Bisnis.com, MAKASSAR — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) atau BRI Regional Office (RO) Makassar menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp4,82 triliun sepanjang Januari–April 2026. Mayoritas pembiayaan tersebut mengalir ke sektor produktif, terutama pertanian.
Wilayah kerja BRI RO Makassar mencakup Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.
Regional CEO BRI Regional 15 Makassar Argo Prabowo mengatakan sebanyak 56,08% dari total penyaluran KUR selama empat bulan pertama tahun ini disalurkan ke sektor produksi. Sementara itu, sisanya mengalir ke sektor nonproduksi.
Sektor pertanian menjadi penerima KUR terbesar dengan nilai penyaluran mencapai Rp2,39 triliun atau setara 49,6% dari total realisasi. Selanjutnya, sektor perikanan menyerap Rp165,18 miliar atau 3,42%, sedangkan industri pengolahan menerima Rp147,69 miliar atau 3,06%.
"KUR ke pertanian masih mendominasi karena kita tahu sektor ini memegang peran penting dalam perekonomian wilayah timur, utamanya Sulawesi Selatan yang menjadi salah satu lumbung pangan nasional. BRI berkomitmen mendukung penyaluran KUR ke sektor unggulan demi mendorong ekonomi daerah," ujar Argo kepada Bisnis, Senin (15/6/2026).
Di sektor nonproduksi, perdagangan menjadi kontributor terbesar dengan penyaluran mencapai Rp1,17 triliun atau 24,39% dari total portofolio KUR BRI hingga April 2026. Adapun sektor jasa menyerap pembiayaan sebesar Rp942,12 miliar atau setara 19,53%.
Baca Juga
- Terjawab, Ini Penyebab Antrean Truk Mengular di Sejumlah SPBU Sulsel
- Zero ODOL 2027, Jalan Tol Makassar Mulai Batasi Truk Kelebihan Muatan
- Pembelian Listrik SPKLU di Wilayah Parepare Melonjak 2 Kali Lipat, PLN Bakal Tambah Unit
Dari sisi segmentasi, KUR Mikro masih mendominasi penyaluran dengan nilai Rp4,38 triliun atau sekitar 91% dari total realisasi. Sementara itu, KUR Kecil tercatat sebesar Rp439 miliar atau sekitar 9%.
Regional Mikro Banking Head BRI Regional 15 Makassar Iwan Suprianto mengatakan sebagian besar penyaluran KUR berada pada rentang plafon kredit Rp25 juta hingga Rp50 juta.
Menurutnya, segmen tersebut umumnya digunakan pelaku usaha untuk memperkuat modal kerja dan berpotensi mendorong penambahan tenaga kerja.
"Meskipun belum ada data absolut mengenai jumlah pasti penyerapan tenaga kerja, proyeksi matematis berdasarkan rasio pertumbuhan debitur menunjukkan angka yang sangat positif, mencapai di kisaran hingga ribuan orang," pungkas Iwan.





