KUPANG, KOMPAS — Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum di Kota Kupang kerap menghentikan penjualan bahan bakar minyak bersubsidi Pertalite karena kehabisan stok. Di sisi lain, Pertamina menjamin ketersediaan pasokan Pertalite. Stok BBM tersebut disebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 10 hari ke depan.
Pantauan Kompas pada Minggu (14/6/2026) hingga Senin (15/6/2026) menemukan sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang sempat menghentikan penjualan Pertalite di berbagai titik, antara lain di kawasan Naikoten, Oebufu, Oepura, dan Oesapa. “Pertalite habis. Kalau mau, isi Pertamax saja,” kata petugas di seluruh SPBU yang didatangi.
Pertalite merupakan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan harga Rp 10.000 per liter. Adapun Pertamax bukan BBM bersubsidi. Pekan lalu, pemerintah menaikkan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter.
Karena harga Pertamax lebih mahal, banyak pengendara memilih meninggalkan SPBU. Mereka mengaku tidak sanggup membeli Pertamax. Sejumlah warga kecewa dan menuding pemerintah sengaja mengurangi kuota Pertalite untuk mendorong pengguna beralih ke Pertamax.
Mereka kemudian mencari Pertalite yang dijual secara eceran di pinggir jalan. Satu liter Pertalite dijual seharga Rp 12.000. Harga di tingkat pengecer juga berpotensi naik karena pasokan berkurang. Para pengecer umumnya memperoleh BBM dari SPBU.
Sementara itu, Area Manager Relations, Communication, and CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur Bali dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) Ahad Rahedi melalui keterangan tertulis mengatakan, stok Pertalite di Kupang aman dan mencukupi. Terkait SPBU yang kehabisan stok, ia menjelaskan bahwa terminal BBM telah mengirimkan pasokan ke seluruh SPBU di Kota Kupang.
Serial Artikel
Di Labuan Bajo, Wisatawan Antre Komodo, Warga Antre BBM
Antrean pada sejumlah SPBU di Labuan Bajo sudah berlangsung lama. Diduga ada mafia BBM bersubsidi yang melibatkan berbagai pihak.
Ia menjamin pasokan Pertalite dalam kondisi aman. Masyarakat diimbau membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan panic buying. Adapun rata-rata konsumsi Pertalite di Nusa Tenggara Timur saat ini mencapai sekitar 892.000 liter per hari.
“Ketahanan stok Pertalite per hari ini mencapai 10 hari ke depan. Namun, stok bersifat dinamis karena secara berkala ada suplai dari kapal, kilang, dan terminal BBM yang beroperasi setiap hari,” kata Ahad.
Seperti diberitakan sebelumnya, kenaikan harga gas elpiji dan Pertamax, serta kelangkaan minyak tanah, kian memperparah krisis bahan bakar di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sebagian warga terpaksa beralih menggunakan kayu bakar yang kini juga mulai mengalami kenaikan harga.
Pantauan Kompas di Pasar Kasih, Kota Kupang, pada Minggu (14/6/2026), menunjukkan sejumlah lapak mulai menjual kayu bakar. Harganya Rp 10.000 untuk tiga ikat. Setiap ikat terdiri atas tiga batang kayu dengan panjang sekitar 50 sentimeter dan ketebalan sekitar 5 sentimeter.
Harga kayu bakar saat ini meningkat dibandingkan beberapa pekan sebelumnya, yakni dari empat ikat menjadi tiga ikat per Rp 10.000. Kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya permintaan seiring kenaikan harga gas elpiji dan kelangkaan minyak tanah. Mayoritas warga Kota Kupang masih menggunakan minyak tanah untuk kebutuhan memasak.
“Biasanya yang membeli kayu bakar itu untuk kebutuhan pesta dan dalam jumlah banyak. Sekarang banyak yang membeli untuk kebutuhan harian di rumah karena harga minyak tanah naik,” kata Andre, pedagang di Pasar Kasih, Kota Kupang.
Di pasar tersebut, minyak tanah dijual secara eceran dengan harga Rp 10.000 per liter, atau lebih dari dua kali lipat harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 4.000 per liter. Diduga, minyak tanah dibeli dari agen resmi sesuai HET, lalu dijual kembali secara eceran.
Sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan minyak tanah. Mereka harus mengantre berjam-jam di agen hanya untuk memperoleh lima liter. Karena kuota terbatas, banyak warga tidak kebagian sehingga beralih menggunakan kayu bakar.
“Kami pakai kayu bakar untuk memasak air dan makanan. Ini sangat membantu. Kompor minyak tanah hanya digunakan kalau ada kebutuhan mendesak pada malam hari. Rasanya seperti kembali ke zaman dulu,” kata Ina (50), warga Kelurahan Bello.
Serial Artikel
Elpiji Mahal dan Minyak Tanah Langka, Warga Kupang Kembali Pakai Kayu Bakar
Harga elpiji yang melonjak dan minyak tanah yang langka memaksa sebagian warga Kupang kembali menggunakan kayu bakar untuk kebutuhan memasak sehari-hari.





