Ketua Umum PDIP sekaligus Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, meresmikan renovasi Istana Gebang yang terletak di Jl. Sultan Agung No.59, Sananwetan, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, Senin (15/6).
Dalam momen ini, Megawati memilih untuk melepaskan naskah sambutan formal yang telah disiapkan oleh panitia. Ia memilih berbicara secara spontan dari hati nurani karena merasa sedang berada di rumah kakeknya sendiri.
"Ini tadinya saya sudah dibuatkan nih yang namanya sambutan, terus aku kok mikir... ini sambutan tak woco opo ora yo? Tapi kalau saya baca jadi formal. Nggak ah, ini di rumah Eyang Kakung. Aku langsung udah ngomong. ‘Eyang Kakung, nyuwun sewu nggih, aku tak ngomong... ini ngomong hati nurani’," ujar Megawati disambut tepuk tangan riuh.
Momentum peresmian ini dihadiri langsung oleh putra Megawati yang juga Ketua DPP PDIP, M. Prananda Prabowo, serta anggota keluarga Bung Karno lainnya, yaitu Puti Guntur Soekarno dan Romy Soekarno.
Selain pihak keluarga, jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP hadir secara lengkap dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto bersama struktur DPD PDIP Jawa Timur dan ribuan kader serta masyarakat yang memadati kompleks museum.
Dalam pidato tanpa teksnya, Megawati meminta masyarakat meresapi bagaimana Bung Karno menghabiskan masa mudanya keluar-masuk penjara dan dibuang selama total 22 tahun demi kemerdekaan bangsa.
"Tempat ini bukan hanya untuk dikunjungi, tapi untuk diresapi. Saya merenung berhari-hari saat diminta membuka kembali Istana Gebang ini. Apa yang harus saya ceritakan? Apakah hanya tentang tempat tinggal masa kecil Bung Karno? Bukan. Tapi tentang semangat perjuangan beliau," tegas Megawati.
Ia mengungkapkan bahwa Bung Karno menghabiskan total 22 tahun masa mudanya dalam penjara dan pengasingan— di Ende, Bangka, dan Bengkulu —karena perjuangannya.
“Coba kalian bayangkan, siapa yang mau dipenjara? Siapa yang mau dibuang? Beliau bertahan karena yakin suatu hari negara ini akan ada,” katanya.
Megawati mengajak seluruh anak bangsa untuk menjadikan Istana Gebang sebagai pengingat bahwa kemerdekaan bukanlah akhir, tetapi harus terus diperjuangkan.
“Apakah kalian sudah benar-benar merdeka? Belum. Kita tetap akan dijajah jika tidak waspada. Maukah kalian dijajah lagi?” teriaknya, disambut gemuruh “Tidak!” dari ribuan peserta.
Rangkaian peresmian renovasi bangunan berarsitektur kolonial ini ditandai secara simbolis melalui penekanan tombol sirine oleh Megawati Soekarnoputri dengan didampingi oleh Prananda Prabowo, Puti Guntur Soekarno, dan Romy Soekarno.
Tepat setelah sirine berbunyi, acara dilanjutkan dengan peresmian monumen patung Bung Karno yang berdiri megah di dalam area kompleks tersebut.
Peresmian patung setinggi 5 meter karya seniman asal Bantul, Yogyakarta, Drs. Gunadi, ini ditandai dengan penandatanganan prasasti resmi oleh Megawati.
Kehadiran patung ini menjadi simbol visual yang mempertegas kehadiran spiritual dan rekam jejak pemikiran Sang Proklamator di tanah Blitar. Monumen ini sekaligus melengkapi kawasan Istana Gebang sebagai satu kesatuan destinasi wisata sejarah dan ideologis yang representatif bagi masyarakat luas.
Usai seluruh rangkaian seremoni selesai, Megawati bersama keluarga dan sejumlah sahabat dekat, termasuk Guru Besar Universitas St. Petersburg Rusia, Connie Rahakundini Bakrie, langsung berjalan masuk untuk berkeliling meninjau bagian dalam rumah masa kecil Bung Karno tersebut.
Sebagai informasi, Istana Gebang merupakan situs sejarah yang dikenal sebagai rumah tempat Sang Proklamator, Bung Karno, menghabiskan masa mudanya. Kompleks bangunan ini pertama kali didirikan pada tahun 1884, bertepatan dengan pembangunan Stasiun Kereta Api Blitar. Rumah berarsitektur kolonial ini kemudian dibeli dari seorang warga Belanda bernama C.H. Portier, yang merupakan pegawai kereta api di Blitar, dan mulai ditempati oleh keluarga besar Bung Karno sekitar tahun 1917.
Di rumah ini, Bung Karno tinggal bersama kedua orang tuanya, Raden Sukemi Sosrodiharjo dan Ida Ayu Nyoman Rai, serta kakak kandungnya, Sukarmini. Di setiap sudut rumah ini lah gagasan awal kebangsaan, perenungan atas penderitaan rakyat, dan watak kepemimpinan Bung Karno mulai ditempa.
Bicara PerundunganDi tengah pidatonya, Megawati menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap dua persoalan mendasar bangsa: maraknya perundungan (bullying) di sekolah dan ketidakmandirian pangan.
Megawati mempertanyakan di mana rasa perikemanusiaan generasi saat ini.
Ia mengaku sedih melihat anak-anak sekolah menjadi korban perundungan hanya karena perbedaan status ekonomi.
“Mengapa itu terjadi? Karena ada sikap-sikap yang membeda-bedakan, seperti ‘jangan temani dia, dia anak miskin’. Bahkan ibu-ibu sekarang mulai cenderung mengambil sikap seperti itu," keluhnya.
Megawati menegaskan bahwa Salam Pancasila yang selalu ia gaungkan bukan sekadar seremoni, tetapi pengingat akan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
Setelah menyoroti masalah moral, Megawati beralih ke persoalan ketahanan pangan. Ia mengingatkan instruksi yang telah ia keluarkan sejak tahun 2021– untuk menanam 10 jenis tanaman pangan pendamping beras di seluruh daerah –tidak dijalankan dengan serius oleh kader partai.
“Sejak 2021 sebagai Ketua Umum, saya sudah memberikan instruksi ke seluruh daerah untuk menanam 10 tanaman pangan sebagai pendamping beras. Siapa yang sudah mengerjakan? Angkat tangan," tegasnya.
Megawati kemudian menjelaskan filosofi Marhaenisme yang ia pelajari langsung dari Bung Karno. Marhaen, katanya, adalah nama seorang petani di Bandung yang memiliki sawah, padi, dan alat produksi sendiri, tetapi tidak mampu berbagi karena hidup pas-pasan.
"Marhaen itu nama petani. Bukan komunis. Komunis itu yang diagungkan buruh pabrik. Buruh itu masih punya bos, gampangnya begitu. Petani tidak pernah di-PHK. Maka kalau kamu mau menghidupi rakyatmu, kamu harus membesarkan kehidupan petani,” jelasnya
Ia mengingatkan bahwa jika rakyat kesulitan membeli makanan, potensi kerusuhan sosial akan muncul. Ini merupakan sebuah pesan yang ia terima langsung dari Bung Karno semasa kecil.
“Bapak saya bilang, kalau rakyat tidak bisa makan, itu bisa terjadi kekurangan lalu kerusuhan. Artinya nomor satu untuk rakyat adalah makanan. Makanya saya tadi nanya harga sudah naik apa belum,” pungkas Megawati.





