InJourney konsisten mengembangkan ekosistem aviasi dan pariwisata untuk mendatangkan devisa dengan menarik turis asing berkunjung ke Indonesia. Strategi bisnis terintegrasi dalam ekosistem mulai dari penerbangan, layanan bandara, perjalanan ke lokasi wisata, akomodasi, dan aktivitas kultural dapat menarik 3 juta turis asing baru dengan belanja di lokasi wisata Rp 120 triliun per tahun.
Ekosistem aviasi dan pariwisata membawa InJourney, induk badan usaha milik negara bidang aviasi dan pariwisata, menjalankan peran pencipta nilai (value creation) sekaligus agen pembangunan (agent of development). Melalui strategi ini pula, Direktur Utama InJourney Maya Watono bertekad seluruh anak perusahaan InJourney turut menggerakkan ekonomi Indonesia melalui daerah wisata.
Kepada Kompas di Jakarta, Rabu (3/6/2026), Maya membagikan berbagai inovasi bisnis InJourney yang sudah dan sedang dilakukan untuk meningkatkan jumlah kunjungan turis asing dari 15,38 juta orang tahun 2025 menjadi 18 juta orang dalam dua tahun mendatang.
Berikut petikannya.
Bagaimana strategi ekosistem aviasi dan pariwisata bisa menggerakkan ekonomi Indonesia?
Turis asing akan membawa devisa masuk ke Indonesia. Mobilitas turis nusantara tujuannya pemerataan ekonomi. Jadi, dua peran yang berbeda.
Kalau kita bilang dengan turis nusantara, ekonomi bergerak, itu betul. Tapi, itu bukan dana segar untuk Indonesia. Dana segarnya datang dari turis asing.
Sesuai riset kami dengan Badan Pusat Statistik (BPS), setiap 1 juta turis asing masuk membawa dana segar Rp 40 triliun ke Indonesia. Dana tersebut merupakan pengeluaran turis mulai dari tiket transportasi, akomodasi, kuliner, belanja oleh-oleh, hingga tiket atraksi wisata.
Makanya, tadi saya menyebut angka, misalnya, penambahan 3 juta turis asing per tahun. Sebanyak 3 juta turis asing itu senilai Rp 120 triliun. Sebenarnya bisa kita raih cepat kalau kita fokus.
Fokus saja, misalnya, di Jawa Tengah tujuannya Magelang dan Borobudur. Lalu nanti turis kita bawa ke Prambanan, ke tempat-tempat wisata lain. Itulah pemerataan ekonominya berjalan. Tapi untuk membawa turis asing masuk ke Indoneia harus ada jangkar dulu.
Adapun 3 juta turis menurut saya itu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Sekarang 15,38 juta turis asing tahun 2025. Menurut saya, 15,38 juta turis asing ke 18 juta orang bisa sebenarnya. Kalau kita 1-2 tahun fokus, bisa terwujud.
Bagaimana capaian Kawasan Ekonomi Khusus Sanur sebagai destinasi wisata medis?
Setiap tahun 2 juta masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri. Ekuivalen Rp 160-180 triliun devisa keluar. Tujuan kami pertama adalah menahan dulu devisa keluar.
Jadi saya berharap kalau semua fasilitas kesehatan canggih KEK Sanur sudah jadi akhir tahun ini atau awal tahun depan, kita bisa menahan Rp 50 triliun dulu karena orang Indonesia beralih dari berobat ke luar negeri menjadi ke Bali.
Di KEK Sanur kami membuat destinasi kesehatan dan kebugaran. Ada Mayo Clinic dari AS membuka layanan pemeriksaan kesehatan. Ada juga layanan kesuburan yang berasal dari Malaysia. Lalu yang terbaru adalah bedah plastik Korea Selatan.
Kami juga berusaha menarik turis dari Australia, Malaysia, dan Singapura untuk ke destinasi kesehatan dan kebugaran.
Bagaimana strategi pengembangan destinasi yang sesuai karakeristik daerahnya?
Kalau kita bicara Lombok juga bisa. Tapi kalau bicara Bajo, kita harus nilai premium. Tidak bisa bicara volume. Pariwisata berkualitas.
