Di kancah dinamika ekonomi global yang masih di bawah bayang-bayang ketidakpastian geopolitik, perlambatan perdagangan dunia, dan volatilitas pasar keuangan, pemerintah telah membangun postur APBN 2026 sebagai instrumen strategis untuk menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Merujuk APBN Kita pada konferensi pers Kemenkeu (5 Juni 2026), hingga Mei 2026, kinerja fiskal menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.
Pendapatan negara mencapai Rp1.185 triliun atau 37,6% dari target APBN, tumbuh sebesar 19,1% (yoy). Pada saat yang sama, belanja negara mencapai Rp1.365 triliun atau 35,5% dari pagu tahunan dengan pertumbuhan 34,4%. Diseberangnya, defisit fiskal masih berada pada level sedikit aman, sekitar 0,7% terhadap PDB.
Potret fundamental makroekonomi pada postur APBN 2026, menggambarkan ketahanan yang cukup solid. Pertumbuhan ekonomi Q1 2026 berada di 5,61%, inflasi terkendali pada level 3,08%, aktivitas manufaktur kembali memasuki zona ekspansi, surplus perdagangan berlanjut selama 72 bulan berturut-turut, dan aliran modal asing kembali mencatatkan arus masuk bersih yang positif sebesar Rp32,8 triliun hingga Q2 (per 3 Juni 2026) dengan perincian inflow SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) +Rp99,9 triliun, di mana outflow SBN -Rp10,8 triliun dan saham -Rp56,4 triliun.
Dari penjelasan indikator di atas, hal ini menggambarkan bahwa perekonomian Indonesia masih mampu bertahan dan tumbuh di tengah tekanan global. Kendati demikian, pertanyaan penting adalah: Apakah kondisi ini cukup untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan pertumbuhan 5% dan melangkah menuju pertumbuhan yang lebih tinggi 6%-8% secara berkelanjutan?
Dalam pemikiran ekonomi modern, produktivitas merupakan sumber utama kemakmuran suatu bangsa. Sebagaimana dikemukakan oleh Krugman (1994), kemakmuran jangka panjang suatu bangsa pada akhirnya ditentukan oleh produktivitas. Kendati konsumsi dapat mendorong pertumbuhan dalam jangka pendek, tetapi tanpa peningkatan kapasitas produksi, pertumbuhan tersebut pada akhirnya akan kehilangan tenaga pendorongnya.
Jadi, APBN tidak seharusnya dipandang hanya sekadar instrumen pengeluaran pemerintah. Lebih dari itu, APBN harus menjadi alat transformasi yang mampu menciptakan kapasitas ekonomi baru, meningkatkan produktivitas nasional, dan memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.
Dalam Kerangka Simatupang (2026), pertumbuhan ekonomi bukanlah hasil dari satu kebijakan yang berdiri sendiri. Pertumbuhan merupakan produk dari sinergi berbagai instrumen pembangunan yang meliputi kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, investasi, perdagangan, industri, serta pengelolaan devisa. Dalam konteks ini, negara berperan sebagai dirigen yang mengoordinasi seluruh instrumen tersebut agar bergerak dalam satu arah yang sama menuju tujuan pembangunan nasional.
Indikasi implementasi APBN 2026 menuju arah pembangunan nasional mulai terlihat. Pertumbuhan kredit yang mendekati 9,98% dan pertumbuhan DPK sebesar 11,39% pada April 2026. Kondisi likuiditas yang relatif terjaga, dimana pemerintah berupaya memastikan bahwa stimulus fiskal tidak berhenti di neraca pemerintah, tetapi mengalir ke sektor riil dan mendorong aktivitas ekonomi yang produktif.
Adapun ukuran keberhasilan kebijakan, bukan berbasis pada besarnya kredit yang tersalurkan, melainkan pada kualitas sektor yang menerima pembiayaan. Untuk kredit yang memperbesar konsumsi akan menghasilkan pertumbuhan yang bersifat sementara.
Sebaliknya, pembiayaan yang diarahkan ke sektor manufaktur, hilirisasi sumber daya alam, ketahanan pangan, energi, dan industri berorientasi ekspor akan menciptakan kapasitas produksi baru yang memperkuat kemampuan ekonomi menghasilkan devisa.
Perhatian pemerintah terhadap sektor pangan semakin terlihat semakin nyata. Hingga Mei 2026, realisasi anggaran ketahanan pangan telah mencapai Rp66,6 triliun, sementara Program Makan Bergizi Gratis menyerap Rp88,15 triliun dengan cakupan lebih dari 63 juta penerima manfaat. Dari sisi sosial, program ini memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menjaga daya beli masyarakat.
