Iran dan Amerika Serikat (AS) dikabarkan telah mencapai kesepakatan damai yang mengakhiri konflik militer antara kedua negara. Kesepakatan tersebut juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia.
Donald Trump Presiden AS, mengumumkan bahwa perjanjian dengan Iran telah rampung dan pemerintah AS akan mencabut blokade angkatan laut yang sebelumnya diberlakukan.
“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat untuk semua,” tulis Trump melalui platform Truth Social, Senin (15/6/2026) dini hari WIB.
Dilansir laporan Anadolu, Trump juga menyatakan telah memberikan otorisasi penuh untuk membuka Selat Hormuz tanpa pungutan biaya serta mengakhiri blokade laut AS terhadap Iran.
“Saya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya dan sekaligus mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat,” tulisnya.
Ia menambahkan bahwa lalu lintas pelayaran dan pengiriman energi internasional melalui Selat Hormuz akan kembali berjalan normal. “Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir,” ujar Trump.
Meski demikian, Trump belum mengungkap rincian isi kesepakatan maupun mekanisme pelaksanaannya.
Sementara itu, Shehbaz Sharif Perdana Menteri Pakistan mengonfirmasi bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan damai setelah melalui negosiasi intensif yang dimediasi Pakistan, dengan dukungan Qatar, Arab Saudi, dan Turki.
“Setelah pembicaraan intensif, kami dengan senang hati mengumumkan bahwa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah tercapai,” kata Sharif melalui media sosial X.
Menurut Sharif, kedua negara telah menyepakati penghentian segera seluruh operasi militer secara permanen di berbagai wilayah, termasuk Lebanon.
Di sisi lain, Kazem Gharibabadi Wakil Menteri Luar Negeri Iran juga mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan AS telah difinalisasi dan akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada 19 Juni mendatang.
“Kami telah memasukkan seluruh posisi penting Iran ke dalam draf MoU,” kata Gharibabadi seperti dikutip laporan kantor berita Tasnim.
Meski demikian, ia menegaskan kesepakatan tersebut tidak berarti Iran mempercayai AS sepenuhnya. “Memorandum ini tidak berarti mempercayai musuh. Dokumen ini disusun dengan prinsip ketidakpercayaan aktif. Kami akan terus memantau pelaksanaan komitmen Amerika Serikat,” ujarnya.
Gharibabadi menjelaskan bahwa mulai Senin (15/6/2026) malam, blokade laut AS terhadap Iran akan dihentikan. Bersamaan dengan itu, perang dan operasi militer di berbagai front konflik juga akan berakhir secara permanen.
Setelah penandatanganan resmi pada 19 Juni, kedua negara akan memasuki tahap verifikasi komitmen. Iran menyatakan implementasi penghentian perang, pencabutan blokade, dan pelepasan aset Iran yang dibekukan akan menjadi syarat sebelum memasuki putaran negosiasi lanjutan selama 60 hari.
Dalam periode tersebut, kedua pihak akan membahas sejumlah isu strategis, termasuk pencabutan sanksi primer dan sekunder AS terhadap Iran, penghentian berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), isu nuklir, hingga mekanisme rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran pascakonflik.
Iran juga menegaskan akan tetap menjaga kesiapan militernya dan terus memantau pelaksanaan seluruh poin kesepakatan yang telah disetujui bersama. (bil/ham)




