MEREKA memang tergilas panser Jerman 1-7 di pertandingan perdananya pada ajang sepak bola Piala Dunia 2026. Skor terbanyak sejak bergulirnya Piala Dunia 2026 ini.
Tetapi tim Curacao sempat mengejutkan karena mampu membalas dan menyamakan skor 1-1. Seperti prediksi banyak pengamat, Der Panzer masih terlalu kokoh untuk didobrak Curacao, yang baru pertama kali lolos putaran final Piala Dunia FIFA.
"Dushi" Curacao. Artinya manis Curacao. Dalam bahasa lokal, Papiamentu, kata "dushi" memiliki banyak arti positif seperti "manis," "bagus," atau "enak," dan mencerminkan suasana santai di negara pulau ini.
Atau dushi juga dapat mencerminkan cita rasa minuman keras Blue Curaçao yang ikonik, terbuat dari kulit jeruk Laraha kering.
Umumnya penduduk lokal menggunakan bahasa Papiamentu, Belanda, Inggris, dan Spanyol.
Dushi Curaçao adalah sebuah film komedi-romantis yang direncanakan tayang di bioskop, menceritakan kisah perjalanan penemuan jati diri seorang wanita di pulau tersebut.
Blue Wave, ombak biru dipilih sebagai julukan tim nasional sepakbolanya. Boleh jadi menggambarkan indahnya pantai dan laut di negeri pariwisata itu. Curacao memiliki perairan biru jernih di pantai kelas dunia seperti Pantai Kenepa (Grote Knip) dan Cas Abao.
Di Piala Dunia 2026 inilah mereka mengukir sejarah, mencetak gol pertama dalam sejarah putaran final Piala Dunia. Seiring dengan sejarah sepakbolanya, yang pertama kali ikut putaran final Piala Dunia.
Cerita tentang Curacao memang istimewa. Penduduknya saja paling banyak 185 ribu jiwa. Bahkan ada yang menyebutkan cuma 155 ribu. Hanya satu kabupaten di Indonesia.
Luas wilayahnya cuma sekitar 444 kilometer persegi. Kira-kira satu provindi di Indonesia.
Dalam dua hal ini juga membuat catatan sejarah, negara peserta piala dunia dengan populasi penduduk dan luas wilayah terkecil yang pernah lolos ke putaran final Piala Dunia.
Curacao merupakan negara pulau otonom di Karibia bagian selatan, bagian dari Kerajaan Belanda. Terkenal dengan arsitektur kolonial Eropa yang penuh warna di ibu kotanya, Willemstad (Situs Warisan Dunia UNESCO).
Pulau ini menawarkan perpaduan budaya Karibia, Amerika Latin, dan Belanda. Berlokasi di lepas pantai utara Venezuela, Curacao berada di luar jalur badai utama Karibia, menjadikannya destinasi yang aman untuk dikunjungi sepanjang tahun.
Di bawah arahan pelatih berpengalaman asal Belanda, Dick Advocaat, mereka berhasil lolos ke Piala Dunia FIFA untuk pertama kalinya. Skuad mereka banyak diisi oleh pemain keturunan yang berbasis di Eropa (terutama Belanda) seperti Leandro Bacuna, Juninho Bacuna, dan Tahith Chong. Juga Livano Comenencia yang mencetak sejarah gol perdana piala dunia pada menit ke-21 melawan Jerman.
Sebagai penerus Netherlands Antilles dalam kompetisi internasional, Curacao pertama kali tampil dalam kualifikasi Piala Dunia FIFA untuk Brasil 2014.
Dengan banyak pemain mereka berbasis di Belanda namun memiliki garis keturunan dari pulau Karibia selatan tersebut, Curacao dengan cepat menjadi kekuatan baru di kawasan Concacaf, memenangkan laga kualifikasi Piala Dunia pertama mereka melawan Kuba pada Juni 2015.
Kemudian perjalanan hingga perempat final Piala Emas 2019, menjadi penanda keberhasilan lebih lanjut. Demikian pula perjalanan hingga babak penultimate kualifikasi untuk Qatar 2022 ketika Blue Wave tersingkir tipis oleh Panama dengan agregat 2-1.
Dengan para tuan rumah 2026 – Kanada, Meksiko dan Amerika Serikat – tidak masuk dalam jalur kualifikasi kali ini, jalan menuju ajang akbar global terbuka lebar.
Curacao memaksimalkannya, dengan pemain-pemain muda seperti Livano Comenencia dan Tahith Chong tampil gemilang pada momen-momen krusial untuk menghadirkan kelolosan Piala Dunia yang menggema di seluruh Karibia dan kawasan Concacaf.
Selama bertahun-tahun, Curacao dibimbing oleh Remko Bicentini, sosok yang memberikan debut bagi mayoritas anggota skuad saat ini dan memimpin mereka meraih kemenangan pertama di Piala Emas dan kualifikasi Piala Dunia.
Namun kesempatan datang pada Januari 2024 untuk menghadirkan jasa seorang pelatih berpengalaman Piala Dunia dengan merekrut pelatih asal Belanda, Dick Advocaat.
Sosok yang membantu Belanda mencapai perempat final pada USA 1994 dan memimpin Korea Selatan di Jerman 2006 itu, Advocaat yang kini berusia 78 tahun menjadi pelatih kepala tertua yang pernah tampil di Piala Dunia.
Ia akan melampaui rekor Otto Rehhagel, yang berusia 71 tahun 317 hari ketika berada di pinggir lapangan untuk Yunani pada laga terakhir fase grup melawan Argentina di Afrika Selatan 2010.
Advocaat membawa sentuhan emas, karena skuad asuhannya mengumpulkan 28 gol luar biasa dalam sepuluh pertandingan kualifikasi — yang terbanyak di antara semua tim Concacaf — sementara hanya kebobolan tiga gol dalam enam laga pada putaran final.
Dengan pengalaman panjangnya, Advocaat pasti sadar, putaran final piala dunia memang keras.
Begitulah pula perjalanan Blue Wave, seperti juga Dushi Curacao, judul sebuah film komedi-romantis yang menceritakan kisah perjalanan penemuan jati diri seorang wanita di pulau tetsebut.
(AS, dikutip dari web FIFA san sumber lain).