Dari sudut pandang ekonomi pembangunan, manfaat terbesar program tersebut baru akan tercapai apabila mampu menciptakan keterkaitan yang kuat dengan sektor produksi domestik. Kuncinya adalah bilamana kebutuhan pangan program diarahkan dipenuhi oleh petani, peternak, nelayan, koperasi, dan UMKM dalam negeri, maka program ini tidak hanya menjadi instrumen perlindungan sosial, tetapi juga menjadi penggerak produksi nasional.
Namun, apabila peningkatan konsumsi tidak diimbangi oleh peningkatan kapasitas produksi domestik, maka sebagian manfaat ekonomi akan "bocor" melalui peningkatan impor. Dalam kondisi seperti ini, pertumbuhan ekonomi memang terjadi, tetapi tidak sepenuhnya menghasilkan nilai tambah yang dinikmati oleh perekonomian nasional.
Oleh karena itu, kita harus membedakan antara pertumbuhan dan transformasi. Pertumbuhan dapat diciptakan melalui ekspansi belanja dan konsumsi. Namun transformasi ekonomi hanya dapat diwujudkan melalui peningkatan produktivitas, investasi produktif, dan penguatan sektor-sektor yang menghasilkan nilai tambah tinggi.
Dari beberapa indikator, manufaktur kembali bergerak ke zona ekspansi, penerimaan pajak sektor perdagangan tumbuh 52,4% (yoy) dan menjadi kontributor terbesar dengan porsi 25,5% dari total penerimaan pajak sektor utama. Kendati demikian, terdapat satu aspek yang masih memerlukan perhatian serius, yaitu pengelolaan devisa nasional.
Surplus perdagangan Indonesia yang mencapai lebih dari US$92 miliar atau bertumbuh 19,7% (y0y) selama Januari hingga April 2026 dan berkontribusi sebesar 23,6% terhadap penerimaan pajak sektor utama. Gambaran ini, menunjukkan kemampuan ekonomi nasional menghasilkan devisa dalam jumlah besar. Akan tetapi, tantangan sesungguhnya bukan terletak pada penciptaan devisa, melainkan pada kemampuan menjaga agar devisa tersebut tetap berada dan berputar di dalam sistem keuangan domestik.
Dalam perspektif Simatupang (2026), devisa merupakan darah yang mengalir dalam tubuh perekonomian. Semakin besar devisa yang kembali ke sistem domestik, semakin kuat likuiditas rupiah, semakin besar kapasitas investasi, dan semakin stabil nilai tukar nasional. Sebaliknya, apabila devisa lebih banyak tersimpan di luar negeri, maka manfaat ekonominya bagi pembangunan nasional menjadi jauh lebih terbatas.
Oleh karenaya, target pertumbuhan ekonomi hingga 8% tidak mungkin dicapai hanya melalui peningkatan belanja negara. Target tersebut membutuhkan integrasi yang lebih luas antara kebijakan fiskal, pengelolaan devisa hasil ekspor, hilirisasi industri, reformasi regulasi, penguatan sektor manufaktur, dan percepatan investasi produktif. Seluruh instrumen tersebut harus bekerja secara terpadu dalam satu desain pembangunan yang konsisten.
APBN 2026 menggambarkan bahwa dasar menuju arah tersebut mulai terbangun. Pendapatan negara tumbuh kuat, belanja produktif meningkat, aktivitas sektor riil tetap ekspansif, inflasi terkendali, dan stabilitas pasar keuangan relatif terjaga. Namun perlu disadari bahwa semua itu pada dasarnya masih merupakan sarana, bukan tujuan akhir.
Keberhasilan pembangunan pada akhirnya akan diukur dari sejauh mana instrumen-instrumen tersebut mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, daya saing yang lebih kuat, dan kemampuan menciptakan devisa yang berkelanjutan.
Jadi, tantangan utama Indonesia bukan terletak pada keterbatasan anggaran, melainkan pada kemampuan mengubah setiap rupiah APBN menjadi investasi produktif yang menciptakan kapasitas ekonomi baru. Karena, bagaimanapun kemakmuran bangsa tidak ditentukan oleh besarnya pengeluaran pemerintah, tetapi oleh kemampuan ekonomi menghasilkan nilai tambah yang terus meningkat dan berkelanjutan.
APBN 2026 telah menyediakan panggung dan partitur pembangunan. Kini, kita menunggu peran kepala negara sebagai dirigen dalam menentukan seluruh pelaku ekonomi: pemerintah, dunia usaha, perbankan, industri, dan masyarakat dalam memainkan nada yang sama dalam sebuah simfoni pembangunan nasional yang harmonis, produktif, dan berkelanjutan.
(miq/miq) Add as a preferred
source on Google




