperingatkan bahwa pertarungan terbesar masa depan bukan lagi antara buruh dan pemilik modal, melainkan antara manusia dan sistem teknologi yang diciptakannya sendiri.

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hari Terakhir BTN Jakim, Car Free Day Ditiadakan: Polisi Lakukan Rekayasa Lalu Lintas
• 17 jam laludisway.id
thumb
Giorgio Antonio Ngaku-ngaku Rumah Sarwendah sebagai Miliknya, Ruben Onsu Langsung Beri Sindiran Nyelekit
• 10 jam lalugrid.id
thumb
IPIM Sulsel Kumpulkan Tokoh Nasional, Bahas Masa Depan Peran Masjid di Al-Markaz
• 11 jam laluharianfajar
thumb
Penduduknya Hampir 10 Juta Orang, Swiss Mulai Memikirkan Pembatasan Populasi
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Empat Perwira TNI Lulus dari Kampus Elite Militer di AS
• 10 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.