Oleh: Fernan Rahadi, dari Madinah, Arab Saudi.
REPUBLIKA.CO.ID, Sambil menyendarkan badannya yang kurus ke sofa, bocah bergamis putih itu terus menggerak-gerakkan kakinya. Sesekali ia tersenyum sendiri dan menoleh ke arah sang ibu yang duduk tenang di sebelahnya.
Menjadi haji termuda tampaknya bukan menjadi hal yang spesial bagi Fardan Aruna Syafzani Wibowo (13 tahun). "Senang," begitu jawabnya singkat ketika Republika berkesempatan mengobrol dengannya di Millennium Taiba Hotel, Madinah, Sabtu (13/6/2026) siang waktu setempat.
- AS-Iran Sepakat Damai, IHSG Menguat
- Van Dijk Balas Kritik Pundit Belanda Usai Oranje Ditahan Jepang 2-2
- Hukum Puasa Asyura pada 10 Muharram Menurut Hadits
Siswa kelas 1 MTs Khadijah Kota Malang, Jawa Timur, itu bisa berhaji di usia belia karena menggantikan sang ayah yang meninggal tiga tahun lalu akibat penyakit kanker. Untuk menemani ibunya, maka diajukanlah nama Fardan, anak pertama dari empat bersaudara, untuk berangkat ke tanah suci.
Saat di tanah suci, terdapat momen-momen di mana ia merasa kangen dengan sang ayah. Beberapa di antaranya adalah saat mengunjungi Raudhah di Masjid Nabawi dan saat melaksanakan wukuf di Arafah bersama sang ibu, Siska Aprilia (41 tahun). "Pas bangun tidur di Arafah (ingat ayah). Gak nangis," tutur Fardan sambil sesekali menoleh ke sang ibu.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Bagi Siska, momen wukuf menjadi spesial karena waktu pelaksanaannya, 26 Mei 2026, bertepatan dengan tanggal di mana sang suami meninggal tiga tahun lalu. "Tahun 2013 mendaftar haji. Tapi tiga tahun lalu qadarullah suami saya meninggal setelah tiga tahun sebelumnya berjuang melawan kanker," kata Siska yang tergabung dalam rombongan kloter SUB 71 bersama jamaah haji dari Denpasar, Bali.