Kadang orang tidak bisa membedakan antara pariwisata berkualitas sama volume. Kita harus mengejar volume tapi harus ada yang layak. Labuan Bajo tidak akan bisa ngejar volume karena mahal. Misalnya, boat-nya. Terus itu kita harus masuk ke arah ekowisata, konservasi, dan premium.
Seperti Bajo dan Papua, konsepnya tidak bisa massal. Kalau mau massal dapatnya di daerah wisata di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Kita harus merangkul agen perjalanan wisata. Kita harus bikin paket wisata di dalam negeri. Rata-rata paket agen perjalanan wisata kita saat ini adalah perjalanan ke luar negeri. Kalau pergi ke agen perjalan wisata di Indonesia, 80 persen mereka pasti jual Korea, Jepang. Sedikit sekali yang jual Labuan Bajo.
Bagaimana strategi transformasi bandara internasional sebagai pintu masuk turis asing ke Indonesia?
Terminal 1C sekarang semuanya kami kembalikan seperti desain awal. Itu bata merah yang sempat ditutup karpet kini dibuka sehingga jadi asli lagi. Bata merah itu asli, bagus sekali. Pernah menang Aga Khan Award tahun 1995.
Desainernya Paul Andreu dari Perancis sangat memahami filosofi Indonesia yang sangat tampak dari karyanya. dengan pendopo-pendoponya semua.
Bagaimana dampak dari transformasi itu?
Terminal 1C itu dan penerimaannya naik signifikan. Bukan hanya untuk kami, untuk penyewa.
Kadang dampaknya orang tidak mengerti "oh beautifikasi, kosmetik". Makanya saya selalu bilang ini tidak hanya sekadar kosmetik, dampaknnya besar sebenarnya, yaitu sektor riil ekonomi berjalan.
Bandara internasional adalah wajah bangsa. Tempat kita melihat titik masuk suatu negara pertama, titik terakhir saat akan meninggalkan. Jadi, menunjukkan peradaban kita sebagai bangsa.
Apakah daya tampung Bandara Soekarno-Hatta masih memadai?
Rencana pembangunan Terminal 4 biayanya Rp 14 triliun. Saya tidak terlalu setuju dan lebih baik optimalisasi yang ada dulu. Jadi waktu itu isunya adalah bangun Terminal 4 senilai Rp 14 triliun di sebelah utara. Saya bilang enggak, kita lihat fasilitas yang ada saat itu, kita optimalisasi.
Bandara Soekarno-Hatta itu berdaya tampung 55 juta penumpang per tahun waktu itu dan dibilang sudah maksimal karena kapasitas 56 juta. Lalu kita rapikan semua, kita bikin desainnya, cetak birunya, kita tata ulang zona Terminal 1, Terminal 2, dan Terminal 3.
Jadi saat kita memetakan, ada beberapa implikasi. Satu adalah zona komersial. Kita tahu siapa yang naik Citilink, jadi ritelnya seperti apa. Siapa yang naik Singapore Airlines dan Emirates, ritelnya pasti kita bedakan.
Implikasinya juga ternyata dengan tata ulang zona itu, kita bisa menambah kapasitas penumpang 30 juta per tahun. Sekarang dari 56 juta penumpang naik ke 86 juta penumpang per tahun berkat tata ulang zonasi terminal. Jadi tidak perlu membangun Terminal 4. Ditambah lagi proses layanan bandara juga dipercepat setiap titik pemeriksaan.
Jadi misalnya dulu tidak punya SLA (Service Level Agreement). Proses lapor datang penumpang (check-in) rata-rata 23 menit. Sekarang saya minta diturunkan ke 10 menit.
Ekosistem aviasi dan pariwisata membutuhkan konektivitas, bagaimana ketersediaan armada di Indonesia?
Kalau kita bicara untuk memenuhi konektivitas udara yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia, itu kita butuh 900 pesawat. Saat ini ada 600 pesawat. Banyak sekali yang sedang tidak terbang. Jadi mungkin pesawat beroperasi di Indonesia sekitar 400 unit-500 unit. Jadi ketersediaan pesawat di Indonesia setengah dari apa yang dibutuhkan.
