Saham Consumer Dinilai Jadi Pilihan Aman saat Risiko Kebijakan Meningkat

idxchannel.com
10 jam lalu
Cover Berita

Sektor barang konsumsi (consumer goods) dinilai menjadi tempat berlindung yang relatif aman (tactical safe haven) bagi investor.

Saham Consumer Dinilai Jadi Pilihan Aman saat Risiko Kebijakan Meningkat. (Foto:

IDXChannel – Sektor barang konsumsi (consumer goods) dinilai menjadi tempat berlindung yang relatif aman (tactical safe haven) bagi investor di tengah meningkatnya risiko intervensi kebijakan pada sejumlah sektor lain, terutama komoditas.

Analis UOB Kay Hian menilai, seperti dikutip Dow Jones Newswires, saham-saham konsumer kini semakin menarik setelah valuasinya terkoreksi cukup dalam.

Baca Juga:
IHSG Melonjak Lebih dari 3 Persen di Tengah usai AS-Iran Capai Kesepakatan Damai

Pelemahan tersebut sebagian besar telah mencerminkan berbagai sentimen negatif, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah hingga ke level terendah secara nominal terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga risiko fiskal domestik.

Meski masih mempertahankan rekomendasi market weight untuk sektor konsumer Indonesia, UOB Kay Hian menjagokan beberapa saham sebagai pilihan utama, yakni PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Baca Juga:
Inaco (JELI) Targetkan Dana IPO Rp392 Miliar, Mayoritas untuk Belanja Modal

Di antara saham-saham tersebut, CMRY diperkirakan menjadi salah satu yang mampu mencatat kinerja paling menonjol dalam beberapa tahun ke depan. Analis Nomura, Heng Siong Kong, memperkirakan laba operasional (EBIT) CMRY dapat tumbuh sekitar 22 persen hingga 2028.

Menurut dia, pertumbuhan tersebut akan ditopang oleh ekspansi jaringan distribusi yang agresif serta penambahan kapasitas produksi yang sedang direncanakan perusahaan.

Baca Juga:
Emas Antam (ANTM) Awal Pekan Melonjak Rp18 Ribu per Gram, Cek Harganya

Prospek tersebut mendorong Nomura menaikkan target harga CMRY menjadi Rp9.250 per unit dari sebelumnya Rp9.150, dengan tetap mempertahankan rekomendasi buy.

Sementara itu, prospek MYOR dinilai menghadapi tantangan dari pasar ekspor.

Analis CGS International memperkirakan penjualan ekspor Mayora cenderung stagnan pada 2026, terutama akibat lemahnya permintaan di Filipina yang dipengaruhi daya beli yang belum pulih sepenuhnya dan persaingan yang semakin ketat.

Sejalan dengan itu, CGS International memangkas proyeksi penjualan Mayora untuk periode 2026-2027 sebesar 4 persen hingga 6 persen. Target harga saham MYOR juga diturunkan menjadi Rp2.170 per saham dari sebelumnya Rp2.740.

Meski demikian, CGS International masih mempertahankan rekomendasi add terhadap saham Mayora.

Dalam terminologi riset, rekomendasi add menunjukkan potensi imbal hasil lebih dari 10 persen dalam 12 bulan ke depan. Keyakinan tersebut didukung proyeksi pertumbuhan laba per saham (EPS) Mayora yang diperkirakan mencapai 18 persen pada 2026. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Deretan Kasus Penipuan Umrah: Dari First Travel hingga Hanania
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Pesona Pantai Kastela Ternate Tercoreng Sampah Laut
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Prabowo Terima Presiden Jerman di Istana Hari Ini
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Peristiwa 15 Juni: Pasukan Hantu Laut TNI AL Tumpas Permesta di Manado
• 15 jam laluokezone.com
thumb
Tiba di Indonesia, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier Akan Temui Prabowo di Istana Merdeka
• 9 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.