Secara permintaan dan penawaran pasti terpengaruh, mau tidak mau pasti harga mahal. Semua maskapai juga berlomba-lomba mengisi rute yang sudah gemuk. Bali, Kualanamu. Tidak melayani rute-rute yang mahal karena merugi. Ini harus subsidi dari rute gemuk.
Rute gemuk tidak boleh kanibalisme. Jadi harus diatur memang marketnya. Mana terbang ke mana, mana terbang ke mana. Ini buat kepentingan nasional.
Salah satu tantangan pariwisata adalah harga tiket. Bagaimana InJourney melihat hal ini?
Saya mau jelaskan tentang Passenger Service Charge (PSC) itu. PSC itu 1,1 persen dari biaya operasional maskapai. Setiap ada program diskon hari besar 50 persen PSC, menggerus penerimaan InJourney Rp 300 miliar. Tiga kali setahun tergerus hampir 1 triliun. Tapi PSC sebenarnya komponennya 1,1 persen dari total biaya operasional pesawat yang beroperasi.
Apakah Indonesia bisa menjadi transit hub, seperti Dubai dan Singapura?
Kalau transit secara obyektif kita sulit karena secara geografi, kita tidak memungkinkan kita di bawah (selatan). Transit hub itu harus didukung airlines yang kuat. Kenapa Singapura bisa menjadi transit hub yang bagus? Karena Singapore Airlines bagus. Dubai punya Emirates. Doha punya Qatar.
Tanpa maskapai penerbangan nasional yang kuat, bandara kita belum mampu menjadi transit hub. Apa yang bisa kita lakukan sebenarnya konsepnya hub and spoke atau model jaringan transportasi yang semua rutenya terhubung ke satu pusat utama. Konsep ini menggunakan poin-poin internasional yang bisa ping-pong secara domestik. Sebagai contoh Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai. Saya lagi coba buat juga Bandara Kualanamu dan Makassar.
Kami juga akan meluncurkan layanan koneksi penerbangan internasional-domestik terintegrasi tanpa keluar terminal (first ever connectiong seamless) di Ngurah Rai. Bandara Indonesia tidak ada yang seamless inter-dom (international-domestik). Kalau Changi kan pindah gate aja. Juli-Agustus ini saya ingin ini menjadi first ever connecting seamless.
Bagaimana dengan pengembangan Mandalika?
Kita BUMN itu merupakan agen pembangunan untuk negara. Kita tidak boleh lupa itu. Bahwa kalau kita disuruh mencetak uang, membuat keuntungan, saya bisa saja cukup berjualan pariwisata Borobudur, tapi lalu apa tujuan kita sebagai agen pembangunan?
Di Mandalika, dampak yang didapat dari penyelenggaraan MotoGP luar biasa untuk pembangunan Lombok, untuk Nusa Tenggara Barat secara keseluruhan. Pertumbuhan ekonomi NTB termasuk yang tertinggi nasional dan Mandalika dulu daerah marjinal yang sekarang menjadi tempat pertumbuhan ekonominya besar.
Bagaimana dengan pengembangan sumber daya manusia lokal?
Sekarang ini marshal MotogGP di Mandalika murni semua orang NTB. Marshal adalah petugas lintasan yang sukarela maupun dipekerjakan untuk memastikan keselamatan pembalap dan kelancaran balapan. Tugas utama mereka meliputi penanganan kecelakaan, evakuasi motor, membersihkan sirkuit, hingga mengibarkan bendera di titik-titik krusial selama balapan berlangsung
Tidak hanya itu, kita juga sudah mengirim marshal-marshal dari NTB ini ke penyelenggaraan MotoGP di Sepang, Malaysia dan Motegi di Jepang. Dalam tiga tahun terakhir, transfer pengetahuannya cepat sekali.
Bagaimana Anda memandang InJourney dalam tiga tahun ke depan?
Kita bisa menjadi ekosistem aviasi dan pariwisata yang lebih kuat. Kita sudah lakukan penyehatan keuangan dengan merger dan integrasi anak perusahaan agar lebih menghasilkan keuntungan.
Banyak sekali aksi korporasi yang dilakukan. Strategi bisnis ekosistem aviasi dan pariwisata yang fokus dapat membuat kita mewujudkan tambahan 3 juta turis asing baru untuk dana segar Rp 120 triliun dalam 2 tahun.





